Masya Allah! Pohon Soekarno di Arafah Tumbuh Semakin Cepat

Oase | Sabtu, 18 Agustus 2018 13:15
Masya Allah! Pohon Soekarno di Arafah Tumbuh Semakin Cepat
Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin.

Reporter : Maulana Kautsar

Menag Lukman Hakim Syaifuddin sempat melihat pohon-pohon tersebut.

Dream – Pohon mindi, Melia Azedarach, yang dikenal juga sebagai pohon Soekarno tumbuh lebat di Arafah. Pohon itu membantu membuat sejuk suasana di tenda Arafah.

" Alhamdulillah, saya bersyukur pohon-pohon ini pada tahun ini sungguh cepat tumbuh terus tumbuh dan ini semoga membuat kesejukan tersendiri bagi jemaah," kata Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, di Arafah, beberapa waktu lalu.

Selain dibantu ridangnya pohon Soekarno, Lukman mengatakan, para jemaah juga semakin nyaman berada di Arafah karena sistem pendingin ruangan diganti. Tahun ini, sistem pendingin ruangan menggunakan kipas mist fan.

" AC itu memerlukan daya listrik yang besar," ujar dia.

Seperti diketahui, tenda-tenda di Arafah tidak terdapat listrik yang besar. Suplai hanya tersedia melalui mesin genset.

" Sementara di sini tidak ada listrik yang ada menggunakan genset," kata Lukman.

Nantinya, untuk menjaga sirkulasi tetap terjaga, muasassah diminta untuk menyediakan lebih banyak kipas angin. Tenda-tenda akan dibuka sehingga sirkulasi udara menjadi lebih baik.

" Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih baik," ujar dia.

2 dari 4 halaman

Sekilas tentang Pohon Soekarno

Sebutan Pohon Soekarno muncul untuk menghargai inisiasi presiden pertama Indonesia itu ketika mengajukan usulan menanam pohon di Arafah pada 1960-an.

Cerita itu berawal ketika Soekarno yang berhaji melihat kondisi kering padang Arafah. Melalui relasi diplomatik yang baik antara Indonesia dan Arab Saudi, Soekarno mengusulkan ke Raja Arab Saudi Saud bin Abdulaziz al Salad untuk menanam pepohonan.

Dipilihlah pohon mindi. Pohon ini dipercaya mampu bertahan hidup di padang pasir dan mampu memberi keteduhan.

3 dari 4 halaman

Cerita Menag 'Ditemui' Sosok Menyerupai Jemaah Haji yang Ditolongnya

Dream - Ada pengalaman menarik saat Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menjadi petugas haji pada 1991. Kala itu dia menjadi petugas dari kuota ormas untuk Nahdlatul Ulama (NU).   Saat bertugas itulah, Lukman merasakan pengalaman misterius. Kala itu, Lukman bertugas di sektor satu Mekah.   Tugas Lukman bervariasi, mulai menyambut jemaah haji yang tiba hingga memberikan bantuan pada jemaah yang tersesat.   Sekitar Ashar, Lukman sempat bertemu nenek-nenek dari Majene, Sulawesi Barat, yang tersesat. Usai diberikan makan dan minum, nenek tersebut diantarkan Lukman ke tempat tinggalnya.   " Saat itu kondisi Mekah itu banyak konturnya menanjak. Untuk ke hotelnya nenek ini, harus jalan kaki naik begitu. Di tengah jalan, si nenek ini tidak kuat dan ambruk," kata Lukman.   Tapi, saat perjalanan ke pemondokan, nenek tersebut pingsan. Lukman segera menggendongnya dan menginformasikan situasi yang dialaminya ke dokter sektor.

4 dari 4 halaman

Di Sinilah Misteri Itu Terjadi

Setelah ditangani dokter, Lukman berpisah dengan sang nenek. Tetapi, di sinilah misteri itu terjadi.  

Tiba waktu sholat Magrib, Lukman menyempatkan diri sholat di Masjidil Haram. Usai sholat, Lukman mengaku berpapasan dengan sosok nenek dari Majene yang ditolongnya.  

Lukman menggambarkan, wajah si nenek tampak bugar dan bahagia. Karena kondisi Masjidil Haram yang ramai, Lukman dan nenek tersebut hanya berbalas senyum. Tetapi, adegan itu menyisakan rasa penasaran di kepala Lukman.  

" Saya heran juga kok bisa langsung sehat sedemikian cepat. Langsung kuat," ucap dia.  

Esok hari, Lukman bertemu dengan dokter yang memeriksa nenek asal Majene itu. Dia bertanya mengenai kondisi si nenek.  

" Kok bisa nenek tersebut bisa langsung sembuh," ucap dia mengenang.  

Dokter itu membuat jawaban yang mengagetkan. Kata si dokter, nenek asal Majene itu meninggal dunia pada sore hari itu.

 

Join Dream.co.id