Detik-detik Eksekusi 8 Terpidana Mati: Tolak Penutup Kepala

Jejak | Rabu, 29 April 2015 14:44
Detik-detik Eksekusi 8 Terpidana Mati: Tolak Penutup Kepala

Reporter : Eko Huda S

Tepat sebelum eksekusi, mereka bersama-sama melambungkan doa. Sebelum akhirnya doa itu dihentikan oleh letusan senjata regu tembak.

Dream - Rabu dinihari. 29 April 2015. Delapan terpidana mati berada pada penghujung hidup mereka di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Setelah lewat tengah malam, mereka berhadapan dengan regu tembak pelaksana eksekusi. Tepat sebelum eksekusi, mereka bersama-sama melambungkan doa. Sebelum akhirnya doa itu dihentikan oleh letusan senjata regu tembak.

" Ini mendebarkan. Ini merupakan pertama kali saya menyaksikan sangat bahagia untuk bertemu Tuhan mereka," tutur Karina de Vega, rohaniawan yang mendampingi terpidana mati, sebagaimana dikutip Dream dari Sydney Morning Herald.

Delapan terpidana mati yang dieksekusi itu adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia), Martin Anderson alias Belo (Ghana), Sylvester Obiekwe Nwolise (Nigeria), Rodrigo Gularte (Brasil), Raheem Agbaje Salami Codova (Nigeria), Ukwudily Oyatanze (Nigeria), serta Zaenal Abidin (Indonesia).

Karina menceritakan detil saat-saat terakhir ke delapan terpidana mati itu. Menurut dia, kedelapan terpidana mati itu menolak kain penutup kepala yang ditawarkan oleh eksekutor.

Mereka memilih menghadapi regu tembak tanpa penutup mata itu. Di ujung senapan itu, mereka berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing.

" Mereka berdoa kepada Tuhan mereka," tutur Karina. Dia menambahkan, ke delapan terpidana mati tersebut terus berdoa hingga letusan senjata para eksekutor.

Sementara, kerabat para terpidana tampak tegang. Sekitar 15 menit sebelum tengah malam, mereka menyaksikan mobil yang menjemput para terpidana menuju lokasi eksekusi. Saat itulah kerabat para terpidana memanjatkan doa-doa.

Tak lama kemudian, terdengar letusan keras. Banyak kerabat yang histeris. Mereka kemudian ditenangkan oleh para penasihat spiritual yang mendampingi. Suasana kembali tenang setelah peti-peti jenazah tiba di hadapan kerabat untuk proses identifikasi dan serah terima.

" Semua orang melihat ke depan, tampaknya semua orang menerima nasib mereka," kata Burrows, salah satu penasihat spiritual yang mendampingi kerabat terpidana mati. (Ism) 

2 dari 6 halaman

Alasan Jokowi Tunda Eksekusi Mati Mary Jane

Alasan Jokowi Tunda Eksekusi Mati Mary Jane

 

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengambil ketputusan menunda eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso. Ini lantaran Jokowi menunggu proses hukum terhadap Mary yang saat ini berjalan di Pengadilan Filipina.

" Keputusan menunda hukuman mati Mary Jane Veloso diambil setelah Presiden mendapatkan laporan mengenai proses hukum yang sedang berjalan di Filipina. Sehingga harus dipastikan Mary Jane Veloso mendapatkan keadilan," ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno seperti dikutip dalam laman setkab.go.id, Rabu, 29 April 2015.

Di samping itu, terdapat alasan lain yang juga menjadi pertimbangan pengambilan keputusan tersebut. Menurut Pratikno, ini lantaran Mary dianggap bukan sebagai aktor yang terlibat langsung dalam kasus penyelundupan narkoba, namun hanya sebagai korban.

Tidak hanya itu, Presiden Filipino Benigno Aquino III bahkan sampai menemui langsung Jokowi untuk meminta penundaan eksekusi terhadap salah satu warganya. Di hadapan Jokowi, Benigno mengatakan aktor utama dalam kasus tersebut sudah menyerahkan diri ke kepolisian Filipina.

Selengkapnya... Alasan Jokowi Tunda Eksekusi Mati Mary Jane. (Ism) 

3 dari 6 halaman

Terpidana Mati: Arwah Saya Akan Gentayangan, Balas Dendam!

Terpidana Mati: Arwah Saya Akan Gentayangan, Balas Dendam!

 

Dream - Zainal Abidin terpidana mati kasus narkoba bersumpah akan 'gentayangan' untuk menghantui eksekutor dan seluruh penegak hukum yang bertanggung jawab atas ketidakadilan yang menghancurkan hidupnya.

Zainal adalah satu-satunya warga Indonesia di antara 10 penjahat narkoba yang akan dieksekusi di hadapan regu tembak, bersama dengan terpindana Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

" Saya tidak bisa menerima perlakuan hukum yang tidak adil ini. Untuk orang-orang kecil seperti saya," kata Zainal dalam sebuah surat yang ditulis dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap, pada 5 Maret 2015.

