Monika Jufry, Gaya Klasik dalam Keriuhan Kontemporer

Lifestyle | Kamis, 6 April 2017 18:48
Monika Jufry, Gaya Klasik dalam Keriuhan Kontemporer

Reporter : Ratih Wulan

"Jangan sampai kecemasan menjadikan kita pesimistis. Ini tantangan yang harus dihadapi dan rezeki itu sudah diatur sama Allah. Jadi jangan terlalu stres."

Dream - Nama Monika Jufry sulit dilepaskan dari dunia fashion Tanah Air. Kehadirannya mampu menjadi magnet bagi bergairahnya fashion Muslim. Melalui brand yang dia hadirkan di tahun 2000, Sessa, Monika menjelma menjadi desain fashion Muslim terkemuka Indonesia. Bahkan, rancangannya pernah digunakan oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, istri Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengalaman Monika terasah sejak dini. Dari sang bunda, Monika belajar desain fashion. Dia pun tercatat sebagai salah satu lulusan Sekolah Mode Susan Budiharjo. Monika pun terjun dengan memilih spesialisasi fashion Muslim. Dia juga merupakan salah satu desainer anggota Indonesia Fashion Chamber (IFC)

Akhir pekan ini, IFC kembali menggelar ajang Muslim Fashion Festival (Muffest). Tahun ini, gelaran tersebut memasuki kali kedua. Monika pun tak mau ketinggalan gelaran ini. Dia akan terlibat dengan menampilkan koleksi Sessa berciri klasik.

Lalu, bagaimana persiapan Monika jelang Muffest? Monika sempat berbagi cerita dengan Ratih Wulan Pinandu dari Dream.co.id.

Apa persiapan jelang Muslim Fashion Festival (Muffest)?

Aku akan membawa brand 'Sessa' sebanyak 15 looks. Untuk temanya itu poetry of art yang terinspirasi dari alam. Dari bentuk-bentuk yang ada di alam. Ada daun sebagai simbol dari alam, lekukan-lekukan tanah sebagai bentuk alami bumi. 

Terinpirasi alam, apakah akan menonjolkan permainan warna?

Dari awal berkarya memang menyukai warna alam dan kebetulan tren untuk tahun ini warna alam lebih menonjol. Tanpa disangka-sangka juga ada beberapa desainer yang mengambil warna itu.

Sebenarnya apa saja kategori warna-warna alam?

Sebenarnya luas sekali, ya. Tapi kalau untuk koleksi ini saya pakai abu-abu, hijau mint tapi lebih lembut lagi. Lalu ada warna cokelat, namun lebih ke moka, yang lebih lembut.

Bagaimana dengan siluetnya?

Tetap simpel elegan yang menjadi ciri khas saya seperti gamis, abaya, cape, palazzo dan blouse. Lebih banyak bermain detail seperti ornamen-ornamen. kKarena kalau busana muslim memang agak terbatas untuk cuttingannya ya.

Detail seperti apa yang ingin ditonjolkan?

Konsepnya Sessa kan memang ready to wear deluxe. Bordir sudah jelas, pasti ada. Lalu ada cutting bahan-bahan semi kulit yang dibuat menjadi ornamen unik.

Apa beda koleksi yang ditampilkan pada Muffest kali ini dengan tahun lalu?

Kalau untuk tahun lalu lebih kasual. Masih pakai bahan kulit. Tapi kalau tahun ini lebih romantic.

 Monika Jufry© Dream.co.id

Berarti sangat mempengaruhi pemilihan bahan?

Iya, tahun ini banyak pakai silk organza, tulle, satin, shifon, pokoknya yang ringan-ringan. 

Demografi market Sessa sendiri seperti apa?

Wanita dewasa yang biasanya berbadan besar dan mengharapkan baju yang dapat terlihat loose. Dari kalangan middle up karena range harga mulai dari Rp500 ribu sampai di atas Rp1 juta. Penjualan memang lebih fokus untuk offline karena dengan harga segitu biasanya orang pingin nyentuh dulu baru percaya.

