Penjelasan Dokter Soal Hasil Rapid Test Antigen Positif Dibasahi Air Keran

Fresh | Kamis, 29 Juli 2021 15:36

Reporter : Cynthia Amanda Male

Media sosial dan WhatsApp ramai dengan informasi soal seseorang yang mengetes alat tes antigen yang menunjukan hasil positif setelah dibasahi air keran. Ini penjelasan seorang dokter.

Dream - Kasus penularan virus Covid-19 bukanlah satu-satunya hal yang meningkat di masa pandemi ini. Hoax atau informasi keliru juga banyak bertebaran di grup WhatsApp atau sosial media.

Berita bohong tersebut bisa membuat pembaca yang tak mengecek kembali kebenarannya akan langsung menjadi korban. Efeknya mereka enggan menjalani prosedur kesehatan yang semestinya atau bahkan meningkatkan potensi penularan virus Covid-19.

Salah satu kabar hoaks yang sedang beredar di media sosial dan grup WhatsApp adalah hasil rapid test antigen bisa menjadi positif setelah terkena air keran.

Penjelasan Dokter Soal Hasil Rapid Test Antigen Positif Dibasahi Air Keran
Hasil Rapid Test Antigen Positif. (Source: Shutterstock)
2 dari 11 halaman

Ini Penjelasan Seorang Dokter

Disinformasi tersebut segera dijawab dokter Adam Prabata melalui Instagramnya. "Jawabannya adalah tidak tepat. Kenapa? Karena penggunaan dengan air keran untuk rapid test antigen itu tidak sesuai dengan prosedurnya," jelasnya.

      View this post on Instagram      

A post shared by dr. Adam Prabata (@adamprabata)

Penggunaan tes antigen yang tidak sesuai dengan prosedurnya bisa menyebabkan hasil positif palsu (false positive).

"False positive ini terjadi karena rapid testnya menjadi rusak akibat bersentuhan dengan air keran yang nilai pH nya berbeda denagn buffer yang biasa digunakan untuk sampel tes antigen," sambung Adam di kolom caption.

Dr. Adam meminta warganet untuk terus berhati-hati dengan disinformasi yang sering beredar di media sosial, terutama WhatsApp dan menyebarkan informasi tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

3 dari 11 halaman

Viral Konsumsi Durian Usai Vaksin Menyebabkan Kematian, Cek Faktanya!

Dream - Belakangan beredar kabar di media sosial menyebutkan bahwa seseorang bisa meninggal dunia lantaran memakan durian usai menerima suntikan vaksin.

Dilansir dari World of Buzz, Kamis 24 Juni 2021, Kementerian Kesehatan Malaysian (KKM) menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidaklah benar.

Sebelumnya, beredar di Twitter sebuah cuitan yang memperingatkan publik untuk tidak memakan durian sebelum dan sesudah vaksin.

" Ingatkan kepada keluarga dan teman kalian untuk tidak memakan durian sebelum ataupun sesudah menerima suntikan vaksin. Petugas rumput saya, baru menerima suntikan vaksin. Sehari kemudian ia memakan durian dan meninggal. Kita harus berhati-hati akan hal ini.," tulis salah satu cuitan.

4 dari 11 halaman

Dalam unggahan resmi Twitter Kementerian Kesehatan Malaysia, menyebutkan unggahan tersebut sebagai berita hoaks dan meminta publik untuk segera berhenti membagikan berita tersebut.

" Fake news. Do not spread or share.," tulis unggahan Facebook Kementerian Kesehatan Malaysia.

 

 

5 dari 11 halaman

Viral Ivermectin Obat Covid-19, Cek Faktanya

Dream - PT Indofarma baru saja meluncurkan Ivermectin. Obat ini diklaim dapat digunakan untuk penanganan pasien Covid-19.

Menteri BUMN, Erick Thohir, memperkenalkan obat ini ke publik seiring dengan terbitnya izin edar dari BPOM. Tetapi, dia menekankan obat ini hanya untuk terapi Covid-19.

" Tapi kembali ditekankan ini adalah terapi, bukan obat Covid-19," ujar Erick, dalam Instagramnya @erickthohir.

Erick juga mengingatkan Ivermectin adalah obat keras. Penggunaannya harus dengan pengawasan dokter.

" Jadi, jangan sekali-kali mengkonsumsi obat ini tanpa resep dokter," kata dia.

