Pentingnya Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Fresh | Senin, 29 Juli 2019 11:46
Pentingnya Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Reporter : Annisa Mutiara Asharini

Hal utama yang dapat wanita lakukan adalah dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Dream - Salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh wanita adalah kanker payudara. Selain karena rasa sakit dan bahaya kematian, kanker payudara beresiko menghilangkan atau mengubah bentuk payudara itu sendiri.

" Berdasarkan data statistik yang kami punya, usia anggota kami semakin muda dalam beberapa tahun terakhir, hal ini menandakan kanker payudara bukan lagi penyakit untuk perempuan usia matang," ujar Madelina Mutia, Founder Lovepink, di acara AIA Centennial Ambassador, Senayan, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu. 

 Lovepink© Foto: Alfi Salima Puteri

Biasanya pasien kanker payudara yang datang ke dokter sudah berada pada stadium lanjut. Kurangnya pemahaman masyarakat menjadi salah satu penyebab masalah tersebut.

Hal utama yang dapat wanita lakukan untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini yakni dengan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari). Waktu yang tepat untuk memeriksa yaitu tujuh hari terhitung dari hari menstruasi pertama.

Untuk perempuan yang berusia diatas 40 atau sudah menopause dapat menggunakan alat mamografi. Dengan alat tersebut akan terlihat apakah ada sel-sel ganas di payudara, meskipun belum berbentuk benjolan.

Masih banyak orang yang tidak tahu dan bahkan sudah tahu namuntidak melakukannya. Oleh karena itu, deteksi kanker payudara sejak dini tidak boleh diremehkan.

“ Visi dari Lovepink sendiri ingin membantu pemerintah dalam menekan angka pasien kanker payudara stadium lanjut,” tutup Madelina.

(ism, Laporan : Alfi Salima Puteri)

 

2 dari 5 halaman

Miris, Nenek Pasien ICU Meninggal Karena Tim Medis Dipanggil Foto Bersama

 Miris, Nenek Pasien ICU Meninggal Karena Tim Medis Dipanggil Foto Bersama© Dream

Dream - Seorang dokter di Cina utara tak diizinkan bekerja dan menjalani penyelidikan. Dokter tersebut diduga membiarkan pasiennya yang butuh perawatan medis darurat hingga akhirnya meninggal dunia.

Pasien, Kang Jinlian, 84 tahun, meninggal di Rumah Sakit Wenshui, Provinsi Shanxi, China 15 Juli 2019. Kang sebelumnya dirawat pada pukul 9 malam.

South China Morning Post mengatakan, Kang awalnya menderita mual. Setelah pemeriksaan awal, Kang dipindahkan ke unit perawatan intensif departemen kardiologi.

Menurut Pearvideo.com, cucu Kang, Wu, mengatakan pihak keluarga sempat menunggu Kang saat dokter memeriksa kondisinya. Tapi, mereka terkejut saat semua staf medis tiba-tiba meninggalkan bangsal dan pergi ke ruangan lain di rumah sakit itu. 

Rupanya tim medis itu mendatangi sebuah tempat di mana seorang fotografer tengah mempersiapkan pengambilan foto untuk kebutuhan brosur.

3 dari 5 halaman

Kondisinya Memburuk

Ketika dokter sedang pergi, rasa sakit Kang meningkat dan kondisinya memburuk.

Wu mengatakan, selama 20 menit dia mencari dokter untuk mengecek kondisi neneknya. Kang meninggal keesokan paginya, meskipun tidak merinci apa penyebabnya.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di media sosial pada, otoritas kesehatan di Shanxi menyatakan belasungkawa atas kematian Kang.

Otoritas kesehatan itu menyebut, tidak ada toleransi atas tindakan dokter dari rumah sakit di Wenshui. Otoritas kesehatan akan menyelidiki kasus ini secara mendalam.

4 dari 5 halaman

Di 2020, Kanker Bisa Dideteksi Lewat Urin

Dream - Hingga saat ini, deteksi kanker bukan perkara mudah. Butuh alat canggih agar kanker bisa diketahui sebelum semakin parah menggerogoti tubuh manusia.  

