8 Tantangan Indonesia Hadapi Wabah Corona Covid-19

Fresh | Jumat, 27 Maret 2020 16:44
8 Tantangan Indonesia Hadapi Wabah Corona Covid-19

Reporter : Reni Novita Sari

Apa alasan yang membuat Indonesia berrisiko menjadi pusat pandemi baru setelah Amerika Serikat?

Dream - Penyebaran virus corona Covid-19 di luar China masih belum menunjukan pelambatan. Jumlah pasien positif corona di Amerika Serikat (AS) bahkan sudah melebihi negara asal munculnya penyakit ini, China.   

Meski dengan jumlah yang sangat kecil dibandingkan AS, jumlah warga terinfeksi virus corona di Indonesia juga masih terus naik. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah warga terpapar terbanyak diikuti Jawa Barat dan Banten.   

Laporan terbaru dari laman berita Reuters, Indonesia's health system on the brink as coronavirus surge looms menyatakan Indonesia juga berisiko menjadi negara dengan jumlah pasien terpapar corona Covid-19 cukup banyak.  

" Kami telah kehilangan kendali, itu telah menyebar di mana-mana. Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kita berada dalam kisaran itu,” ungkap Ascobat Gani, seorang ekonom kesehatan masyarakat.

Namun juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto menegaskan perkiraan tersebut takkan terjadi di Indonesia. " Takkan seperti itu," tegasnya menjawab perbandingan kasus corona Indonesia dengan China dan Italia.

" Yang terpenting saat ini kami meminta warga ..... mereka harus menjaga jarak."

Alasan apa yang dipakai Gani dan ahli lainnya sehingga menilai Indonesia berisiko menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus corona Covid-19 terbanyak di dunia? Berikut penjelasannya.

2 dari 9 halaman

1. Sistem Kesehatan yang Buruk

 Alat pelindung kurang© Ilustrasi foto : liputan6.com

Dari data yang dihimpun Reuters, kekhawatiran tersebut dipicu sistem kesehatan Indonesia masih belum cukup kuat dibandingkan negara lain yang terkena dampak virus ini.

Dengan penduduk lebih dari 260 juta orang, data kementerian kesehatan menunjukan Indonesia hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Artinya hanya 12 tempat tidur per 10.000 orang. Angka ini lebih rendah dari Korea Selatan yang mempunya kapasitas 115 per 10.000 orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2017, WHO juga menemukan Indonesia hanya memiliki empat dokter per 10.000 orang. Italia memiliki 10 kali lebih banyak, berdasarkan per kapita. Korea Selatan memiliki dokter enam kali lebih banyak.

Meskipun hanya ratusan orang yang dirawat di rumah sakit karena coronavirus, dokter mengatakan bahwa sistem kesehatan sudah mulai tegang. Banyak staf kesehatan tidak memiliki peralatan pelindung, seorang dokter harus mengenakan jas hujan karena tidak ada baju yang tersedia.

Kurangnya tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) juga mengkhawatirkan para ahli, terutama karena negara ini memasuki musim puncak demam berdarah, yang menambah permintaan untuk fasilitas. 

Sebuah studi dalam jurnal Critical Care Medicine pada Januari, yang membandingkan tempat perawatan intensif untuk orang dewasa di negara-negara Asia menggunakan data 2017, menemukan Indonesia memiliki 2,7 tempat perawatan kritis per 100.000 orang, di antara yang terendah di wilayah tersebut.

3 dari 9 halaman

2. Respons Pemerintah Dituding Lamban

“ Kemampuan respons kami memiliki batas karena jumlah rumah sakit dan staf tidak sejalan dengan pertumbuhan kasus,” Ungkap Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Alvin Lee, seorang pejabat di kantor Ombudsman negara bagian, yang menyelidiki keluhan tentang badan-badan pemerintah, mengatakan pemerintah " sangat terlambat, tergagap" dalam menanggapi wabah tersebut.

