Naik Turun Tangga 10 Menit Bikin Lebih Berenergi Dibandingkan Minum Kafein

Fresh | Senin, 17 Februari 2020 14:12
Naik Turun Tangga 10 Menit Bikin Lebih Berenergi Dibandingkan Minum Kafein

Reporter : Cynthia Amanda Male

Jadi kamu tetap pilih kopi atau rela naik turun tangga?

Dream - Minuman mengandung kafein kerap jadi rujukan saat tubuh merasa limbung, kurang fokus serta lemas. Saat kurang tidur, kafein yang banyak ditemukan pada kopi jadi pengusir kala kantuk menyerang sehingga membuat tubuh kembali berenergi.

Tapi mengonsumsi kafein berlebihan juga bisa membahayakan kesehatan.

Sebetulnya ada cara lain untuk membuat tubuh tetap berenergi tanpa harus mengonsumsi kafein. Cara ini juga bisa mengembalikan fokus kamu saat sedang beraktivitas.

Mengutip laman Times of India, naik-turun tangga selama 10 menit ternyata bisa membuatmu lebih aktif dan termotivasi.

Temuan ini diperoleh dari hasil penelitian University of Georgia yang membuktikan bahwa orang dewasa yang kurang tidur dan naik-turun tangga selama 10 menit akan merasa lebih berenergi dibandingkan responden yang mengonsumsi 50 miligram kafein atau sekaleng soda.

 ilustrasi naik turun tangga© shutterstock.com

2 dari 6 halaman

Telah teruji

Penelitian ini melibatkan 18 mahasiswi berusia antara 18-23. Peneliti mengambil responden yang mengalami kesulitan tidur.

Responden diuji ingatan, tingkat fokus, reaksi serta motivasi di dua hal yang berbeda. Kelompok pertama diminta minum 50 miligram kopi.

Sedangkan, kelompok kedua naik-turun tangga selama 10 menit dengan kecepatan yang stabil.

 Ilustrasi kopi© shutterstock.com

 

3 dari 6 halaman

Bagaimana dengan hasilnya?

Hasilnya membuktikan bahwa kelompok yang naik-turun tangga lebih termotivasi dan berenergi daripada yang mengonsumsi kafein.

Tapi, kedua kegiatan tersebut tidak memberikan dampak pada memori. Hasil penelitian ini berguna untuk seseorang yang bergantung pada kafein untuk tetap termotivasi dan fokus.

Daripada mengonsumsi kopi, lebih baik beraktivitas di kantor maupun rumah selama 10 menit ketika merasa lesu. Ini juga akan membuatmu lebih aktif dan sehat.

 Ilustrasi hijaber cantik© shutterstock.com

4 dari 6 halaman

Tak Cuma Operasi, Ini Pemicu Jenis Kelamin Berganti Secara Alami

Dream - Jenis kelamin bayi ditentukan dari kromosom seks yang sudah dibawanya sejak masih di dalam kandungan. Embrio dengan kromosom XY akan menjadi seorang bayi lelaki dan kromosom XX akan membentuk bayi perempuan.

Ada kalanya jenis kelamin bisa mengalami perubahan secara alami di kemudian hari. Namun kondisi ini terbilang sangat langka dan biasanya terjadi akibat masalah dalam kromosomnya.

" Ada pasien perempuan cantik yang belum pernah menstruasi padahal payudara normal namun dia hairless. Di ketiak, kemaluan dan kaki tidak ada bulunya...... Kasus seperti ini memang ada di masyarakat," papar Dr. dr. Kanadi Sumapraja, Sp.OG-KEFR, M.Sc di diskusi media RSPI, Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.

 Dr. dr. Kanadi Sumapraja, Sp.OG-KEFR, M.Sc© dream.co.id

Menurut Dr Kanadi, kondisi ini biasa dikenal dengan istilah jenis kelamin yang membingungkan. Pada umumnya kasus ini terjadi saat usia pubertas.

Tanda-tanda pada seorang anak perempuan biasanya terjadi kala tak kunjung mengalami menstruasi saat menginjak usia remaja atau dikenal dengan istilah amenorea primer.

" Kromosom tugasnya menentukan apakah nanti ada indung telur atau testis pada bayi. Nah ini bisa tertukar. Ada laki-laki dengan kromosom XY tapi kelaminnya perempuan. Ada juga prempuan berkromosom XX tapi punya kelamin laki-laki," jelasnya.

5 dari 6 halaman

Terjadi Perubahan Fisik dan Psikis

Saat seseorang mengalami kondis ini akan terjadi perubahan bentuk kelamin seiring dengan pertumbuhan remaja.

Tak hanya dari segi fisik, kondisi ini juga memengaruhi psikologis anak. " Seperti ada gejolak di dalam jiwanya," kata Dr. Kanadi.

 ilustrasi anak perempuan© shutterstock.com

Kejanggalan ini juga identik dengan Sindrom Turner yang menimpa anak perempuan. Sindrom ini menyebabkan hilangnya kromosom X pada perempuan dan ditandai dengan laju pertumbuhan lambat.

" Kita berikan terapi supaya tinggi badannya tidak terlampau pendek dan dipancing untuk timbul menstruasi," tuturnya.

6 dari 6 halaman

Kasusnya Terus Meningkat

Dr. Kanadi menambahkan, angka kejadian remaja yang mengalami kelainan kromosom ini semakin meningkat.

Upaya penanganan seseorang yang mengalami kelainan kromosom juga tak bisa ditangani satu spesial dokter. Dibutuhkan juga dukungan dari dokter psikiater karena pasien membutuhkan dukungan mental.  

 ilustrasi sakit perut© shutterstock.com

" Ini harus hati-hati karena sensitif banget. Kasusnya kompleks tapi diawali dengan gangguan tidak menstruasi pada remaja putri," tuturnya.

Kenali pertumbuhan organ reproduksi

Perempuan pada umumnya menginjak masa pubertas di usia 12-13 tahun. Jika menstruasi tak kunjung muncul, jangan tunda membawanya ke dokter.

Perhatian harus semakin diberikan terutama jika remaja putri tidak memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan organ reproduksi.

" Payudara adalah organ seks sekunder yang mencerminkan hormon estrogen. Tolong bawa ke dokter jangan ditunggu-tunggu jika payudaranya belum berkembang di usia 14 tahun, atau belum mens di usia 15 tahun," tegasnya.

Join Dream.co.id