Ivermectin merupakan obat anti-parasit yang sudah digunakan untuk terapi Covid-19 di sejumlah negara, termasuk India dan Amerika Serikat. Obat ini diklaim dapat membantu upaya pencegahan Covid-19.

" Ini luar biasa, harganya sangat murah," kata dia.

6 dari 11 halaman

Lebih lanjut, Erick mengatakan Ivermectin merupakan salah satu upaya dalam menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengatasi pandemi Covid-19. Selain mendatangkan dari luar negeri, obat-obatan Covid-19 juga diupayakan diproduksi di dalam negeri untuk kemandirian bangsa.

Namun demikian, upaya Pemerintah dan perusahaan BUMN perlu dibantu masyarakat. Kerja sama Pemerintah dan masyarakat dapat mendorong Indonesia keluar dari pandemi.

" Walaupun usaha maksimal sudah dilakukan dalam memerangi pandemi ini, kita harus tetap mengutamakan disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi," kata dia.

      View this post on Instagram      

A post shared by Erick Thohir (@erickthohir)

 

 

7 dari 11 halaman

Deretan Fakta Ivermectin, Obat Terapi Covid-19 yang Dijual Rp7000/Tablet

Dream - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, memperkenalkan Ivermectin, jenis obat yang diklaim dapat digunakan untuk terapi Covid-19. Obat yang nantinya diproduksi BUMN farmasi, PT Indofarma ini telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

" Kami ingin menyampaikan obat Ivermectin, obat antiparasit sudah keluar hari ini, sudah mendapatkan izin BPOM," ujar Erick, dikutip dari Liputan6.com.

Erick mengatakan peluncuran Ivermectin merupakan salah satu upaya BUMN serta Indofarma untuk menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam penyembuhan dari Covid-19. Erick menjamin obat ini akan tersedia dengan harta terjangkau antara Rp5.000 hingga Rp7.000 per tablet.

Dia juga menyampaikan apresiasi atas kemampuan Indofarma memproduksi Ivermectin generik. Nantinya obat ini akan tersedia di pasaran dengan takaran 12 mg dalam botol berisi 20 tablet.

Lebih lanjut, Erick berharap upaya memerangi Covid-19 oleh Pemerintah dan perusahaan BUMN diimbangi dengan perilaku masyarakat yang disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah dan BUMN terus berusaha mendatangkan vaksin dan memproduksi obat.

" Peran dan kesadaran tinggi dari masyarakat dalam memakai masker, menjaga jarak, hindari kerumunan, dan mencuci tangan tetap menjadi kunci utama agar kita bisa selamat dari pandemi yang masih tinggi ini," kata Erick.

8 dari 11 halaman

Masih Tahap Penelitian

BPOM telah mengeluarkan izin edar untuk Ivermectin dengan nomor GKL2120943310A1 yang terbit pada Senin, 21 Juni 2021. Meski sudah diperkenalkan, obat ini masih akan diteliti oleh Badan Pelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit, termasuk RS di bawah Kementerian Pertahanan.

Penelitian ini diperlukan untuk menguji tingkat kemanjuran Ivermectin. Sehingga dapat digunakan sebagai terapi pencegahan maupun pengobatan.

9 dari 11 halaman

Target Produksi 4 Juta/Bulan

Dengan adanya izin edar dari BPOM, Indofarma menargetkan produksi 4 juta tablet Ivermectin tiap bulan.

" Seperti obat-obat untuk penyakit lain yang berpotensi untuk penanganan Covid-19, Ivermectin masih terus diuji untuk penambahan indikasi penggunaan untuk Covid-19," kata Erick.

10 dari 11 halaman

Masuk Kategori Obat Keras

Ivermectin yang terdaftar di Indonesia diberikan dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg berat badan. Pemakaiannya satu tahun sekali dan untuk indikasi kecacingan.

Erick juga menekankan ini adalah obat keras. Sehingga penggunaannya tidak bisa sembarangan dan harus dengan resep dan pengawasan dokter.

" Jadi, jangan sekali-kali mengkonsumsi obat ini tanpa resep dokter," kata Erick.

11 dari 11 halaman

Efek Samping

Obat ini dapat menimbulkan efek samping jika digunakan dalam jangka panjang tanpa resep dokter. Efek samping yang muncul antara lain:

- Nyeri otot atau sendi,
- Ruam kulit,
- Demam,
- Pusing,
- Sembelit,
- Diare,
- Mengantuk, dan
- Sindrom Stevens-Johnson - kelainan langka yang menyerang kulit, selaput lendir, dan mata.

Join Dream.co.id