Sering Lupa dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Brain Fog

Fresh | Rabu, 18 Agustus 2021 19:48

Reporter : Mutia Nugraheni

Juga kerap merasa kebingungan.

Dream – Brain fog kerap disebut sebagai salah satu efek dari Covid-19 pada pasien yang telah sembuh. Pada beberapa kasus, brain fog dialami mereka yang mengalami gejala long covid.

Sebenarnya, brain fog atau kabut otak bukanlah penyakit atau masalah kesehatan. Istilah tersebut sering dipakai untuk menggambarkan perasaan yang melambat dari sisi mental dan merasa kosong.

“ Ini bukan istilah scientific tapi semakin populer semenjak covid. Saat terkena brain fog kita sulit untuk berpikir dan bekerja, sangat mengganggu kegiatan sehari-hari,” kata dr. Yuda Taruna seorang seorang spesialis syaraf di RS Atmajaya pada Rabu, 18 Agustus 2020 dalam webinar 'Waspada Brain Fog sebagai Efek Jangka Panjang COVID-19'.

Orang yang terkena brain fog biasanya merasa mudah lupa, sulit berkonsentrasi, atau merasa kebingungan. Menurut dr. Yuda hal ini terjadi akibat beberapa kondisi seperti hipertensi, alkohol, obesitas, merokok, depresi, polusi udara, diabetes, dan masih banyak lagi termasuk Covid-19.

Dokter Yuda menjelaskan, penelitian di tahun 2006 menunjukkan hippocampus – pusat memori otak, sangat rentan terhadap virus. Itu sebabnya meski Covid-19 menginfeksi paru-paru, hal ini dapat memberikan dampak gangguan kognitif pada fase akut dan pemulihan.

Biasanya kondisi ini terjadi pada lansia atau penyintas Covid-19. Orang dengan komorbid atau penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas bisa lebih mudah mengalami kemunduran kognitif.

 

Sering Lupa dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Brain Fog
Brain Fog/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Latih Otak untuk Redakan Brain Fog

Jika mengalami brain fog, dokter Yuda menjelaskan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menstimulasi kognitif seseorang, terlebih pada lansia.

1. Lakukan pekerjaan rumah tangga
Kegiatan sederhana di rumah seperti memasak dan belanja bulanan bisa memperbaiki fungsi kognitif. Hal ini terbukti dari penelitian di tahun 2017 yang melibatkan 65 wanita berusia 60 tahun di Kalianyar, Jakarta Barat.

2. Mengasuh cucu
Pengasuhan cucu bisa bermanfaat bila memperhatikan kualitas pengasuhannya seperti memberi makan atau bercerita. Kegiatan ini memiliki hubungan bermakna dengan fungsi kognitif global.

Penting juga untuk mencegah brain fog dengan memperbanyak kegiatan seperti berolahraga, mengikuti aktivitas sosial, memperhatikan diet atau nutrisi makanan serta melakukan pengaturan penyakit (bila memilikinya).

Dalam acara yang sama, Nandhita Octavia selaku Product Management PT Kalbe Farma menambahkan brain fog bisa dicegah dengan mengonsumsi suplemen pelengkap yang mengandung citicoline seperti Brainact Odis.

Tablet cepat larut ini diklaim bisa mempertahankan fungsi otak secara normal, melindungi jaringan otak yang rusak, meningkatkan produksi senyawa otak Acethylcoline, serta membantu memperbaiki membran sel saraf.


Laporan: Elyzabeth Yulivia

3 dari 5 halaman

3 Cara Atasi Stres Ala Psikiater Jiemi Ardian

Dream – Pandemi Covid-19 dan perpanjangan PPKM Level 4 membuat banyak orang lebih rentan mengalami stres. Meski wajar dialami, stres harus segera diatasi jika terlalu sering dan mengubah keseharian.

Hal ini pun mengundang perhatian psikolog, Jiemi Ardian. Ia mengunggah konten di Instagram @jiemiardian seputar cara merespons stres.

" Bukan sekadar mengeluarkan atau melampiaskan," tulisnya.

Konten tersebut bermula dari pertanyaan pengikutnya yang bertanya seputar cara menyalurkan stres. Terutama, di masa sulit dan ingin merasa lebih lega.

Jiemi pun mengungkapkan bahwa ada beberapa cara untuk menghadapi stres. " Karena stres tidak hanya bisa disalurkan" .

4 dari 5 halaman

1. Menahan

 Stres© Shutterstock

Ini merupakan hal yang dilakukan saat kamu berusaha tidak merasakan stres. " Mungkin dengan bersikap biasa saja, atau sembar tersenyum padahal hati menahan beban," jelasnya.

2. Melampiaskan

Sebagian orang yang telah menahan rasa stres, akhirnya melampiaskan isi kepalanya. " Akhirnya ambang batas kita terlampaui dan meledak. Stres jadi lega karena ter lampiaskan, tapi kita jadi merasa bersalah karena meledak," sambung Jiemi.

Menurutnya, banyak orang yang terbiasa menahan stres dan akhirnya 'meledak' atau melampiaskan isi kepala maupun hatinya.

Seseorang bisa memilih menghindari dan menahan stres, atau melampiaskan serta melawannya. " Tanpa sadar kita masuk dalam proses fight and flight sebagai reaksi stres" . Jika reaksi tersebut terjadi tanpa disadari, seseorang bisa kehilangan kendali.

5 dari 5 halaman

3. Stress mediated response

 Stres© Shutterstock

Tidak seperti sebelumnya, cara ini dilakukan dengan mengambil jeda sejenak untuk memilih respon tengah ketika stres datang. Sehingga, kamu bisa mengontrol respons pada stres.

Join Dream.co.id