Biaya yang harus dikeluarkan tidak murah. Selain itu, diagnosis kanker hanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis di rumah sakit besar.

Tetapi, hal itu mungkin tidak akan terjadi lagi pada 2020 mendatang. Para ilmuwan di Jepang tengah mengembangkan uji medis pertama di dunia yang bisa mendeteksi kanker menggunakan urin.

Terobosan teknologi dari perusahaan rekayasa Hitachi ini telah dikembangkan selama dua tahun. Diprediksi alat ini baru tersedia pada 2020.

Dikutip dari Next Shark, tim ilmuwan Hitachi bekerja sama dengan Universitas Nagoya menganalisis 250 sampel urin untuk memeriksa bentuk payudara, usus besar, dan bentuk awal kanker. Penelitian yang dilakukan di Jepang bagian tengah itu dimulai bulan ini dan berakhir pada September.

Selama ini, kanker payudara biasanya diketahui melalui mammogram dan kemudian biopsi jika pasien terdeteksi menghadapi penyakit ganas tersebut. Sementara kanker usus ditemukan melalui tes tinja dan kolonoskopi.

Sedangkan metode diagnosis kanker baru ini bekerja dengan mendeteksi bahan limbah dalam urin yang berfungsi sebagai 'biomarker'.

" Jika metode ini digunakan secara praktis, akan jauh lebih mudah bagi orang biasa dalam mendeteksi kanker. Mereka tidak perlu lagi pergi ke laboratorium medis atau dokter," kata perwakilan Hitachi, Chiharu Odaira.

Odaira mengatakan metode ini akan bermanfaat bagi anak-anak kecil yang takut jarum suntik. Dia menambahkan dengan metode ini akan ada lebih banyak nyawa bisa diselamatkan sekaligus meminimalkan biaya medis untuk deteksi dini.

" Kami berharap teknologi ini bisa mulai digunakan pada 2020-an, meskipun semua tergantung pada berbagai hal seperti perizinan dari pihak berwenang," kata Odaira.

Sementara itu, tes darah baru yang dijalankan Hitachi awal tahun ini mampu mendeteksi delapan jenis tumor bahkan sebelum menyebar di tubuh.

(Sumber: NextShark)

(Beq)

5 dari 5 halaman

Sarapan Roti Tiap Hari Picu Kanker Payudara?

Dream - Kita selalu diingatkan untuk memulai hari dengan sarapan sebagai modal beraktivitas. Waktu yang sempit, biasanya membuat kita mengonsumsi makananpraktis seperti roti yang bisa dibawa ke mana pun.

Sampai saat ini pun, roti jadi salah satu menu sarapan favorit yang sangat praktis dan mengenyangkan. Tapi ternyata, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi roti setiap hari sebagai menu sarapan. Hal ini diingatkan oleh seorang pakar gizi Jepang, Hideo Makuuchi.

Menurut penelitian yang dilakukan Hideo, hanya makan roti saat sarapan bisa meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan. Itu karena, ia menemukan bahwa 80% dari pasien kanker payudara yang dirawatnya memiliki kebiasaan hanya makan roti untuk sarapan.

" Jenis roti yang banyak dikonsumsi saat ini mengandung banyak minyak dan gulayang membebani tubuh," kata Hideo seperti dikutip dari World of Buzz.

Menurutnya, kombinasi pati, minyak dan gula dalam roti sangat adiktif dan juga tinggi lemak. Kecanduan ini dapat menyebabkan "  stress eating" , karena tubuh terbiasa dengan makanan berlemak tinggi dan otak terus-menerus mengirimkan sinyal untuk lebih banyak jenis makanan tidak sehat.

" Kondisi itu lama kelamaan bakal menjadi obesitas. Hal ini lah yang bisa meningkatkan faktor risiko kanker payudara secara signifikan," ungkap Hideo.

Ia pun menganjurkan untuk mengubah menu sarapan jadi lebih sehat. Menu telur, buah, dan nasi bisa jadi pilihan. (ism)

Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id