Menunggang Astuti di Tanah Suci

Safar | Kamis, 23 Agustus 2018 09:52
Menunggang Astuti di Tanah Suci

Reporter : Maulana Kautsar

Meski tak unggul secara kecepatan, motor ini mampu berjalan menembus panasnya terik di Mina.

Dream – Astrea Tujuh Tiga atau Astuti mendapat tempat spesial di hati panitia haji Indonesia. Motor yang sebetulnya berseri Honda Supercub 90 itu menjadi moda transportasi untuk mengantar jemaah yang tersesat di perkemahan Mina.

Sejak hari pertama kedatangan jemaah haji Indonesia di Mina, lima motor milik Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi itu hilir mudik mengantar mereka yang tak tahu arah pulang.

“ Hari pertama sekitar dua puluhan lebih untuk mengantar jemaah,’ kata pengemudi Astuti, Rofiq, di Mina, Rabu 23 Agustus 2018.

Sebagai pengemudi, Rofiq tahu motor tua itu tak mampu dibawa laju. Kecepatan maksimalnya hanya sekitar 40 kilometer perjam.

Meski tak unggul secara kecepatan, motor ini mampu berjalan menembus panasnya terik di Mina. Selain itu, motor Astuti juga punya keunggulan irit bahan bakar.

“ Untuk sehari berkeliling paling menghabiskan empat liter,” ujar dia. Bensin itu dipasok dari Kantor Daker Mekah ke Mina.

 

2 dari 2 halaman

Kurang Perawatan

 astuti
© Dream.co.id

Salah satu kekurangan motor ini tentu saja perawatan. Dream menyaksikan salah satu Astuti mogok lantaran kelistrikan yang tak prima.

Astuti di Mina pernah mencapai 11 unit saat 2013. Kini jumlah itu tinggal lima. Meski menyusut, sepeda motor ini menjadi bukti mimpi desainer awal Honda, Jozaburo Minura.

“ Kami (pada tahun 1956) harus membuat sepeda yang kokoh tapi bisa dengan mudah dikendalikan bahkan di jalanan rusak,” ujar Minura.

Laporan jurnalis Dream, Maulana Kautsar, dari Tanah Suci

Join Dream.co.id