Inspiratif (2): Xia, Guru yang Melacur demi Murid Tercinta

Lifestyle | Senin, 13 Oktober 2014 18:23
Inspiratif (2): Xia, Guru yang Melacur demi Murid Tercinta

Reporter : Eko Huda S

Kegadisannya dirampas walikota. Butuh uang untuk memperbaiki sekolah. Terbunuh setelah diperkosa tiga pengusaha.

Dream - Anak-anak itu berdiri mematung. Mulut terkunci rapat. Kepala mereka menunduk dalam-dalam. Berdoa diam-diam dalam senyap. Hanya sekali dua terdengar hela nafas berat. Juga isak yang tersumbat.

Mereka adalah murid-murid sekolah dasar pada daerah kumuh di pinggiran Provinsi Gansu, China. Bocah-bocah ini tengah berduka. Dalam hening itu, mereka tengah memanjatkan doa untuk Yin Caixia. Guru partikelir itu  ditemukan terbunuh setelah diperkosa.

Xia memang baru mengenal anak-anak itu. Dia bergabung di sekolah miskin itu dengan status sebagai relawan. Guru tanpa bayaran. Meski demikian, dia telah membawa perubahan besar pada murid dan sekolah ini. Menyemai kembali harapan yang nyaris pupus.

Sebelum menjadi pengajar, Xia hanyalah pengangguran. Selepas sekolah menengah atas, dia memilih tetap mengeram di rumah. Sementara, teman-teman sebayanya berbondong ke kota. Menjual diri dan bergelimang harta. Meski berparas jelita, Xia enggan menapak jalan ini. Keenganannya pergi ke kota itulah yang membuat sang ayah geram dan kerap menyiksanya.

Suatu hari, dia mendengar sekolah dasar di lingkungannya kekurangan pengajar. Kabar itu membuatnya sumringah. Ada harapan untuk keluar dari siksa sang ayah, sekaligus cibiran tetangga. Dia memasukkan lamaran. Tanpa tes yang rumit, dia akhirnya diterima.

Hari pertama masuk kelas, Xia membuat para murid terperangah. Paras ayunya memikat hati siswa-siswi itu. Itulah perkenalan manisnya. Kala itu, Xia berpikir akan mudah menyesuaikan diri dengan anak-anak didiknya.

Namun ada yang menyayat hati ketika pandangannya menyapu ke sekeliling sekolah. Kondisi kelas terlihat memprihatinkan. Beberapa jenis tanaman tumbuh subur di sela dinding kelas. Meja terbuat dari batu. Papan tulis dibuat dari tembok yang dicat hitam. Kapur tulis yang dipakai bahkan masih berupa batu gamping.

Belum lama Xia mengajar di sekolah itu, sebuah bencana menghampiri kampung miskin ini. Sebuah badai menerjang apapun yang ditemui. Tak terkecuali sekolah tempat Xia membagi ilmu. Gedung yang seolah sudah segan berdiri itu pun sebagian ambruk. Sebagian atapnya hilang terbawa angin.

Tak ada biaya untuk merenovasi. Sang kepala sekolah berinisiatif menemui walikota untuk minta bantuan. Namun ia selalu pulang dengan tangan hampa. Akhirnya, kepala sekolah memberi tahu Xia bahwa sang walikota hanya mau bertemu guru cantik itu. Dan walikota berjanji akan memberikan dana secara pribadi.

Xia berpikir keras. Bagaimana memenuhi permintaan itu. Pergi ke kota saja tak pernah. Apalagi bertemu walikota. Namun akhirnya dia memutuskan berangkat. Dia pergi menemui walikota dengan berjalan kaki. Jarak sepuluh kilometer lebih dia tempuh dengan cucuran peluh. Hanya satu niatnya: membahagiakan murid-murid.

Tiba di kantor walikota, Xia duduk menunggu di depan ruangan. Sang walikota keluar, mempersilakannya masuk. Mata walikota pun mulai nakal, seolah ingin menelanjangi seluruh tubuh Xia. Keduanya bercakap-cakap sebentar.

Walikota itu segera menghentikan basa-basinya. Dia berkata pada Xia, uang untuk membangun sekolah ada di dalam kamar. Walikota ini menunjukkan bilik itu sambil berkata, “ Kamu harus menuruti perintahku.”

Di dalam kamar itu ada sebuah dipan lebar. Masuklah Xia ke dalam kamar, diikuti walikota. Di atas ranjang itulah pak walikota merenggut kegadisan Xia. Mahkota yang dipertahankan sejak lama itu hilang sudah.

Perasaan Xia sungguh teraduk. Ingin dia tumpahkan segala kemarahan di kamar jahanam itu. Namun terbayang senyum harapan lugu muridnya. Juga bayangan tentang sekolah yang runtuh separuh. Kini uang sudah di tangan. Tak ingin mengecewakan muridnya, dengan tegar dia bendung air matanya.

