Designer Indonesia Pakai Karung Bekas ke New York Fashion Week

Lifestyle | Senin, 16 September 2019 12:33
Designer Indonesia Pakai Karung Bekas ke New York Fashion Week

Reporter : Annisa Mutiara Asharini

Satu lagi karya unik desainer Indonesia di kancah internasional.

Dream - Desainer Maggie Hutauruk Eddy unjuk kebolehan di panggung New York Fashion Week (NYFW) dengan membawa label 2Madison Avenue pada 9 September 2019.

Bertajuk 'Vivify the Block' untuk Spring/Summer Collections 2020, ini merupakan pertunjukan kedua 2Madison Avenue di NYFW setelah sebelumnya manggung di Fall/Winter Collections pada Maret 2019 lalu.

Maggie mengadopsi ingar bingar dan citra gairah mode era 80-an ke dalam 12 koleksi busana pria dan wanita.

 2Madison Avenue

Foto: Moza Wahyu/Dok.2Madison Avenue

Gaya eklektik yang menjadi ciri khas label tersebut dituangkan lewat teknik corak, tabrak warna, gabung tekstur serta memasukkan unsur yang tidak biasa sebagai material busana.

Salah satunya dengan potongan karung tepung ikonik yang dijahitkan di bagian punggung outer berbahan jeans.

 2Madison Avenue

Foto: Instagram @2madison_gallery

" Ini pertama kalinya saya bereksperimen dengan bahan karung bekas. Saya ingin menciptakan gaya era 80-an dengan kombinasi karung tepung 'Cap Segitiga Biru' dengan kain tenun Makassar," tulis Maggie pada unggahan Instagram.

2 dari 6 halaman

Kombinasi Tenun Makassar

Jika jeli, terlihat tenun Makassar yang kaya blok warna dipadukan menjadi bagian busana. Maggie juga menyisipkan karakter wajah seniman populer seperti Andi Warhol dan Jean-Michel Basquiat dengan teknik digital printing.

 2Madison Avenue

Foto: Moza Wahyu/Dok.2Madison Avenue

Busana dirancang ke dalam siluet serba longgar dalam bentuk jaket, celana panjang berpipa besar dan lengan baju berukuran panjang tanpa mengurangi nilai harmonis.

 2Madison Avenue

Foto: Moza Wahyu/Dok.2Madison Avenue

Koleksi Maggie membuat mata penonton tak lepas dari koleksi yang menjadi pembuka peragaan Indonesian Diversity di Spring Studio di panggung utama NYFW SS 2020 pagi itu.

3 dari 6 halaman

Banjir Pujian

Di Instagram, desainer Indonesia itu juga menuai pujian dari sejumlah warganet dan fashion enthusiast.

 2Madison Avenue

Foto: Moza Wahyu/Dok.2Madison Avenue

" I am so proud of you... mempromosikan produk lokal .... salah satu bentuk kecintaan terhadap Negeri ini," ujar @hafsyahnatasyaap

" Sempat lewat diberanda kirain edit eh ternyata beneran kerennn," kata @silv.ap

" Mantab banget...idenya gak habis2," puji @sole69_id

" So damn cool," ucap @rosdioo

4 dari 6 halaman

Dian Pelangi Kembali Berkibar di NYFW, Kini Lebih Bergengsi

Dream - Dian Pelangi turut memeriahkan ajang New York Fashion Week (NYFW) 2019 yang berakhir sepekan lalu. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini Dian berkesempatan tampil pada panggung The Show yang lebih bergengsi.

" Tahun kemarin aku tampilnya di First Stage. Kali ini dibantu Indonesia Fashion Gallery (IFG), aku bisa tampil di The Show yang exposure dan coverage-nya lebih banyak serta lebih bergengsi," ujar Dian di Jakarta, Kamis 21 Februari 2019.

Tak hanya Dian, desainer Indonesia lainnya, Itang Yunasz, juga tampil di panggung The Show. Masing-masing menampilkan 12 koleksi modest fashion. Dian mengangkat tema 'Socialove', sedangkan Itang Yunasz 'Tribal Diversity'.

Menurut Dian, sebelum di New York Fashin Week 2019, mereka juga tampil di de Young Museum, San Fransisco untuk 'Contemporary Muslim Fashions'. Koleksi yang dibawa ke NYFW itu merupakan kelanjutan ajang di San Fransisco.

" Sebelumnya, pameran di San Fransisco sudah merupakan gema yang mendunia di akhir tahun lalu. Lalu, saya harus membuat koleksi dalam waktu dua bulan untuk ditampilkan di NYFW," jelas Itang.

 Itang Yunasz & Dian Pelangi/Cynthia Amanda Male-Dream.co.id

Itang Yunasz & Dian Pelangi (Cynthia Amanda Male/ Dream)

Di show NYFW 2019 tersebut, Dian menampilkan koleksi dengan sentuhan batik abstrak dengan teknik printing. Koleksinya terinspirasi dari aktivitas digital dan media sosial di New York.

" Untuk menggambarkan aktivitas digital mereka, saya menggunakan warna hitam, putih, tapi tetap ada warna shocking pink yang terinspirasi dari Wardah Instaperfect. Lalu, ada unsur tipografi juga yang terinspirasi dari caption Instagram," tutur Dian.