" Jika eksekusi tetap dilakukan, Saya akan menjadi hantu dan membalas dendam, termasuk kepada anak-anak dan istri-istri semua penegak hukum yang terlibat."

Tulisan itu dibawa oleh pengacaranya, Ade Yuliawan yang berkunjung ke Pengadilan Negeri (PN) Palembang, Senin kemarin.

Kasus Zainal, buruh di pabrik perusahaan mebel dengan penghasilan pas-pasan, bermula saat seorang kenalannya, Aldo, tiba di rumahnya pada Desember 2.000 dengan tiga karung beras. 

Selengkapnya... Zainal Abidin: Arwah Saya Akan Gentayangan, Balas Dendam! (Ism) 

4 dari 6 halaman

Media Australia Menulis Pengakuan `Penembak` Terpidana Mati

Media Australia Menulis Pengakuan `Penembak` Terpidana Mati

 

Dream - Salah seorang anggota regu tembak yang akan mengeksekusi 11 terpidana mati, termasuk 2 warga Australia Andrew Chan and Myuran Sukuraman, diberitakan berbagi perasaannya kepada koresponden media Australia, News Corp. Laporan News Corp itu kemudian dikutip oleh sejumlah media di Australia. 

Kepada koresponden News Corp, pria muda itu yang menjadi anggota salah satu kesatuan itu menjelaskan bahwa dia menjadi salah satu penembak yang menembak lima terpidana mati di Nusakambangan pada 18 Januari malam lalu.

Dan kali ini, dia kembali diberi tugas sebagai salah satu anggota regu tembak terpidana mati gelombang kedua, yang tinggal menunggu beberapa hari saja.

Kepada responden News Corp dikutip News.com.au, Rabu 11 Maret 2015, si eksekutor bercerita tentang pengalamannya sebagai salah satu anggota regu tembak terpidana mati di Nusakambangan dan juga tentang perasaannya. 

Selama ini, begitu media itu menulis, dia tidak akan pernah tahu apakah diberi senapan dengan peluru tajam atau hampa. 

Selengkapnya...  Media Australia Menulis Pengakuan `Algojo`. (Ism) 

5 dari 6 halaman

Heboh Polisi 'Selfie' dengan Terpidana Mati Bali Nine

Heboh Polisi 'Selfie' dengan Terpidana Mati Bali Nine

Dream - Foto selfie polisi Indonesia dengan terpidana mati Bali Nine, Andrew Chan and Myuran Sukumaran, menuai kecaman dari warga dan media Australia.

Saat operasi pemindahan Chan dan Sukumaran dari Bali ke Pulau Nusakambangan dengan pesawat pada Rabu kemarin, seorang polisi terlihat sedang selfie dengan Chan.

Dalam foto tersebut, nampak Kepala Kepolisian Denpasar, Komisaris Besar Djoko Hari Utomo, tersenyum menghadap kamera sambil memegang pundak Chan yang terlihat sedih.

Foto selfie itu dianggap sebagai selfie yang tak berperasaan oleh News.com.au, salah satu portal berita Australia, dalam laporannya, Kamis 5 Maret 2015.

Namun dalam keterangannya kepada Fairfax Media, Djoko menyangkal foto tersebut sebagaiselfie yang tak berperasaan.

Djoko mengatakan ia hanya mencoba membesarkan hati Chan dan Sukumaran. Dan ia tidak tahu bahwa foto diambil dan diunggah.

Dua terpidana mati geng penyelundup narkoba asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, telah berada di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah untuk menjalani eksekusi mati.

Kedatangan dua terpidana mati yang dikenal sebagai Bali Nine itu mendapat pengawalan ketat dari kepolisian dan militer Indonesia sejak diberangkatkan dari Bali.

Perkembangan berita dua terpidana mati tersebut mendapat perhatian besar dari warga dan pemerintah Australia.

6 dari 6 halaman

Bandar Narkoba Dieksekusi Mati, Ini Kata MUI

Bandar Narkoba Dieksekusi Mati, Ini Kata MUI

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung keputusan pemerintah menghukum mati para bandar narkotika dan obat-obatan terlarang. Sebab, narkoba memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi masyarakat.

“ Ini adalah salah satu fatwa dari MUI. Mereka harus dihukum yang sangat berat karena dampaknya lebih dahsyat daripada minuman keras,” kata Wakil Ketua MUI, Maruf Amin, sebagaimana dikutip Dream dari laman mui.or.id, Kamis 5 Maret 2015.

Menurut Maruf, MUI telah mengeluarkan Fatwa Nomor 53 Tahun 2014 terkait hukuman bagi produsen, bandar, pengedar, dan penyalahguna narkoba. Fatwa itu berisi tentang haramnya narkoba sehingga perlu diberikan hukuman berat bagi bandar narkoba dibutuhkan untuk mencegah kerusakan masa depan bangsa.

Selengkapnya... Kata MUI Soal Bandar Narkoba Dieksekusi Mati. (Ism) 

 

Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak
Join Dream.co.id