Hati-Hati! Flu Ringan Bisa Jadi Gejala Covid-19 Varian Delta

Fresh | Kamis, 17 Juni 2021 14:46

Reporter : Cynthia Amanda Male

Bisa terjadi pada orang berusia muda.

Dream - Tidak hanya jumlah kasus, gejala Covid-19 juga terus bertambah. Dilansir oleh BBC, penelitian Zoe Covid Symptom yang dilakukan oleh Prof Tim Spector membuktikan bahwa flu pada orang berusia lebih muda bisa menjadi gejala varian Delta.

Meski terdengar tidak terlalu berat, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Layanan Kesehatan Nasional Britania, NHS, menyatakan bahwa gejala klasik Covid-19 adalah batuk, demam, dan hilangnya indera perasa serta penciuman.

Berdasarkan data pemakai aplikasi Zoe Covid Symptom, gejala klasik tersebut sudah jarang dialami. " Sejak bulan Mei, kami memantau gejala dari pengguna aplikasi. Dan mereka tidak merasakan hal yang sama seperti sebelumnya," ungkapnya.

Gejala Covid-19 varian Delta meningkat. Sebelumnya, jenis virus tersebut muncul di India dan kini mendominasi hampir 90 persen kasus di Inggris.

Salah satu gejala yang berkurang drastis adalah kehilangan indera penciuman. Gejala yang lebih ringan ini cukup mengkhawatirkan.

Orang yang berusia muda bisa tetap beraktivitas tanpa mengetahui kondisi mereka sebenarnya. Jadi, lebih baik untuk melakukan tes Covid-19 terlebih dulu jika ingin beraktivitas di luar rumah.

Selain Delta, virus Covid-19 varian Alpha atau varian Inggris juga menimpa jutaan orang di negara itu sendiri.

Beberapa gejala yang kerap dirasakan adalah meriang, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, serta nyeri otot.

Walaupun Covid-19 memiliki gejala yang sudah diungkapkan, semua orang harus tetap berhati-hati, menjaga imunitas dan mencari tahu kondisi tubuh sebelum beraktivitas di luar ruangan.

Hati-Hati! Flu Ringan Bisa Jadi Gejala Covid-19 Varian Delta
Covid-19. (Source: Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Negara Ini Sudah Capai Kekebalan Komunal, Bye Covid-19!

Dream - Kasus Corona di dunia sudah tembus lebih dari 95 juta. Bahkan beberapa diantara kembali mencatat lonjakan kasus Covid-19. Namun, beberapa negara juga menunjukkan penurunan bahkan telah mencabut status emergency, salah satunya Slovenia.

Dikutip dari Euronews.com, Rabu 16 Juni 2021, status darurat Covid-19 di Slovenia telah berakhir sejak Selasa, 15 Juni 2021, setelah sebelumnya diberlakukan lockdown secara ketat selama 8 bulan lamanya. Dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Slovenia, mencatat 112 kasus aktif dan dua kasus kematian.

Sekitar 45 persen penduduk dewasa di Slovenia juga sudah menerima vaksin Corona dosis pertama dan 32 persen lainnya sudah menerima dosis kedua. Hingga pada akhirnya, negara ini pun mencapai herd immunity (kekebalan komunal).

Meski herd immunity diklaim sudah terbentuk, pemerintah tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat seperti memakai masker di dalam ruangan tempat umum serta menjaga jarak aman.

Sumber: euronews.com

3 dari 5 halaman

Negara Ini Bebas Covid-19, Warga Sebut Kelapa Jadi Rahasianya

Dream - Republik Kiribati tengah jadi perbincangan. Negara yang letaknya di kepulauan Samudera Pasifik dengan populasi 122.330 jiwa, dilaporkan tidak miliki kasus virus corona alias masih bersih dari Covid-19.

Penduduk Kiribati percaya kelapa merupakan makanan pokok yang diklaim sebagai kunci status bebas virus Covid-19 di sana.

" Kami menggunakan moimoto (kelapa) untuk bertahan melawan virus. Ini sangat kaya akan vitamin C dan vitamin A," kata seorang guru Sekolah Dasar di Tarawa, Rooti Tianaira, dilansir dari Mirror.co.uk, Selasa 12 Mei 2020.

Kata Rooti, nenek moyang mereka biasa makan kelapa parut yang dikenal karena rasanya khas tetapi memiliki khasiat memberi kesehatan untuk sarapan.

" Kami kuat, tanpa penyakit. Jadi sekarang, buah-buahan lokal ini digunakan sebagai obat untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Sudah dijual di kios-kios pinggir jalan," jelasnya.

4 dari 5 halaman

Rumor Konyol

Meski jumlah pohon kelapa melebihi penduduknya, Rimon Rimon, seorang jurnalis setempat, mengaku baru mengetahui buah ini bisa digunakan sebagai obat melawan Covid-19.

Bukan hal aneh jika ada orang yang menjual kelapa. " Namun bisa mengatasi virus corona? Ini baru bagi saya," tegas Rimon.

Kemampuan moimoto adalah satu dari sekian rumor konyol dari negara bekas koloni Inggris itu.

" Kabar itu menjadi isu utama di sini. Karena baru belakangan ini orang mendapat akses ke internet, jadi mereka dibombardir dengan informasi," ujar dia.

5 dari 5 halaman

Percaya Hoax

Berdasarkan pengamatan Rimon, masyarakat di negara yang masuk kategori paling tidak berkembang itu (LDC) oleh PBB, masih tidak bisa membedakan mana kabar hoaks. Jadi, mereka menyebarkan apa yang menurut mereka benar.

Merebaknya informasi keliru ditambah dengan belum jelasnya regulasi pemerintah mengenai apa saja yang bisa dibagikan di media sosial.

Selama ini, masyarakat mengandalkan informasi mengenai wabah dari Kementerian Kesehatan dan Kantor Kepresidenan.

" Pemerintah perlu memerhatikan bagaimana rakyat memperoleh informasi, dan memperingatkan mereka bisa terkena masalah jika membagikan kabar ngawur" .(Sah)

Join Dream.co.id