Ingin Berhenti Merokok? Pastikan Kuat Hadapi Ini

Fresh | Kamis, 13 Februari 2020 11:12
Ingin Berhenti Merokok? Pastikan Kuat Hadapi Ini

Reporter : Cynthia Amanda Male

Bakal muncul sederet gejala saat berhenti merokok.

Dream - Banyak orang yang gagal berhenti merokok, meskipun telah mengidap penyakit parah. Untuk berhenti merokok memang tak mudah dan dibutuhkan komitmen tinggi.

Bakal muncul sederet gejala saat berhenti merokok. Gejala tersebut antara lain stres, mudah marah, sulit tidur serta badan terasa sakit.

Menurut dokter spesialis paru-paru, Agus Susanto, hal ini disebabkan oleh menurunnya jumlah nikotin dalam tubuh.

" Nikotin menyebabkan kenyamanan dari berbagai aspek, mulai dari nafsu makan turun, merasa ada ide brilian, tidak stres. Begitu berhenti, dampaknya jadi kebalikannya," katanya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa 11 Februari 2020.

 

2 dari 5 halaman

Keluhan Selama 2 Minggu

Biasanya, kondisi ini muncul 2 hingga 4 minggu setelah berhenti merokok. Ada juga yang berhenti merokok secara perlahan dengan membeli rokok rendah atau tanpa nikotin maupun zat karsinogen.

" Nikotin dan zat karsinogennya berkurang, infeksi saluran pernafasannya bertambah. Nikotinnya berkurang, merokoknya bisa jadi lebih sering," ujar Elisna Syahruddin, yang juga seorang spesialis paru.

 

3 dari 5 halaman

Berhenti Begitu Saja

Ia juga mengungkapkan bahwa kebanyakan orang berhenti merokok begitu saja. Tanpa melakukan persiapan atau metode khusus. Namun jika perokok ingin mengontrol kesehatan, lebih baik cek kondisi tubuh secara rutin, jauhi asap rokok jenis apapun, diet seimbang, istirahat cukup serta mengelola stres.

Bisa juga melakukan konseling, psikoterapi, hipnoterapi atau akupuntur jika menemukan kesulitan selama berhenti merokok. Terutama, ketika berada di fase putus nikotin.

" Putus nikotin harus diatasi dengan niat. Motivasinya harus dikuatkan. Kalau niat saja tidak cukup mampu, segera ke dokter agar dibantu dengan medik," imbuh Agus.

4 dari 5 halaman

Pakai Vape Bukan Solusi untuk Berhenti Merokok

Dream - Vape kini dijadikan salah satu cara untuk berhenti merokok. Beberapa orang memang akhirnya beralih dari rokok ke vape. Hal ini lantaran vape dianggap lebih sehat.

Benarkah demikian? Ternyata pendapat tersebut salah besar. Hal ini diungkapkan oleh Agus Dwi Susanto, seorang dokter spesialis paru.

" Cara berhenti merokok bukan dengan memilih vape. Vape tidak bisa mengatasi berhenti merokok, malah tambah parah," katanya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa 11 Februari 2020.

Dari segi dampak, rokok dan vape memiliki efek yang sama. Menurutnya, apapun yang berbentuk asap, rokok, vape atau shisha, potensinya sama.

" Bahkan, vape asapnya lebih kental dari rokok konvensional," ungkap Elisna Syahruddin, yang juga seorang dokter spesialis paru.

Dalam rokok memiliki terdapat zat karsinogen dalam komponen tar. Zat tersebut bisa memicu kanker.

" Dalam komponen tar itu ada sekitar 50-60 bahan yang bersifat karsinogen. Contohnya, nitrosamin, formaldehida, benzopiren. Itu sifatnya karsinogen, penyebab kanker," ujar Agus.

 

5 dari 5 halaman

Vape Juga Mengandung Zat Karsinogen

Sedangkan, vape memiliki kandungan yang bersifat karsinogen, namun bukan bagian dari tar. Ada komponen nitrosamin, formaldehida, benzopiren serta akrolein dalam vape.

Bagi perokok atau pengguna vape yang ingin berhenti dan sudah kecanduan, Agus menyarankan untuk melakukan terapi dan konseling.

 5 Bahaya Vape yang Wajib Diketahui Para Pria© MEN

Akunpunktur juga bisa dilakukan, tapi hal ini harus disertai dengan terapi lain.

" Akupunktur tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kombinasi, seperti obat-obatan, psikiater dan lain-lain," ungkap Agus.

Terapi yang diberikan tergantung pada beratnya adiksi dan fase putus nikotin. Biasanya, fase dan program berhenti merokok dijalani selama 3 bulan.

5 Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Biar Nggak Gampang Sakit Bersama Tolak Angin
Join Dream.co.id