Mengenal IBD, Penyakit yang Bisa Merenggut Nyawa dan Sering Dikira Radang Usus

Fresh | Rabu, 20 Januari 2021 17:33
Mengenal IBD, Penyakit yang Bisa Merenggut Nyawa dan Sering Dikira Radang Usus

Reporter : Dwi Ratih

Yuk mengenal IBD yang sering dikira penyakit radang usus

Dream – Perhatian sebagian besar masyarakat cenderung terfokus pada penyakit yang mudah menular berasal dari virus Sars-Cov-2 atau COVID-19. Selain tetap waspada pada wabah tersebut, kamu juga harus mewaspadai satu penyakit berbahaya yang bisa merenggut nyawa pengidapnya yaitu Inflammatory Bowel Disease (IBD).

Dalam bahasa awam, IBD dikenal sebagai autoimun pada saluran pencernaan. Penyakit ini bisa mengakibatkan penurunan kualitas hidup, angka morbiditas tinggi, hingga menyebabkan kompilasi yang berakhir kematian.

Kesadaran dan pengetahuan yang minim tentang IBD membuat masyarakat sulit membedakannya dengan radang usus (Irritable Bowel Syndrome/IBS) yang disebabkan infeksi lain. Kedua penyakit ini cukup mirip karena menunjukan gejala utama berupa diare.

IBD bisa terjadi akibat kombinasi kerentanan genetik, paparan lingkungan, dan disregulasi respons imun terhadap microbiota usus. IBD terbagi menjadi dua, yaitu yakni kolitis ulseratif (KU, Ulcerative colitis/UC) dan penyakit Crohn (PC, Crohn’s disease/CD).

Dalam perkembangannya, IBD yang dibiarkan bisa memperparah kondisi pasien akibat komplikasi yang ditimbulkan.

2 dari 7 halaman

Kata ahli

“ IBD adalah penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang,” tutur Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Gastroenterologi Hepatologi RSCM-FKUI Murdani Abdullah pada sosialisasi IBD dalam seminar melalui zoom, Rabu, 20 Januari 2021.

“ IBD yang tidak didiagnosis dengan benar dari awal bisa memunculkan komplikasi-komplikasi dari ringan hingga parah,” tambah Murdani.

Pada Crohn’s disease (CD) gangguan usus bisa terjadi di seluruh bagian usus, lesi yang terlongkap. Sementara pada UC peradangan usus besar (kolon) terjadi pada 1 tempat, mulai dari ujung dubur dan menerus ke bagian dalam.

“ Dapat dilihat bahwa UC hanya ada di kolon sementara CD bisa mengenai seluruh kebahagian dari salur pencernaan kita mulai dari rongga mulut hingga sampai anus,” jelas Murdani.

3 dari 7 halaman

Bagaimana cara mengetahui penyakit IBD ini?

Sulit untuk mengenali penyakit ini dengan cepat, terkadang dokter pemeriksa bisa salah mendiagnosa saat awal, penyakit ini bisa memunculkan gejala yang mengarah pada penyakit lain.

“ Pemeriksaan awal bisa mungkin bisa menunjukan penyakit diare, tuberkolosis atau nyeri perut, periksaan berikut-berikutnya baru ketahuan bahwa ternyata ini IBD,” tutur Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI Rabbinu Rangga Pribadi di kesempatan yang sama.

Untuk memastikan penyakit IBD, Sahabat Dream bisa lakukan pemeriksaan endoskopi secara menyeluruh kemudian pemeriksaan kolonoskopi.

Bagiamana membedakan IBD dan IBS?

IBD dan IBS adalah penyakit yang jauh berbeda, dalam gejala yang muncul sampai penanganannya juga berbeda satu sama lain.

“ IBD dan IBS itu penyakit yang sangat-sangat berbeda, IBD penyakit kronik sedangkan IBS merupakan kelainan organik, artinya ada kelainan yang bisa ditemukan pada saluran cerna berupa radang maupun luka yang ditemukan sepanjang kolon atau sepanjang saluran cerna,” jelas Murdani.

Gejala yang muncul pada IBD biasanya tidak muncul pada IBS, seperti diare berdarah, penurunan berat badan, demam tinggi, dan manifestasi ekstraintestinal.

Pada IBS gejala yang muncul hanya seperti nyeri perut, adanya gas dan bmerasa kembung serta buang air besar yang berlendir.