Setelah kejadian pilu itu, Xia pulang. Tak satu pun yang dia beritahu tentang peristiwa laknat di kamar walikota itu. Keesokan harinya, uang dari walikota bejat itu dibelikan bahan bangunan. Atap yang amblas ditiup topan diganti atap baru.

Di depan kelas, dia mengumumkan bahwa walikota akan memberi bantuan lagi dalam enam bulan ke depan. Namun, sudah sepuluh kali kepala sekolah datang ke walikota, hasilnya selalu nihil. Xia tak bisa berbuat apa-apa. Sebab hanya sang walikota yang tahu apa yang terjadi di antara mereka.

Awal semester, jumlah siswa berkurang drastis. Mereka terpaksa berhenti belajar karena harus membantu orangtua mencari uang. Xia semakin sedih. Dia tahu betul anak-anak itu punya semangat belajar tinggi. Namun kondisi ekonomi keluarga tak mengizinkan mereka bersekolah. Jangankan membeli buku, makan saja susah.

Xia pun mengurung diri dalam kamar. Mematut wajah pada cermin. Dia sadar betapa cantik dirinya. Angannya melayang ke kota, mengenang teman-teman yang pergi melacur. Setelah berpikir lama, ia melihat hal itu sebagai peluang untuk mengumpulkan uang. Itulah cara yang dia anggap mudah untuk mewujudkan mimpi agar anak-anak tetap bersekolah.

Dia berangkat ke kota dengan jalan kaki. Sang ayah yang memang ingin anaknya ke kota, melepas Xia dengan senyum bangga. Namun para murid sedih melihat kepergian guru tersayang mereka.

Di kota, Xia terpaksa hidup di tengah lingkungan penuh hura-hura. Sejak itu, hari-harinya dihabiskan di salon dan berbaring di atas ranjang. Hatinya sepi, beku, tenggelam dalam  hidup yang kelam. Segala aktifitas di pusaran tempat pelacuran itu dijalani tanpa jiwa.

Uang dari jasa pelacuran tak membuat Xia berfoya-foya. Dia tetap berhemat. Menabung uang sepeser demi sepeser untuk dikirim ke sekolah. Sang kepala sekolah yang menerima uang Xia, merahasiakan sumber uang. Saat ditanya warga, dia sebut dari lembaga amal.

Dengan uang kiriman Xia, sekolah berubah drastis. Bulan pertama saja sudah terpasang papan tulis. Berikutnya ada kursi dan meja kayu. Kemudian setiap murid punya buku baru. Mereka diberi dasi dan bersepatu. Bulan ke enam, Xia medatangi sekolah. Dan dia disambut meriah bak pahlawan.

Xia tak peduli berapa banyak air mata sudah dia tumpahkan. Seberapa pilu hidupnya. Hanya satu yang membuatnya kuat: anak-anak itu bisa menimba ilmu dan menggapai mimpi. Semua pengorbanan itu seolah terbayar saat Xia melihat sekolah dan anak-anak itu sudah berubah.

Xia balik ke kota. Secara rutin dia kembali mengirim uang. Sehingga pada bulan ke tujuh sekolah bisa membangun taman bermain. Berikutnya lapangan basket. Lalu para siswa biasa punya pensil, dan bulan ke sepuluh sekolah itu punya bendera yang bisa dikibarkan kapan pun.

Hingga tiba saat itu, Xia diperkenalkan dengan seorang pengusaha asing. Pengusaha ini ingin layanan jasanya semalam dengan membayar 3.000 RMB atau Rp 6 juta. Kala itu, Xia sebenarnya sudah lelah dan enggan memenuhi permintaan ini.

Namun kembali dia teringat murid-murid di sekolah. Dia masih berharap bisa membelikan mereka dua komputer. Tawaran pengusaha itu diterima. Dia bersumpah  ini malam terakhirnya di dunia hitam.

Datanglah Xia ke hotel tempat pengusaha asing itu menginap. Namun ternyata pengusaha itu tak sendiri. Pengusaha itu membawa dua teman. Di hotel itu, Xia menjemput malam nahasnya. Dia diperkosa tiga pengusaha asing itu tanpa ampun. Akhirnya dia meninggal dunia. Saat itu usianya baru 21 tahun.

Kabar kematian Xia membuat murid-murid dan kepala sekolah terhempas ke jurang kesedihan. Di pemakaman, mereka hanya bisa memandangi foto perempuan itu. Di depan para murid kepala sekolah membacakan buku harian Xia.

“ Seorang pelacur, bisa membantu seorang anak yang tidak bersekolah. Menjadi gundik bisa membangun sekolah yang kehilangan harapan,” demikian sepenggal coretan Xia yang dibacakan kepala sekolah.

Bendera sekolah pun dikibarkan setengah tiang. Mimpi dua komputer untuk para murid hanya tinggal impian. Impian terakhir yang dibawa Xia hingga liang lahat. Dan air mata murid-muridnya pun runtuh… (eh)

Smartfren Presents Milenial Males Jadi Miliuner Series Eps 3 - 4G: Gercep - Gila - Gubrak - Go
Join Dream.co.id