Indonesia Darurat Sampah, Tips Sederhana Lindungi Bumi ala Andini Effendi

Lifestyle | Jumat, 23 April 2021 19:12
Indonesia Darurat Sampah, Tips Sederhana Lindungi Bumi ala Andini Effendi

Reporter : Dwi Ratih

Yuk lindungi bumi karena bumi adalah tempat kita semua hidup.

Dream – Sampah terus jadi perhatian di Indonesia. Mirisnya, walau sebagian masyarakat masih ada yang kekurangan gizi, namun Indonesia mendapat predikat penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia.

Diketahui, 60 persen sampah yang menumpuk di Bantargebang merupakan sampah sisa makanan atau sampah organik yang didominasi dari sampah rumah tangga.

Hal tersebut membuat Andini Effendi yang merupakan presenter sekaligus Nature Ambassador dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, mengajak masyarakat untuk memulai perubahan lingkungan dari hal sederhana yaitu diri sendiri.

Turut memperingati Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April kemarin, Andini mengatakan Hari Bumi harus dirayakan setiap hari.

“ Karena kita punya satu planet dan kita tinggal di situ. Dan karena ini rumah kita jadi kita melihatnya apapun yang kita lakukan itu pasti ada dampaknya untuk bumi ini,” tutur Andini Effendi pada acara Modena for Earth Kamis, 22 April 2021 kemarin.

2 dari 5 halaman

Masih susah lakukan perubahan

 Hari Bumi/Modena
© Dream.co.id/Yuni Puspita Dewi

Menurut Andini, terdapat beberapa hal yang masih menjadi masalah warga Indonesia untuk memulai melakukan perubahan.

Salah satunya adalah pola pikir yang masih egois, di mana tidak akan melakukan perubahan jika suatu masalah tidak langsung berdampak pada dirinya sendiri.

Padahal, dengan mengurangi kegiatan belanja saja sudah merupakan bentuk peduli untuk lingkungan.

“ Barang yang paling eco friendly adalah barang yang tidak kita beli, karena dengan begitu nggak ada dampaknya dengan lingkungan. Yang coba aku lakuin adalah menjadi pembeli yang bertanggung jawab,” ujar Andini.

Ia menegaskan diskon yang besar merupakan salah satu pemberi dampak lingkungan, di mana pembeli akan lebih konsumtif tanpa memikirkan apakah benar-benar memerlukan barang tersebut, sehingga akhirnya membuat sampah bertambah.

3 dari 5 halaman

Tips lindungi bumi ala Andini

Untuk itu, penting menjadi pembeli yang bertanggung jawab.

Dia menyarankan kepada masyarakat untuk membiasakan diri memilah sampah, mengurangi plastik dengan menggunakan alat makan atau botol minum sendiri, mengurangi kegiatan berbelanja yang tidak terlalu penting.

Juga menghemat listrik dengan cara mematikannya saat siang hari, serta upaya lainnya yang bisa mengurangi pemanasan global dan timbunan sampah.

" Selalu aku bilangnya jangan dibungkus plastik, jangan dibungkus bubble wrap, jangan kebanyakan selotip, saya minim sampah, itu notes (ketika berbelanja)," kata Andini.

Untuk berkontribusi melestarikan bumi, MODENA yang merupakan perusahaan rumah tangga ini mengajak pelanggannya untuk menukar barang bekas layak pakai, dan nantinya akan mendapatkan diskon hingga 50%.

Nantinya barang-barang tersebut akan didonasikan kepada komunitas yang membutuhkan.

Reporter: Yuni Puspita Dewi

4 dari 5 halaman

931 Juta Ton Makanan Berakhir di Tempat Sampah dalam Setahun, Terbuang Sia-Sia!

Dream - Jumlah makanan yang ada di dunia ternyata lebih banyak berakhir dengan membusuk di tempat sampah. Banyak makanan terbuang sia-sia dan akhirnya justru mencemari lingkungan.

Program Lingkungan PBB (UNEP) bersama organisasi mitra, WRAP, merilis Food Waste Index Report 2021. Laporan itu memuat sejumlah temuan terkait lingkungan.

Dalam laporan itu disebutkan sebanyak 931 juta ton makanan terbuang sia-sia sepanjang 2019. Jumlah ini hampir seperlima dari total produksi makanan di dunia.

Artinya, sebanyak 61 persen makanan rumahan tidak dikonsumsi hingga habis. Jumlah ini tidak termasuk bahan makanan yang terbuang akibat proses produksi atau tersimpang di gudang tanpa pernah sampai ke konsumen.

" Kalau kita mau serius menangani perubahan iklim, alam, mengurangi polusi dan sampah, pemerintah, pengusaha, dan warga dunia harus mengambil peran untuk mengurangi sampah makanan," ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, dikutip dari UN News.

5 dari 5 halaman

Meskipun sampah makanan menjadi masalah di hampir kebanyakan negara kaya, laporan ini mendapati fakta serupa terjadi di seluruh negara. Terlebih pada negara-negara miskin.

Studi tersebut menunjukkan rumah tangga menghasilkan limbah makanan hingga 11 persen. Sementara pada layanan makanan dan toko retail menyumbang 5,2 persen sampah.

Ini membawa dampak substansial bagi lingkungan, sosial maupun ekonomi. Sekitar 8-10 persen gas emisi rumah kaca global dihasilkan dari makanan yang tidak terkonsumsi.

" Mengolah kembali sampah makanan akan memangkan emisi gas rumah kaca, memperlambat kerusakan alam di samping karena alih fungsi lahan dan polusi, meningkatkan ketersediaan makanan dan dengan demikian mengurangi kelaparan sekaligus menghemat uang pada saat resesi global," kata Andersen.

Join Dream.co.id