4 dari 7 halaman

Ciri-ciri lainnya

 Ilustrasi© Shutterstock

Manifestasi ekstraintestinal yang hanya ada pada IBD itu berupa:

- Sariawan yang berlebih
- Gangguan kulit; erythema nodosum, pyoderma gangrenosum, pyoderma gangrenosum peristoma
- Iritasi mata; episcleritis, uveitis
- Gangguang tulang belakang; ankylosing, sacroilitis

Di akhir acara, Murdani menyampaikan bagi masyarakat untuk lebih sadar akan penyakit ini, bila sudah ada tanda-tanda IBD segera periksa, agar dapat didiagnosis pakar dengan benar dan ditangani dengan cepat.

(Sah, Laporan: Josephine Widya)

5 dari 7 halaman

Setop Pandemi Covid-19 dengan Herd Immunity, Apa Artinya?

Dream – Salah satu langkah untuk menghentikan penyebaran virus COVID-19 adalah mencapai herd immunity atau yang biasa disebut kekebalan tubuh pada masing-masing orang.

Memberi vaksin Covid-19 adalah mujarab untuk saat ini. Namun bukan hal utama. Setidaknya 70% penduduk Indonesia, sekitar 181 juta orang harus disuntik vaksin.

Tak bisa secepat kilat mendapatkan vaksin, kamu pun harus menunggu giliran. Sembari menunggu proses vaksinasi sampai bisa sampai di lapisan masyarakan, kamu wajib ikuti aturan kesehatan yang berlaku, salah satunya dengan herd immunity.

Herd immunity merupakan kondisi saat sebagian populasi di suatu area telah mengembangkan kekebalan terhadap wabah penyakit tertentu, sehingga penyakit sulit meenyebar dan menginfeksi.

Saat jumlah orang yang kebal terhadap infeksi telah cukup untuk dapat menghentikan penularan penyakit, maka seluruh populasi akan terlindungi walaupun tidak semua orang bisa divaksin dan mengembangkan kekebalan terhadap tubuhnya.

6 dari 7 halaman

Konsep herd immunity


 Ilustrasi© Shutterstock

Jumlah orangnya tergantung pada tingkat penularan penyakit tersebut di kawasan tertentu.

Sebagai contoh dikutip dari Sehatq, Selasa, 19 Januari 2021, World Health Organization (WHO) menyebutkan untuk campak perlu 95% dari populasi dan polio perlu 80% dari populasi tervaksinasi agar dapat melindungi keseluruhan populasi.

Diprediksikan para ahli untuk kasus COVID-19 setidaknya 70% dari populasi harus mengembangkan kekebalan tubuh terhadap virus ini.

Ada dua tipe herd immunity, yaitu sebagai berikut:

7 dari 7 halaman

a. Herd immunity alami

Dengan jalur alami, untuk mencapai herd immunity pada kasus COVID-19 kurang lebih 70% penduduk perlu terinfeksi dan berhasil sembuh.

Sebab, orang yang pernah terinfeksi akan memiliki kekebalan tubuh sendiri terhadap penyakit dan lebih sulit untuk terinfeksi dibanding yang belum kena sama sekali, dikarenakan sistem imun tubuh sudah terlatih untuk mengenali dan melawan virus korona.

Untuk mencapai herd immunity dengan jalur ini akan sangat sulit dilakukan karena dianggap tidak aman dan kurang etis.

b. Herd immunity buatan

Jalur ini dapat dicapai dengan vaksinasi. Dengan vaksin orang-orang tidak perlu terinfeksi Covid-19 terlebih dahulu untuk memiliki kekebalan tubuh melawan virus.

Cara ini dianggap lebih aman, efektif, dan etis untuk menekan laju penularan Covid-19. Maka dari itu sekarang ini banyak negara yang sedang menjalankan vaksinasi Covid-19.

Kemudian muncul pertanyaan bagaimana cara mencegah Covid-19 sambil menunggu herd immunity tercapai?

Proses herd immunity yang berjalan cukup panjang mewajibkan semua orang tetap mengupayakan kesehatan mandiri dalam mencegah penularan virus Covid-19 dari dalam, dengan cara:

a. Banyak minum air
b. Mengonsumsi makanan sehat seperti buah dan sayur
c. Berolahraga rutin
d. Mengonsumsi suplemen yang mengandung nutrisi lengkap

Join Dream.co.id