Jika Dian mengangkat motif batik abstrak, Itang membuat koleksi bermotif kain Sumba di atas bahan lace dengan pakaian one piece bergaya boho.

" Gaya boho dan motif khas Sumba sama-sama bersifat etnik. Saya pakai warna merah bata dan ungu gelap di koleksi ini. Potongannya one piece, tapi enggak nerawang, supaya lebih mudah dikenakan dan tidak memakan waktu lama untuk dibuat," ungkapnya.

 Itang Yunasz & Dian Pelangi/Cynthia Amanda Male-Dream.co.id

Itang Yunasz & Dian Pelangi (Cynthia Amanda Male/ Dream)

Dalam menjalankan misi memperkenalkan modest wear lokal ke mata dunia itu, Dian dan Itang didukung brand kecantikan asal Indonesia, Wardah Beauty, dengan dua gaya make up yang berbeda, yaitu 'Jakarta' dan 'New York'.

" Gaya make up 'Jakarta' yang lebih bold, kami pakai untuk koleksi Itang Yunasz. Sedangkan 'New York' yang lebih chic, dipakai untuk koleksi Dian Pelangi," kata Brand Manager Wardah Cosmetics, Shabrina Salsabila.

Dua gaya make up tersebut juga mengikuti tren tampilan mata yang bold dengan eyeliner wing, earthy color, serta tren lipstik coral.

5 dari 6 halaman

Tenun Sutra Garut Siap Melenggang di New York Fashion Week

Dream - 11 Desainer yang tergabung dalam Indonesia Modest Fashion Designer (IMFD) ikut berpartisipasi dalam ajang Asc New York Fashion Week, yang digelar pada 3 September hingga 15 September 2019.

Salah satu desainer yang ikut terlibat adalah Nina Nugroho. Dalam gelaran ini Nina akan membawakan tenun sutra asal Garut dengan tema Emergence.

" Kami ingin menjadi bagian yang turut memunculkan kain tenun sutra Garut ke permukaan dunia. Tidak hanya didesain secara etnik, tapi juga bisa membuat desain busana kerja yang mewah," kata Nina dalam keterangan yang diterima Dream.

 Tenun Garut karya Nina Nugroho

Tenun Garut karya Nina Nugroho (Foto: Koleksi Nina Nugroho)

Nina sengaja memilih kain tenun sutra Garut yang akan dipamerkan dalam ajang ini. Alasannya karena menurut dia, motif sutra Garut sangat khas.

" Saya terinspirasi dari kainnya, tenun sutra Garut kalau dilihat filosofinya mirip dengan proses Nina Nugroho sebagai brand," ucapnya.

 Tenun Garut karya Nina Nugroho

Tenun Garut karya Nina Nugroho (Foto: Koleksi Nina Nugroho)

Nantinya akan ada 12 look yang akan ditampilkan Nina, untuk jenis bahan yang ia gunakan adalah jacguard premium dengan didominasi warna soft gold dan brocade.

Agar terlihat lebih anggun, Nina juga memadupadankan aksesoris.

" Ada swarovski dari ukuran kecil hingga sedang. Dengan bentuk bermacam-macam mulai dari bunga, daun," ungkapnya. (ism)

6 dari 6 halaman

Kain Sulawesi Tenggara Bakal Kejutkan Moskow

Dream - Untuk keempat kalinya, desainer Ferry Sunarto diberi kehormatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui fashion di hadapan pecinta mode Rusia.

Koleksi bertajuk De’Posuo akan ditampilkan secara perdana pada pagelaran tunggal di acara Festival Indonesia Moskow (FIM) 2019. Bertempat di Krasnaya Presnya Park, Moskow, Ferry Sunarto akan merilis 30 looks pada tanggal 4 Agustus 2019.

 Ferry Sunarto

“ Kali ini saya memilih Sulawesi Tenggara karena ragam jenis kainnya banyak, selain itu karya ini saya namakan De’Posuo, yang berasal dari adat istiadat di daerah tersebut,” ujar Ferry Sunarto dalam konferensi persnya, Jakarta, Rabu 3 Juli 2019.

Kali ini Ferry mengangkat kain tradisional Sulawesi Tenggara yang erat kaitannya dengan kecantikan dan tradisi penduduk wanita setempat.

 Ferry Sunarto

Posuo adalah tradisi memingit anak gadis untuk beranjak dewasa yang berlangsung selama 8 hari 8 malam, demi menjaga kesucian gadis tersebut.

Pada malam ke-8, dilakukan ritual dengan tarian yang diiringi oleh tabuhan gendang dan dihadiri oleh pemuka adat. Mereka percaya, jika ada salah satu gendang yang pecah, pertanda bahwa gadis itu tidak suci lagi.

Kepolosan dan keceriaan para gadis Sulawesi Tenggara diinterpretasikan dengan warna cerah seperti butter yellow, mint green, dusty pink dan lavender yang dituangkan dalam paduan kain tenun tangan khas Sulawesi Tenggara.

 Ferry Sunarto

" Saya ciptakan dalam bentuk cutting kebaya ready to wear yang etnik namun tetap shopisticated," pungkasnya.

(ism, Laporan : Alfi Salima Puteri)

Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie
Join Dream.co.id