Reaksi Alergi Parah karena Vaksin Covid-19 Sedang Diteliti

Fresh | Minggu, 11 April 2021 13:15

Reporter : Mutia Nugraheni

Beberapa orang yang mengalami riwayat gangguan sel dan alergi tengah

Dream - Kejadian paska imunisasi (KIPI) kerap muncul setelah vaksin Covid-19 dan merupakan hal wajar. Keluhan yang muncul antara lain sakit kepala, demam, nyeri di bagian suntikan, serta kemerahan.

Bagaimana pada mereka yang memiliki riwayat alergi parah? Uji klinis terbaru akan menyelidiki apakah mereka yang sangat alergi atau memiliki apa yang dikenal sebagai gangguan sel mast memiliki risiko lebih tinggi untuk reaksi alergi mendadak terhadap vaksin Covid-19 buatan Moderna atau Pfizer.

" Dapat dipahami bahwa publik prihatin dengan laporan reaksi alergi parah yang langka terhadap vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech Covid-19," kata dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS, dikutip dari WebMD.

" Informasi yang dikumpulkan selama uji coba ini akan membantu dokter memberi tahu orang-orang yang sangat alergi atau memiliki kelainan sel mast tentang risiko dan manfaat menerima dua vaksin ini. Namun, bagi kebanyakan orang, manfaat vaksinasi COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya," kata Fauci.

 

Reaksi Alergi Parah karena Vaksin Covid-19 Sedang Diteliti
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Reaksi alergi sistemik terhadap vaksin bisa terjadi di satu atau lebih bagian tubuh yang jauh dari tempat suntikan. Gangguan sel mast disebabkan oleh jenis sel darah putih yang abnormal, terlalu aktif, atau keduanya. Ini menempatkan seseorang pada risiko respons yang mengancam jiwa yang terlihat seperti reaksi alergi.

Para peneliti juga akan melihat mekanisme biologis yang menyebabkan reaksi dan apakah ada cara untuk memprediksi siapa yang paling berisiko. Vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer telah diberikan kepada jutaan orang Amerika Serita. Sebagian besar reaksi parah jarang terjadi pada orang dengan riwayat alergi.

Studi baru ini akan melibatkan 3.400 orang berusia antara 18 dan 69 tahun. Ada 35 pusat penelitian alergi di seluruh Amerika Serikat akan ambil bagian. Secara desain, sekitar 60% peserta penelitian harus memiliki riwayat reaksi alergi yang parah atau telah didiagnosis dengan kelainan sel mast dan sisanya tidak.

Peserta akan menerima suntikan Pfizer atau Moderna, atau plasebo. Para peneliti akan melihat berapa banyak partisipan dalam setiap kelompok yang mengalami reaksi alergi sistemik dalam waktu 90 menit setelah penyuntikan.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 6 halaman

Viral Kabar Vaksin Pfizer Dijual di e-Commerce Malaysia, Ini Faktanya

Dream - Seiring banyak negara yang melakukan embargo, vaksin Covid-19 yang diproduksi beberapa produsen dunia menjadi incaran banyak negara. Kondisi ini membuat banyak negara mendapat alokasi lebih rendah dari yang diharapkan.

Di tengah upaya memerangi wabah Covid-19, beredar informasi vaksin Covid-19 buatan Pfizer telah dijual lewat e-commerce di Malaysia. Informasi tersebut beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp.

 Penjualan vaksin
© Liputan6.com

Informasi penjualan vaksin Covid-19 Pfizer di Malaysia berupa tangkapan layar salah satu e-Commerce yang menampilkan botol bertuliskan " COVID-19Coronavirus Vaccine" dengan latar belakang biru bertuliskan " Pfizer" .

Dalam tangkapan layar tersebut, juga terdapat tulisan " [Malaysia] PFIZER Covid-19 Vaccine" dengan harga 63,88 ringgit.

Lalu, benarkan vaksin Covid-10 Pfizer dijual online di Malaysia?

 

4 dari 6 halaman

Cek Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri informasi vaksin Covid-19 Pfizer dijual online di Malaysia menggunakan Google Search dengan kata kunci 'iklan jualan vaksin covid-19 pfizer malaysia'.

Penelusuran mengarah pada artikel berjudul " Iklan jualan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech secara dalam talian, palsu" yang dimuat situs berita.rtm.gov.my, pada 4 Maret 2021.

Dalam artikel situs berita.rtm.gov.my, Direktur Jenderal Kesehatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah menyatakan, penjualan online iklan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 yang kini menyebar di media sosial adalah palsu.

Lebih lanjuta Noor Hisham menegaskan Divisi Penegakan Farmasi Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) melalui Unit Cyber Forensic bekerja sama dengan otoritas lokal dan internasional, terus memantau situasi terkini dan penjualan vaksin secara online.

 

5 dari 6 halaman

Tidak Dijual di Malaysia

Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul " Iklan jual vaksin palsu" yang dimuat situs kosmo.com.my, pada 4 Maret 2021. Dalam artikel menyebutkan, Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) telah mengkonfirmasi bahwa iklan penjualan online yang melibatkan vaksin Covid-19 Pfizer di media sosial adalah palsu.

Direktur Jenderal Kesehatan, Tan Sri Dr. Noor Hisham Abdullah menegaskan, pihaknya mencatat iklan tersebut dan Divisi Penegakan Farmasi menemukan bahwa iklan tersebut palsu.

“ Divisi melalui Cyber ??Forensic Unit bekerja sama dengan otoritas lokal dan internasional, Interpol terus memantau situasi terkini serta penjualan vaksin Pfizer secara online. Vaksin Covid-19 sudah diberikan melalui registrasi bersyarat sehingga hanya bisa disuplai ke pemerintah dan pihak yang berwenang. Sebab, vaksin ini tidak dijual di negara ini, ”ujarnya.

Hal tersebut diungkapkan Noor Hisham ketika ditanya tentang iklan vaksin di media sosial yang diduga menjual vaksin Covid-19 Pfizer dengan harga RM63,88.

 

 

6 dari 6 halaman

Kesimpulan

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, menelusuri informasi vaksin Covid-19 Pfizer dijual online di Malaysia tidak benar.

Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) telah mengkonfirmasi bahwa iklan penjualan online yang melibatkan vaksin Covid-19 Pfizer di media sosial adalah palsu.

Sumber: liputan6.com

Join Dream.co.id