Jika digambarkan, siapa saja orang yang memakai baju Sessa?

Wanita dewasa yang menyukai gaya klasik, tidak kontemporer.

Banyak hijaber mencari pakaian panjang bukan busana Muslim. Tetapi, Anda bertahan di desain klasik sebagai signature style. Tidak takut ketinggalan?

Insya Allah nggak ya. Karena keseharian mereka nggak suka busana yang terlalu berani seperti gaya kontemporer. Begitu pula dari sisi harga yang cenderung mahal. Maka mereka akan cenderung memilih potongan yang klasik, yang abadi, dengan harga yang lebih berani daripada mengikuti tren sesaat. Sayang kan kalau habis itu tidak sesuai dipakai. Malah pelanggan saya ada yang beli baju dari 10 tahun lalu katanya masih up to date. Cuttingnya itu lebih basic, jadi long lasting.

2 dari 3 halaman

Rencana di Muffest

Koleksi Muffest ini dipersiapkan untuk Ramadan?

Di Muffest ini memang akan ada beberapa yang menjadi bagian dari koleksi Ramadan. Beberapa juga sudah bisa didapatkan setelah show. Memang Muffest kan penyelenggarannya berdekatan dengan bulan Ramadan. Mei nanti sudah puasa. Biasanya koleksi Ramadan lebih cepat di-present 1-2 bulan sebelumnya.

Berbagi panggung dengan empat desainer lainnya, kesulitan menentukan konsep?

Nggak sih. Karena, insya Allah, kita membawakan konsep masing-masing dan tidak ada yang sama. Sebelum show juga ada grup untuk komunikasi.

Selain founder, apakah member Hijaber Moms Community (HMC) ada yang terlibat di Muffest ini?

Yang Muffest, pertama, kita memang yang mengurusi. Tapi untuk tahun ini kita sudah serahkan sama EO. Jadi, tahun ini beberapa desainer kita berpartisipasi dalam beberapa slot fashion show. Karena kalau Muffest kan memang acaranya Indonesia Fashion Chamber (IFC), yang sudah menjadi organisasi profesional. Sedangkan kalau HMC itu komunitas yang foundernya memberi ide-ide dan membantu sosialiasi Muffest. Ada member seperti EO dan blogger yang kita libatkan.

Apa perbedaan antara Muffest pertama di tahun lalu dengan sekarang?

Pertama itu lokasi ya, yang paling berbeda. Tahun lalu di outdoor. Kalau sekarang pindah di JCC (Jakarta Convention Center) dan untuk yang pertama, kita belum gandeng EO. Baru teman-teman organisasi yang mewujudkannya.

 Monika Jufry© Dream.co.id

Adakah desainer luar negeri yang terlibat dalam Muffest ini?

Ada. Insya Allah dari Turki. Selain ikut fashion show, akan mengisi seminar. Rangkaian Muffest ada bazar, show, talkshow atau seminar tentang fashion.

Mengapa Muffest digelar mendekati Ramadan?

Idealnya dibuat sebelum puasa. Karena kita melihat desainer Muslimnya Indonesia itu banyak. Pengusaha fashion, industrinya juga booming.

 Selama ini kita tidak punya ajang khusus berstandar Fashion Week yang khusus modest dan Muslim. Oleh karena itu, Muffest hadir untuk membantu mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai kiblat busana Muslim dunia. Sehingga ke depannya diharapkan Muffest akan menjadi ajang bergengsi untuk modest fashion.

Di tahun kedua ini, sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan?

Insya Allah, sudah. Karena dari tahun pertama stage, lighting sudah standar Fashion Week. Dari booth juga sudah dipersiapkan dengan matang. Jadi, insya Allah dari tahun ke tahun lebih baik. Semoga gaungnya juga jadi lebih baik di tingkat dunia. Kalau saya tidak salah, nanti akan ada 4 show dalam 1 hari. Jadi, selama 4 hari ada sekitar 16 show.

