Studi: Wanita Lahir di Bulan April Risiko Meninggal karena Jantung Lebih Tinggi

Fresh | Jumat, 27 Desember 2019 12:48
Studi: Wanita Lahir di Bulan April Risiko Meninggal karena Jantung Lebih Tinggi

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Apa saja penyebabnya?

Dream - Mati, jodoh, dan rezeki, sudah diatur oleh Allah SWT. Tapi, kita diwajibkan untuk selalu mempelajari apa yang menjadi rahasia Ilahi agar lebih bersyukur atas karunia-Nya.

Dikutip dari Mirror.co.uk, Para peneliti dari Universitas Harvard dalam British Medical Journal (BMJ) menyebut, wanita yang lahir di bulan April berisiko meninggal karena penyakit jantung lebih tinggi.

Penelitian itu dilakukan selama 38 tahun dengan melibatkan 116.199. Para respoden yang terlibat dalam penelitian ini berusia 30 hingga 55 tahun.

Selama 38 tahun itu, tercatat sudah terjadi 8.360 kematian. Sembilan persen responden yang lahir antara Maret hingga Juli meninggal karena penyakit jantung.

Dari rentang bulan tersebut, wanita yang lahir di bulan April memiliki risiko tertinggi yang meninggal karena penyakit jantung.

2 dari 6 halaman

Penyebab Penyakit Jantung

Sementara, wanita yang lahir di bulan November dan Desember memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit mematikan itu.

Sebanyak 8.360 responden yang meninggal dunia itu karena penyakit kardiovaskular. Penyakit itu penyebab gangguan jantung dan pembuluh darah.

Menurut para peneliti, wanita yang lahir di bulan April memiliki risiko terkena penyakit jantung lebih tinggi karena dipengaruhi faktor pasca kelahiran, seperti fluktuasi musiman, ketersediaan nutrisi, suhu iklim, sinar matahari yang tersedia.

(Sumber: Mirror.co.uk)

3 dari 6 halaman

Studi: Orang Ekstrovert Cenderung Lebih Cepat Cairkan Uang Pensiun

Dream - Sebuah riset membuktikan kepribadian seseorang berpengaruh terhadap kecepatan mereka menarik uang pensiun. Khusus dalam hal yang satu ini, kamu yang punya pribadi tertutup (ekstrovert) dan percaya diri cenderung akan cepat mencairkan uang pensiun. p

Tak hanya itu, riset Texas Tech University menyebutkan para pembelanja cepat cenderung orang yang berpikiran terbuka, santai, serta orang-orang yang cemas dan gelisah.

“ Sedikit yang diketahui tentang apa yang memovitasi para pensiunan untuk menarik uang dari portofolio investasi mereka,” kata pemimpin studi, Sarah Asebedo, dikutip dari studyfinds, Selasa 17 Desember 2019.

Kajian yang terbit di jurnal online Psychology and Aging ini menggunakan data dari Studi Kesehatan dan Pensiun pada 2012 dan 2014. Para peneliti mengevaluasi data kepribadian dan psikologi lebih dari 3.600 orang yang berusia 50 tahun lebih dengan rata-rata usia 70 tahun.

Objek yang diteliti dipersempit menjadi kelompok peserta yang telah mencairkan tabungan hari tua dan uang pensiun mereka.

Dari kedua data tersebut, peneliti memasangkan informasi kepribadian dengan kewajiban pajak setiap peserta untuk melacak penarikan dari rekening pensiun individu.

Peserta diberi skor pada lima ciri kepribadian besar yaitu keterbukaan terhadap pengalaman, kesadaran, ekstroversi, kesesuaian dan neurotisme.

Para peneliti juga mempertimbangkan informasi tentang tingkat kontrol yang dirasakan partisipan atas situasi keuangan mereka dan seberapa sering mereka mengalami berbagai emosi positif dan negatif selama 30 hari sebelumnya.

" Kami menemukan bahwa mereka yang memiliki kesadaran, ekstroversi, emosi positif, dan perasaan kontrol yang lebih besar atas keuangan mereka menarik diri dari portofolio pensiun mereka pada tingkat yang lebih rendah daripada mereka yang memiliki keterbukaan, kesesuaian, neurotisme, dan emosi negatif yang lebih besar," kata Sarah.

