Dulu Digendong Demi Kuliah, Ini Kisah Atina Maulia Sang Juragan Vanilla Hijab

Lifestyle | Jumat, 3 Mei 2019 11:15
Dulu Digendong Demi Kuliah, Ini Kisah Atina Maulia Sang Juragan Vanilla Hijab

Reporter : Annisa Mutiara Asharini

Vanilla Hijab dirintis hanya dari modal nol rupiah.

Dream - Menjadi sukses tak harus menunggu sampai tua. Rezeki dapat dijemput di usia berapapun, seperti layaknya wanita berhijab satu ini.

Atina Maulia tak pernah menyangka bisa menjadi juragan dari salah satu online shop hijab dengan followers terbanyak di Indonesia. Mengadu nasib dari brand Vanilla Hijab, Atina kini sudah bisa dibilang mapan di usia yang baru menyentuh 25 tahun.

Ia terjun ke bisnis fashion muslim tanpa bekal apapun. Atina kala itu tak paham sama sekali dengan busana mode. Tak ada kursus maupun sekolah desain.

Perjuangan Atina merintis bisnis Vanilla Hijab dilalui bukan tanpa rintangan. Saat baru merintis usahanya itu, Atina harus dipapah kursi roda karena penyakit autoimmune yang diidapnya. 

" Bahkan untuk ujian di kampus harus digendong sampai ke lantai 7 karena waktu itu belum ada lift," ungkap Atina di acara 3rd Annual Show Vanilla Hijab, Jakarta, Kamis 2 Mei 2019.

 Vanilla Hijab

Tak kuat menghadapi penyakit, Atina terpaksa berhenti kuliah dari salah satu universitas negeri bergengsi di Bandung. Ia bahkan harus rela melepas jurusan teknik perminyakan yang telah didapatkannya mati-matian.

 

2 dari 4 halaman

Tak Tega Lihat Uang Orang Tua Terkuras

Melihat penghasilan orang tua yang semakin menipis demi pengobatannya, Atina bertekad mencari uang sendiri. Setelah sembuh, Atina memutuskan kembali ke bangku kuliah di Jakarta.

Di kota metropolitan ini dia mencoba peruntungannya dengan terjun ke bisnis fashion.

" Aku pilih hijab karena simpel, gak butuh ukuran seperti sepatu atau baju. Demi bayar uang kuliah sendiri karena uang orang tua sudah habis buat pengobatan saya," ujarnya.

Dara kelahiran 27 Agustus 1993 itu memanfaatkan setiap kesempatan kecil. Ia mampu membangun online shop dari modal nol rupiah. Kala itu, Atina rela berkeliling pusat perbelanjaan untuk mencari bahan hijab.

" Ketemu orang-orang baik, mereka bolehin aku foto barang mereka saja atau bahkan dibawa pulang dulu. Baru nanti aku balik ke toko dan beli bahan kalau memang ada yang pesan hijab," tuturnya.

 

 

3 dari 4 halaman

Korban Plagiat

Atina perlahan-lahan merintis bisnis yang digarapnya bersama sang kakak, Intan Fauzia. Perjuangan Atina masih dipenuhi rintangan. Bergelut di bidang fashion membuat mereka berkali-kali menjadi korban plagiarisme.

 Vanilla Hijab

Motif dan cutting yang dikeluarkan seringkali dijiplak oleh pihak tak bertanggung jawab. Kendati demikian, Atina dan Intan tidak ambil pusing menghadapi plagiat.

" Kita open minded saja, hal seperti itu memang tidak bisa dihindari di dunia fashion. Kita gak pernah tahu siapa yang pertamakali menciptakan model busana tertentu. Lebih baik kita fokus di bisnis saja," katanya.

 

4 dari 4 halaman

900 Hijab Ludes untuk Donasi

Berangkat dari mimpi menciptakan busana muslim yang modis dan terjangkau, kini mereka mampu memproduksi ribuan hijab per bulan. Sukses tak membuat mereka lupa akan daratan. Atina dan Intan rutin melakukan kegiatan islami bersama para pelanggan.

" Setiap tahun kita adaka undian umroh dan annual show. Ada juga workshop dan kajian agama rutin, serta program charity. Belum lama ini kita luncurkan hijab yang hasilnya didonasikan untuk pengungsi di Suriah," kata Intan.

 Vanilla Hijab

Sebanyak 9000 hijab ludes terjual untuk membeli 1000 paket bantuan bagi para pengungsi. Intan dan Atina rela meluncur ke Suriah untuk menyandangi umat Muslim yang sedang dilanda musim dingin.

Dalam waktu dekat, mereka akan berkolaborasi dengan lembaga sosial untuk membangun sekolah pertama persembahan Indonesia di Palestina.

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id