Cara Tepat Belajar Buat Anak, Psikolog: Tidak Kaku dan Menyenangkan

Lifestyle | Sabtu, 11 Desember 2021 18:28

Reporter : Amrikh Palupi

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Tak sedikit anak-anak merasa bosan tidak senang dengan pembelajaan jarak jauh.

Dream - Orangtua kerap kesulitan cara mengajari anaknya belajar dengan jarak jauh atau online. Karena tidak semua orangtua paham cara seperti apa agar anaknya bisa termotivasi dan mampu memahami materi yang sedang diajarkan.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Tak sedikit anak-anak merasa bosan tidak senang dengan pembelajaan jarak jauh.

Sebuah survei yang dilakukan oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tahun lalu menunjukkan bahwa sekitar 76,7 persen siswa mengaku tidak senang dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dan 81,8 persen mengaku proses tersebut menekankan pada pemberian tugas, bukan pada diskusi.

Psikolog anak dan remaja dari PION Clinician, Katarina Ira Puspita, dalam hal ini berpendapat bahwa di masa pandemi ini sistem pembelajaran jarak jauh punya struktur yang kurang jelas dibandingkan di kelas formal.

 Zenius Land© Zenius Land

" Tidak semua keluarga punya area belajar khusus, sehingga anak bisa belajar di mana saja dan sulit menghindari distraksi dari lingkungan sekitar. Hal ini akan mempengaruhi fokus dan konsentrasi serta performa belajar anak," tuturnya pada keterangan tertulis diterima Dream, Sabtu 11 Desember 2021.

" Absennya elemen sosial membuat proses belajar menjadi kurang menyenangkan. Anak sulit untuk bertanya langsung jika ada hal yang kurang dipahami, karena tidak semua orangtua bisa mendampingi. Sekolah seringkali jadi identik dengan tugas sehingga anak lebih jenuh dan tidak termotivasi," ujarnya.

Cara Tepat Belajar Buat Anak, Psikolog: Tidak Kaku dan Menyenangkan
Foto : Dok Zenius
2 dari 5 halaman

Langkah Dilakukan

Sadar akan tantangan tersebut, platform edukasi teknologi, Zenius, baru-baru ini menghadirkan wadah baru bagi orang tua dan guru untuk membantu si kecil belajar sambil jelajahi dunia pembelajaran virtual melalui ZeniusLand.

Melalui platform ini, anak-anak usia 7 hingga 12 tahun akan bisa belajar bahasa, matematika, dan bidang lainnya berdasarkan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) secara interaktif dan menyenangkan.

Founder dan Chief Education Officer Zenius, Sabda PS menjelaskan mengapa tim Zenius menekankan pada pengalaman yang ‘fun’ dalam merancang materi yang diberikan.

" Belajar untuk mencapai target orangtua atau sekolah memang tidak salah, namun motivasi eksternal seperti itu akan lekas menguap begitu target tersebut tercapai. Sehingga, dibutuhkan pengalaman yang memicu emosi positif agar materi mudah dipahami selama mungkin," tuturnya.

 

 

3 dari 5 halaman

Beri Motivasi

Katarina mengatakan penting untuk orangtua memberikan semangat serta motivasi belajar untuk anak-anak mereka.

" Orangtua dan guru perlu menciptakan suasana menyenangkan dan membangun emosi positif anak dalam hal belajar. Ini bisa dilakukan dengan memvariasikan kegiatan dalam proses belajar setiap harinya seperti menyelingi penjelasan materi dengan kegiatan," ucap Katarina.

Selain itu, Kartina menyarankan kepada orangtua untuk memberi anak kesempatan untuk memilih pelajarannya agar mereka semakin semangat.

" Upayakan agar anak bisa praktek langsung dengan memberikan project yang memicu kreativitasnya. Penggunaan media interaktif seperti video atau permainan bisa membuat anak lebih senang dan mau terlibat dalam proses pembelajaran," tuturnya.

4 dari 5 halaman

Agar proses belajar dan mengajar tetap menyenangkan, orang tua dan guru bisa memanfaatkan berbagai platform teknologi yang ada.

Menurut penelitian dari Neurosensum Indonesia Februari lalu, 87% anak-anak Indonesia sudah akrab dengan dunia media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun - dan platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah YouTube 78 persen.

Sehingga, Zenius juga meluncurkan web series lucu, menghibur, sekaligus mendidik berjudul “ Cerita Tiga Sekawan” untuk menambah semangat eksplorasi belajar anak .

Sejalan dengan hal tersebut, Sabda mengatakan, Zenius selalu menekankan pentingnya untuk menjadi cerdas, lebih dari sekadar tahu. Cerdas di sini berarti memiliki keterampilan dasar (fundamental skills) yang baik, mulai dari matematika dasar, membaca, dan penalaran ilmiah.

Selain itu, kurikulum rancangan kami juga memiliki misi untuk menumbuhkan kecintaan terhadap belajar dalam diri semua orang sejak dini. Ketika orang sudah memiliki kecintaan belajar sejak kecil, mereka akan memiliki kemampuan untuk menyerap konsep pembelajaran dengan mudah.”

5 dari 5 halaman

Program

ZeniusLand menawarkan konsep belajar yang menarik untuk si kecil, karena materi diberikan melalui permainan dan gambar interaktif. Anak dapat belajar dengan fun, tidak merasa terbebani, dan belajar menjadi lebih efektif. Proses belajar butuh pengulangan, jika cara dan materinya menyenangkan, maka anak akan terus tertarik.

" Dalam bukunya yang berjudul ‘Research-Based Strategies to Ignite Student Learning: Insights from a Neurologist and Classroom Teacher’, Neurolog Judy Willis menunjukkan bagaimana pengalaman menyenangkan meningkatkan kadar dopamin, endorfin, dan oksigen pada otak anak," kata Katarina.

Kadar dopamin yang meningkat akan menambah motivasi dan semangat, kadar endorfin yang meningkat bisa menurunkan tingkat stres, dan kadar oksigen yang meningkat bisa memperlancar kerja otak.

Kemudian pada tahap awal, ZeniusLand telah menghadirkan lebih dari 40 video pembelajaran, lebih dari 200 pertanyaan, dan lebih dari 40 materi pembelajaran interaktif untuk siswa kelas 4-6 SD.

Platform ini telah tersedia di Android, dan akan segera tersedia di iOS. Ke depannya, Zenius juga berencana memperluas jangkauan kurikulum hingga meliputi kelas 1-3 SD.

" Cerdas, Cerah, Asik, adalah visi Zenius, di mana kami ingin merangkai anak-anak Indonesia yang cerdas, memiliki fundamental skill yang baik, cerah, memiliki kerangka dalam berpengetahuan, dan asik, memiliki pemahaman tentang keberagaman pemikiran dan nilai-nilai manusia," tutur Sabda.

Join Dream.co.id