Pada Perokok, Kanker Paru Bisa Muncul 20 Tahun Kemudian

Fresh | Rabu, 26 Agustus 2020 17:36
Pada Perokok, Kanker Paru Bisa Muncul 20 Tahun Kemudian

Reporter : Mutia Nugraheni

Dampaknya jangka panjang, perlahan namun mematikan.

Dream - Sahabat Dream tahu jenis kanker yang sebabkan kematian pria tertinggi di Indonesia? Jawabannya adalah kanker paru-paru. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan merokok.

Jumlah perokok di Indonesia sangat tinggi. Hal ini berdampak siginifikan pada banyaknya kasus kanker paru-paru di Tanah Air yang biasanya baru terdeteksi saat sudah stadium lanjut.

" Prevalensi prokok di Indonesia sangat tinggi, ini berkaitan erat dengan kasus kanker paru-paru yang merupakan penyebab kematian tertnggi di kaum pria di Indonesia," kata dr. Erlang Samoerdo, spesialis paru dalam webinar LungTalk yang digelar Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC), 26 Agustus 2020.

Kanker tak muncul begitu saja saat seseorang baru saja merokok. Menurut dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), kanker paru pada perokok memiliki kecenderungan muncul setelah 20 hingga 30 tahun kemudian.

 

2 dari 7 halaman

Tanpa Gejala

Pada stadium awal, biasanya pasien kanker paru tak memiliki gejala sama sekali. Hal ini karena paru-paru tak memiliki indera perasa. Setelah memasuki tahap lanjut dan menyerang dinding dada baru pasien mengeluhkan nyeri.

" Kalau data di RS Persahabatan di atas 85 persen stadiumnya lanjut karena memang di paru tidak ada indera perasa. Kecuali sudah mengenai dinding dada, di dinding dada baru ada saraf perasa. Baru terasa nyeri dan batuk," kata dr. Sita.

 

3 dari 7 halaman

Lakukan Skrining

Sita mengingatkan untuk melakukan skrining paru-paru, terutama pada perokok secara rutin, seperti yang dilakukan di Amerika Serikat. Skrining dilakukan dengan foto thoraks yang rutin 2 tahun sekali.

Hal yang juga harus selalu diingat adalah menjadi perokok berarti meningkatkan risiko 13,6 kali lipat terserang kanker paru. Dampaknya jangka panjang, perlahan namun mematikan.

 

4 dari 7 halaman

Mengapa Perokok Disebut Lebih Rentan Terpapar Corona?

Dream- Pergerakan angka penderita Virus Corona semakin bertambah. Tercatat hingga Jumat sore 27 Maret 2020 jumlah positif Corona sebanyak 1.046 kasus.

Sedangkan, angka dunia menunjukkan 531.864 kasus di 199 Negara. Dengan jumlah angka yang relatif tinggi itu, berapa persentase angka yang disumbangkan oleh perokok?

Semakin banyak bukti menunjukkan, perokok berisiko lebih tinggi mengalami COVID-19 dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Dilansir dari Forbes.com, satu studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine bulan Februari, mengamati 1.099 pasien di China dengan COVID-19.

Hasilnya, dari 173 pasien yang memiliki gejala parah, 16,9% di antaranya adalah perokok aktif dan 5,2% sebelumnya merokok.

Di antara pasien dengan gejala yang kurang parah, 11,8% adalah perokok saat ini dan 1,3% mantan perokok.

Lebih mengejutkan lagi, penelitian menunjukkan kelompok pasien yang masuk ke unit perawatan intensif akhirnya meninggal, 25,5% adalah perokok saat ini. 

Dilansir dari brusselstimes.com, seorang dokter kesehatan masyarakat di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Komunitas Braun Universitas Hebrew menulis, dalam sebuah penelitian kecil terhadap sekitar 80 pasien korona, mereka yang merokok 14 kali lebih mungkin memiliki penyakit serius.

Di Cina, angka kematian lebih tinggi pria daripada wanita. Salah satu hipotesis adalah bahwa ini juga disebabkan oleh merokok. Sekitar 50 persen pria di Cina merokok, dibandingkan hanya 2% wanita.

Walaupun tidak ada bukti, perokok berisiko lebih tinggi tertular virus corona, penelitian menunjukkan perokok lebih rentan untuk mengalami komplikasi setelah terinfeksi, mengapa hal ini bisa terjadi?

5 dari 7 halaman

1. Merokok Menurunkan Sistem Kekebalan Tubuh

Dikutip dari Hellosehat.com, Merokok membawa dampak buruk pada sistem kekebalan tubuh. Rokok mengandung berbagai zat kimia beracun, satu di antaranya adalah zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker serta karbon monoksida.

Kedua zat itu akan terhirup oleh saluran pernapasan dan kemudian memicu kerusakan organ. 

Akibatnya, organ sistem jantung, pembuluh darah, dan fungsi pernapasan akan menurun. Sehingga, tubuh akan kesulitan melawan bakteri dan virus penyakit yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar. 

Hal ini dikarenakan organ tubuh vital harus mengatasi kerusakan organ dan berusaha melawan racun dari paparan asap rokok. 

Oleh sebab itu, merokok dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi produksi antibodi pada manusia. 

Akibatnya, perokok mungkin memiliki risiko yang cukup tinggi dalam mengembangkan gejala COVID-19 yang lebih parah, seperti pneumonia dibandingkan mereka yang tidak merokok. 

6 dari 7 halaman

2. Merokok Merusak Sistem Pernapasan

stop merokok© Ilustrasi foto : liputan6.com

Dengan atau tidak adanya virus Corona COVID-19 ini, aktivitas merokok dapat menyebabkan penggunanya mengalami kerusakan pada sistem pernapasan.

Jika ditambah dengan terjangkit virus yang juga menyerang pernapasan ini, kecil kemungkinan penderitanya akan sembuh.

Dilansir dari hellosehat.com, memaparkan bukti yang menunjukkan perokok cenderung memiliki risiko terkena dampak yang parah ketika terinfeksi COVID-19.

Asap rokok yang terpapar dalam paru-paru perokok juga menjadi faktor yang menyebabkan kondisi parah tersebut. 

Paru-paru secara alami menghasilkan lendir. Akan tetapi, perokok menghasilkan lendir yang lebih banyak dan lebih tebal, sehingga paru-paru kesulitan membersihkan ledir tersebut. 

Alhasil, lendir dapat menyumbat paru dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri. 

7 dari 7 halaman

3. Dibuktikan dengan Penelitian

Studi dari Chinese Medicine Journal yang dilansir Hellosehat.com mendiagnosis beberapa pasien Tiongkok dengan diagnosis pneumonia terkait COVID-19. 

Aturan Merokok di Singapura, Tindakan Ilegal?© MEN

Hasilnya, perkembangan penyakit hingga menyebabkan kematian terjadi 14 kali lebih tinggi diantara kelompok perokok, dibandingkan mereka yang tidak merokok. 

Maka dari itu, banyak ahli yang menyarankan para perokok untuk menghentikan kebiasaannya. Mengingat risiko mereka lebih tinggi menimbulkan kondisi yang parah jika terinfeksi virus corona COVID-19.

Join Dream.co.id