 

3 dari 3 halaman

Tren Fashion dan Mimpi Indonesia Mendunia

Belakangan, perkembangan busana Muslim tampaknya sepi. Tidak banyak muncul kejutan, terutama dalam desain. Tanggapan?

Kalau busana muslim, saya lihat masih stabil, ya. Bahkan masih mendominasi untuk ajang-ajang Fashion Week. Busana muslim ini masih mendominasi untuk menjadi partisipan.

 Tapi mungkin gini, pertama, ada kaidah-kaidah yang berusaha dipenuhi. Ada tantangan dari desain, dari sisi cutting nggak bisa banyak bermain karena harus loose juga. Nggak bisa fitted body ya. Kalau dari siluet, sekarang kembali ke masing-masing ciri khas desainer tersebut.

Beberapa tahun lalu kan yang booming itu seperti monokrom. Lalu potongannya lebih androgyny, lebih casual, lebih seperti office wear, street style, yang sangat booming di tahun-tahun lalu dan lebih terasa karena pemainnya banyak. Kalau sekarang terseleksi. Jadinya seperti biasa saja. Biasa sih ya, kalau ada tren, maka semua akan bermain di situ. Tapi karena adanya seleksi alam, jadi tidak terasa seperti yang lalu.

Mengenai tren fashion ke depan, katanya makin individualis. Bagaimana menurut Anda?

Saya juga merasa seperti itu, lebih individualis. Makanya kalau ditanya, tren warna tahun depan akan jadi beberapa warna. Tapi, kalau saya lihat, dulu di tahun 2000-an, warna yang pernah menjadi sangat booming itu abu-abu atau silver. Setelah itu, ke sini-sini warna itu menjadi lebih individualis lagi. Balik ke masing-masing orang lagi. Jadi, tidak ada yang menjadi sangat menonjol.

Berarti, tidak bisa diprediksi tren apa yang akan booming saat Ramadan dan Lebaran melalui Muffest?

Tren apa yang akan boomingcutting dan warna itu nggak ya. Tapi lebih ke pemakaian bahan seperti organza yang sepertinya akan mendominasi setahun ke depan. Kalau tulle sepanjang masa masih akan dipakai. Kalau saya pastinya akan mengeluarkan busana yang lebih mewah dari biasanya dan tidak pasaran. Sehingga masih tetap banyak yang cari. Tapi kembali ke look seperti apa yang bisa ditampilkan. Kalau dari saya lebih ke simpel elegan. Jadi, permainan ada di bahan tulle dengan warna lembut. Tapi kalau yang lebih suka kontemporer atau street style atau androgyny, bahan-bahan seperti itu pasti tidak dipakai.

Di 2017 ini, apakah gaung Indonesia menuju pusat fashion Muslim dunia masih kuat?

Alhamdulillah, desainer-desainer Indonesia itu termasuk desainer muda yang sudah banyak ikut fashion show di luar negeri. Jadi, menurut saya itu salah satu langkah memperkenalkan Indonesia ke luar. Kalau kita mau menjadikan Indonesia sebagai pusat inspirasi fashion Muslim dunia, harus banyak ke luar negeri. Karena pengakuan itu nggak datang dari kita sendiri. Jadi semakin ke sini semakin dilihat. Sudah mulai aktif itu penting.

Apa lagi yang perlu dipersiapkan?

Selain manufaktur jadi PR di setiap tahun yang harus kita benahi, ada banyak, terutama dari sisi pemerintah juga. Kita dari desainer harus mempersiapkan diri.

Masih optimistis?

Ya, insya Allah ya, terwujud atau tidak terwujud. Yang penting kita sudah berusaha. Muffest itu salah satu langkah.