Penulis studi mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa profesional keuangan perlu memasukkan ciri-ciri kepribadian sebagai bagian dari strategi perencanaan pensiun secara keseluruhan.

Mereka berharap perencana keuangan akan menggunakan informasi dalam penelitian ini untuk membuat rencana pengeluaran pensiun yang lebih dekat dengan kepribadian klien mereka.(Sah)

4 dari 6 halaman

Studi: Pensiun Dini Bisa Cepat Pikun

Dream – Selain masalah emosi dan finansial, ada baiknya kamu mempertimbangkan sejumlah hal sebelum memutuskan pensiun dini. Menurut studi, ternyata pensiun dini bisa mempercepat laju penurunan kognitif yang biasa terjadi pada orang tua.

Dikutip dari studyfinds.org, Minggu 3 November 2019, kajian ini diterbitkan di jurnal ilmia “ IZA Institute of Labor Economics”. Kajian tersebut dilakukan oleh para peneliti di Binghamton University, New York, Amerika Serikat.

Tim peneliti menganalisis skema pensiun New Rural Pension Scheme (NRPS) di China. Analisis ini bertujuan untuk menyelidiki efek pensiun dini dan manfaatnya terhadap kognitif orang dewasa di atas 60 tahun.

 

Studi: Pensiun Dini Bisa Cepat Pikun© Dream

 

Referensi yang digunakan adalah survei yang dilakukan oleh CHARL—sebuah survei nasional representatif dari populasi Tiongkok yang berusia di atas 45 tahun. Survei ini menguji responden tentang kognisi mental, memori episodik, dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.

Tingkat harapan hidup di China terus meningkat selama beberapa dasawarsa terakhir, tapi kesuburan menurun. Dua tren ini menghasilkan populasi lansia besar di Asia yang kemudian mendorong kebutuhan akan program pensiun yang lebih kuat.

5 dari 6 halaman

Begini Hasilnya

Setelah memeriksa data, tim mencatat tren yang jelas. Individu yang menerima tunjangan pensiun mengalami penurunan mental yang jauh lebih cepat daripada teman-temannya yang masih bekerja.

Indikator yang paling menonjol dari penurunan mental di kalangan pensiunan adalah keterlambatan mengingat, suatu sifat yang secara luas dianggap sebagai prediktor demensia yang akurat.

Yang mengejutkan, wanita tampaknya mengalami penurunan mental yang lebih tajam setelah pensiun dini. Secara keseluruhan, hasil mendukung hipotesis bahwa penurunan aktivitas mental mempercepat penurunan kognitif.

“ Individu yang tinggal di daerah yang menerapkan NRPS, punya skor lebih rendah jika dibandingkan dengan yang tidak menerapkan NRPS. Selama hampir 10 tahun sejak penerapannya, program ini menyebabkan penurunan kerja kognitif setinggi hampir seperlima dari standar deviasi pada ukuran memori yang kami kaji,” kata penulis studi sekaligus asisten profesor ekonomi, Plamen Nikolov.

Temuan penelitian ini mirip dengan penelitian sebelumnya yang fokus pada dampak pensiun pada orang tua yang tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa. Jadi, ini bukan tren yang terbatas di Asia.

6 dari 6 halaman

Kognitif Turun Drastis Jika Kurang Lakukan Ini

Pensiun bisa menyebabkan perbaikan positif bagi tubuh, seperti memperbaiki pola tidur, mengurangi stres, dan menekan konsumsi alkohol. Tapi, pensiun yang disertai dengan penurunan kegiatan sosial dan interaksi yang kurang menyeluruh bisa membuat kognitif turun.

“ Keterlibatan dan keterhubungan sosial mungkin menjadi faktor tunggal yang paling kuat untuk kinerja kognitif di usia tua,” kata dia.

Nikolov mengharapkan temuan ini menjadi pertimbangan orang dewasa yang ingin memutuskan pensiun dini. Para peneliti juga berharap para pembuat kebijakan di negara bisa merekomendasikan acara sosial atau toko-toko bagi para pensiunan baru. Wadah ini diperlukan agar bisa mengurangi penurunan interaksi sosial dan pemikiran yang kritis bagi para pensiunan baru.

Join Dream.co.id