10 Hari Bekerja Tanpa Henti Cegah Virus Corona Menyebar, Staf Medis Meninggal

Fresh | Rabu, 5 Februari 2020 13:47
10 Hari Bekerja Tanpa Henti Cegah Virus Corona Menyebar, Staf Medis Meninggal

Reporter : Sugiono

Yang menyedihkan, usianya masih tergolong sangat muda.

Dream - Wabah virus corona baru atau disebut juga virus 2019-nCoV yang pusat penyebarannya di Wuhan telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan 24.505 orang terinfeksi.

Virus corona yang bisa menyebar antar manusia ini membuat para staf medis yang bertugas memulihkan para penderita terkena imbasnya.

Baru-baru ini seorang staf medis yang bekerja di garis depan dalam menangani virus 2019-nCoV ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya.

Jasad staf medis ini ditemukan teman-temannya sudah dalam kondisi tidak bernyawa yang bermaksud menjemputnya untuk bekerja.

Staf medis berjenis kelamina pria yang masih berusia 28 tahun itu diduga mengalami kelelahan setelah bekerja tanpa istirahat karena menangani korban yang terpapar virus 2019-nCoV.

Pria yang diidentifikasi bernama Song Yingjie ini adalah wakil kepala farmasi di sebuah pusat kesehatan di daerah Henshang.

Song sudah bekerja di pusat kesehatan tersebut sejak April 2016. Dia bergabung dengan tim medis yang ditempatkan di Yuelin Expressway.

Selama bergabung dengan tim penanganan virus 2019-nCoV, dia bersikeras untuk bekerja setiap hari. Song mulai bekerja dari 25 Januari, yang merupakan hari pertama Tahun Baru China.

Song bertanggung jawab atas distribusi pasokan obat-obatan kepada rekan-rekannya. Song bekerja keras selama 10 hari dan sembilan malam saat negara itu berjuang untuk mencegah virus Wuhan.

Pada 3 Februari, Song akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya pada jam 12 pagi waktu setempat dan kembali ke kamar kosnya untuk istirahat.

Sedihnya, rekan-rekannya menemukan dia meninggal di kamar kosnya. Song diduga meninggal akibat serangan jantung mendadak yang disebabkan oleh kelelahan. Pihak berwenang masih menyelidiki kasus ini.

(Sah, Sumber: World of Buzz)

2 dari 6 halaman

Belum Ada Uji Klinis Vaksin HIV/AIDS untuk Atasi Corona

Dream - Pemerintah China masih berupaya mengatasi virus corona jenis baru (2019-nCov). Kabar terbaru, vaksin anti HIV/AIDS dapat digunakan untuk menghentikan penyebaran penyakit di dalam tubuh.

Percobaan ini berawal dari pemakaian vaksin anti HIV/AIDS, yakni kombinasi lopinavir dan ritonavir pada pasien SARS. Faktanya, belum ada uji klinis yang membuktikan efektifitas vaksin tersebut terhadap corona.

" Ada beberapa percobaan menggunakan obat anti HIV/AIDS sebagai pengobatan anti virus corona. Tetapi ini masih dalam penelitian, belum bisa dikatakan benar atau salah," kata dr. Raden Rara Diah Handayani, SP.P(K), pakar Pulmonologist Rumah Sakit Universitas Indonesia di Depok, Selasa 4 Februari 2020.

Menurut dr. Diah, belum ditemukan dengan pasti bagaimana obat anti HIV/AIDS bisa memutus rantai penyakit dari virus corona. Saat ini penelitiannya masih dalam tahap pengerjaan.

" Bukan kita yang tidak mampu, tapi seluruh dunia juga belum ada yang menemukan," ujarnya.

3 dari 6 halaman

Masih Dapat Diatasi

Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk 2019-nCov, namun gejala yang disebabkan oleh virus tersebut masih dapat diobati.

Corona memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan wabah lain seperti SARS dan flu burung.

 China Karantina Kota Wuhan Akibat Virus Corona© MEN

" Kasus per hari ini ada 20,626 dengan kematian 426 jiwa dan yang sembuh mencapai 653 orang," ujar dr. Diah.

4 dari 6 halaman

Terapi Suportif

Pengobatan corona harus didasarkan pada kondisi klinis pasien. Jika terduga masih menunjukkan gejala awal, pasien akan mendapat terapi suportif.

 Flu dan Batuk? Tak Perlu ke Dokter© MEN

Pemberian makanan sehat juga dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dalam melawan virus. Selama masa perawatan, pasien ditempatkan di ruang isolasi demi mencegah penularan ke orang lain.

" Pantau suhu badan, rontgen paru-paru, diperiksa virusnya masih ada atau tidak. Kalau dua kali berturut-turut dinyatakan negatif kita nyatakan dia sembuh dan dipulangkan," ungkap dr. Diah

5 dari 6 halaman

Ilmuwan Unair Temukan Alat Pendeteksi Virus Corona Wuhan

Dream - Kolaborasi ilmuwan dari Universitas Airlangga Surabaya dan Kobe University, Jepang menjadi salah satu kabar gembira di tengah gempuran virus Corona Wuhan (2019-nCoV).

Kerja sama penelitian itu menghasilkan alat yang mampu mengidentifikasi pasien yang diduga terjangkit virus Corona Wuhan.

" Masyarakat bisa memanfaatkan lembaga kami untuk mengkonfirmasi ada atau tidaknya virus. Identifikasinya tidak lama, hanya dalam hitungan jam, tetapi mekanisme sudah sesuai dengan standar kesehatan dunia WHO (World Health Organization)," kata Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, diakses dari laman resmi Unair, Selasa, 4 Februari 2020.

Nasih mengatakan, penelitian bersama Unair dan Kobe University telah menemukan reaktan virus Corona Wuhan. Selain di Unair, reaktan ini juga telah dimiliki Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes.

Nasih mengatakan, akurasi reaktan ini mencapai 99 persen. Sebab, ada parameter reagen yang berasal dari parameter positif tertular virus.

" Pemeriksaannya dari dahak, kalau memang hasilnya sama dengan parameter yang positif maka akan dilakukan penanganan khusus," ujar dia.

6 dari 6 halaman

Riset Lanjutan

Dengan identifikasi secara spesifik ini, Nasih berharap ke depannya dapat menghasilkan riset penanganan dan pencegahan akan virus ini.

" Obatnya masih susah karena kami belum mengetahui jenis mutasi virus ini seperti apa," kata dia.

Dia mengakui kemampuan Unair dalam menemukan reaktan ini tak lepas dari akses Kobe University dan relasi di Jerman, dalam mengakses data dan gen virus corona dari bank virus.

Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id