Selama ini, Malaysia masih belajar ke desainer modest Indonesia. Tetapi mereka buat gebrakan dengan Asia Islamic Fashion Week (AIFW). Bagaimana?

Karena gini ya. Gairah untuk modest itu bukan dari Indonesia saja. Di mana-mana sudah banyak yang menyelenggarakan. Sudah ada London Modest Fashion Week. Di Amerika sudah ada di Washington DC. Lalu di Malaysia yang saya akui bergerak sangat cepat, oke banget deh. 

Waktu saya ke Istanbul Fashion Week, mereka sudah siap dengan katalog dan itu memang peserta kan dari mana-mana. Ada yang dari Belanda, Amerika, mereka sudah siap dengan brosur. Malaysiam, persiapan event-event yang diselenggarakan di sana sudah bagus banget.

Ini masukan buat kita-kita yang di Indonesia, yang kalau mau mengadakan event internasional harus bergerak cepat. Kalau tidak, ya, kita ketinggalan dengan negara lain. Ini proses belajar untuk optimis daripada tidak bergerak sama sekali. Tapi lihat pergerakan negara tetangga sewot, kan tidak lucu. Jadi kita harus lebih siap lagi. 

 Monika Jufry© Dream.co.id

Faktor lain yang dipersiapkan untuk mempercepat kemajuan kita, selain desainer?

Yang pasti SDM. Dari sisi manusianya sendiri dipersiapkan yang qualified. Kolaborasi dari desainer, EO dan pemerintah itu sangat bagus sekali. Support negara itu sangat penting untuk memudahkan langkah kita-kita ini. Kalau bertiga sudah solid, insya Allah akan mudah.

Adakah kecemasan ketika brand dunia seperti Dolce Gabana atau Uniqlo mendeclare atau masuk ke modest wear?

Persaingan memang makin kuat. Tapi kalau saya sih lebih dijalani. Dilihat karena itu jangan sampai kecemasan menjadikan kita pesimistis. Ini tantangan yang harus dihadapi dan rezeki itu sudah diatur sama Allah. Jadi jangan terlalu stres.

Negara mana saja yang paling cepat mengejar Indonesia?

Dari segi bisnis, yang bukan mayoritas Muslim saja sudah melirik, kaya China dan Thailand. Apalagi Turki yang memang negara besar dan berada di posisi strategis di antara Eropa dan Asia. Jadi pemasaran bisa lebih luas.

Tantangan kita sangat banyak. Tapi saya lihatnya gini, mungkin kita masih bisa lihat peluang untuk kolaborasi.  Nanti yang datang rombongan Turki ini tidak hanya desainer, tapi ada beberapa orang yang ada di dalam Modenesa. Kebetulan saya pernah beberapa kali bertemu dan ngobrol dengan owner-nya dan bertukar pikiran. Kira-kira apa yang dari Indonesia bisa masuk ke sana. Permasalahan utamanya shipping. Karena itu jauh, jadi mahal. Harus ada campur tangan pemerintah.

Tetapi kita akan pelajari produk agar bisa masuk ke sana. Sejauh ini Modenesa masih menjadi e-commerce modest wear dengan standar paling tinggi di dunia.

Sejauh ini seperti apa tanggapan pasar di sana?

Tahun lalu waktu ikut Istanbul Fashion Week, mereka mengakui desain bagus, responnya bagus. Publikasinya bagus. Mereka mengundang blogger, selebgram dan media asing dan memang ulasannya bagus. Kita show sekarang, besok sudah keluar. Bahkan ada yang malamnya sudah ada.

Harapan ke depan seperti apa?

Ingin modest wear Indonesia lebih maju, lebih terbuka. Pemerintah lebih support ke Fashion Muslim untuk go global. Kita juga makin siap menyelenggarakan event bertaraf internasional karena pasar potensial itu ada di Indonesia. Jadi, pintar-pintar menjaga strategi pasar di negara sendiri. 

Join Dream.co.id