WHO: `Baru Dexamenthasone Efektif Obati Pasien Covid-19 Kritis`

Fresh | Senin, 19 Oktober 2020 19:12
WHO: `Baru Dexamenthasone Efektif Obati Pasien Covid-19 Kritis`

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

WHO sudah tak menyarankan obat lain yang efektivitasnya mennyembuhkan pasien Covid-19 bergejala berat diragukan.

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan corticosteroid dexamethasone masih menjadi satu-satunya obat terapi untuk pasien Covid-19 bergejala parah yang menunjukan efektivitas cukup tinggi. Temuan ini diketahui setelah enam bulan program Solidaritas Trial berjalan.

Trial Solidaririty adalah program yang melibatkan 13 ribu peneliti di 30 negara. Dari penelitian sementara, Remdesivir, Hidroksoklorokuin, Ritonavir, dan Interferon dianggap tidak mampu menurunkan angka kematian Covid-19.

Pernyataan resmi itu disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers baru-baru ini.

 

 

2 dari 4 halaman

Minta Hasil Penelitian Dipublikasikan

Dikutip dari laman resminya pada Senin, 19 Oktober 2020, WHO pada Juni lalu menyatakan penghentian pada kelompok penelitian hidroksiklorokuin. Lalu pada Juli, mereka menyatakan bahwa tidak lagi melibatkan pasien untuk menerima kombinasi Lopinavir dan Ritonavir.

" Hasil sementara dari uji coba sekarang menunjukkan bahwa dua obat lain dalam uji coba, remdesivir dan interferon, memiliki sedikit atau tidak berefek dalam mencegah kematian akibat Covid-19 atau mengurangi waktu di rumah sakit," kata Tedros.

Lebih lanjut, Tedros berharap agar hasil lengkap dari penelitian tersebut segera dipublikasikan di jurnal ilmiah terkemuka.

(Sumber: WHO.int)

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 4 halaman

WHO Tak Lagi Sarankan Lockdown untuk Atasi Covid-19, Kenapa?

Dream - Kabar mengejutkan datang dari Badan Kesehetan Dunia (WHO). Salah seorang petinggi organisasi tersebut, Dr David Nabarro, menyerukan para pemimpin dunia agar berhenti melakukan lockdown atau penutupan wilayah demi berjalannya ekonomi.

Nabarro mengatakan, lockdown bukan lagi cara untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Menurutnya, satu-satunya hal yang dicapai lockdown adalah kemiskinan, tanpa mampu menyelamatkan banyak nyawa yang melayang.

"  Lockdown hanya memiliki satu konsekuensi yang tidak boleh Anda remehkan, dan itu membuat orang miskin menjadi semakin miskin," kata Nabarro, dikutip dari Liputan6.com, Senin 12 Oktober 2020.

4 dari 4 halaman

Menurut Nabarro, WHO tidak lagi menganjurkan untuk melakukan lockdown sebagai cara utama pengendalian Covid-19.

" Satu-satunya yang kami yakini bahwa lockdown dapat dibenarkan untuk memberi Anda waktu untuk mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya Anda, melindungi petugas kesehatan yang kelelahan," katanya.

Lockdown, tambah Nabarro, memberikan dampak secara global, bagaimana ekonomi semakin terpuruk, yang miskin turut terpengaruh secara tidak langsung.

" Lihat apa yang terjadi pada petani kecil di seluruh dunia. Lihat apa yang terjadi dengan tingkat kemiskinan. Tampaknya kita mungkin memiliki dua kali lipat kemiskinan di dunia tahun depan. Begitu juga dengan masalah malanutrisi anak," katanya.

Sumber: Liputan6.com

Join Dream.co.id