4 dari 9 halaman

3. Angka Kematian Tertinggi di Asia

 corona covid-19© Ilustrasi foto : liputan6.com

Indonesia juga dilaporkan mencatat jumlah 'fatality rate', atau tingkat kematian, tertinggi di Asia Tenggara. Rasio jumlah kematian dengan jumlah kasus yang tercatat di Indonesia sebesar 8,7 persen termasuk yang tertinggi di dunia, bahkan lebih tinggi dari 8,3% di Italia.

Petugas medis mengatakan itu adalah indikator kemungkinan bahwa kasus tidak terdeteksi.

5 dari 9 halaman

4. Pengujian Baru Skala Kecil

WHO mengatakan pengujian massal adalah cara paling efektif untuk mengatasi virus corona. Indonesia hanya menguji 1.898 orang pada hari Jumat, atau sekitar tujuh tes per satu juta orang, dibandingkan dengan lebih dari 5.000 per juta di Korea Selatan dan lebih dari 2.000 per juta di Italia, dua dari negara yang paling parah terkena dampak.

" Tanpa pengujian skala besar, pelacakan kontak dan tindakan karantina, peluang penyebaran virus ini sangat bagus."

6 dari 9 halaman

5. Kasus Tidak Terdeteksi

Sebuah studi permodalan dari Centre for Mathematical Modelling of Infectious Diseases berbasis di London, Inggris yang dirilis pada hari Senin memperkirakan bahwa hanya 2 persen dari warga terinfeksi virus corona di Indonesia yang telah dilaporkan.

Dengan perhitungan tersebut, diperkirakan angka real warga terpapar virus corona mencapai 34.300 kasus, atau lebih banyak dari Iran.

" Indonesia kemungkinan memiliki lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan saat ini," kata Profesor Ian Henderson, direktur Institute for Molecular Bioscience di University of Queensland.

Indonesia melaporkan hanya 1,4 kasus per juta orang, dibandingkan dengan 4 per juta di Thailand, 28 per juta di Malaysia, 219 per juta di Iran dan 679 per juta di Italia.

Angka itu tidak sebanding antara jumlah kasus yang tercatat dengan jumlah kematian di Indonesia sebesar 8,7 persen yang termasuk tertinggi di dunia, bahkan lebih tinggi dari 8,3 persen di Italia.

Petugas medis mengatakan itu adalah indikator kemungkinan bahwa kasus tidak terdeteksi. Kementerian kesehatan mengumumkan hasil status beberapa virus korona pasien hanya setelah kematian mereka.

7 dari 9 halaman

6. Tidak Menerapkan Lockdown

Salah satu yang menjadi perhatian media asal Inggris ini adalah kebijakan lockdown yang belum diterapkan Indonesia.

Media ini membandingkan dengan langkah Malaysia dan Filipina yang telah memberlakukan pembatasan yang ketat atau lockdown untuk mengendalikan virus. 

8 dari 9 halaman

7. Kematian Dokter Ahli yang Banyak

 tenaga medis© Ilustrasi foto : liputan6.com

Sebagai tanda kontrol infeksi yang buruk di rumah sakit dan klinik, delapan dokter dan satu perawat telah meninggal karena virus korona, menurut Asosiasi Dokter Indonesia. Padahal di Italia, di mana ada 6.077 kematian akibat virus korona, hanya 23 dokter yang meninggal.

9 dari 9 halaman

8. Negara Kepulauan yang Luas

 Persebaran Corona© Ilustrasi foto : liputan6.com

Sementara kasus virus corona dan kematian meningkat di sebagian besar Asia Tenggara, Indonesia dengan populasi penduduk 260 juta orang juga harus berhadapan dengan luasnya daratan dan sistem layanan kesehatan yang masih sangat rentan.

Sistem kesehatan Indonesia sangat terdesentralisasi, sehingga sulit bagi pemerintah pusat untuk mengoordinasikan responnya di kepulauan yang luas dengan sekitar 19.000 pulau yang membentang 5.100 km.

 

(Sah, Sumber: Reuters)

 

Join Dream.co.id