Antiretroviral Therapy, Pengobatan Gratis untuk Penderita HIV/AIDS

Fresh | Selasa, 4 Desember 2018 10:15
Antiretroviral Therapy, Pengobatan Gratis untuk Penderita HIV/AIDS

Reporter : Cynthia Amanda Male

Pengobatan ini bisa mengontrol virus HIV agar tidak berkembang biak.

Dream - Penyakit Human Immunodeficiency Virus Infection dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/ AIDS) hingga kini memang belum bisa disembuhkan. Meski demikian, ada terapi obat yang bisa menjaga kualitas hidup penderita HIV/ AIDS.

Obat tersebut yaitu Antiretroviral Therapy atau sering disebut ART. Obat ini diberikan secara gratis oleh pemerintah kepada penderita HIV/ AIDS.

ART memang tidak bisa menyembuhkan HIV/AIDS secara total. Tetapi pengobatan ini bisa mengontrol virus HIV agar tidak berkembang biak.

" Orang yang terinfeksi HIV, akan memiliki virus HIV sepanjang hidupnya. Tapi, virus itu bisa dikontrol dengan obat ARV (Antiretroviral) supaya tidak berkembang biak, menyerang kekebalan tubuh dan menurun pada anak," tutur Endang Budi Hastuti, Kepala Sub-Direktorat HIV/AIDS dan PIMS Kementerian Kesehatan RI di Gran Melia, Jakarta Selatan, Senin 3 Desember 2018.

Menurut Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA), hingga kini hanya 15 persen atau 96.298 dari 630.000 pengidap yang sedang menjalani ART. Konsumsi ART secara terus-menerus memang menimbulkan efek samping tapi bisa diatasi.

" Efek sampingnya beragam. Biasanya, sakit kepala, mual dan kesemutan. Tapi, lain lagi kalau alergi kandungan obatnya. Tergantung anjuran dokter," kata Endang.

Walaupun ketersediaan tes HIV/AIDS yang dibantu oleh BPJS dan pengobatan gratis, belum banyak yang mengetahui hal ini. Sehingga sebagian besar ODHA yang putus asa dengan nasibnya.

" Pemerintah sudah menyebarkan info seputar HIV/AIDS lewat berbagai media, bekerja sama dengan LSM untuk penyediaan kondom dan tes lab untuk ibu hamil agar segera tahu kondisi serta melakuakn pencegahan," ungkapnya.

Sejauh ini, terdapat 5.000 rumah sakit dan puskesmas terpilih di seluruh Indonesia yang diberikan fasilitas pengobatan ART. Sebanyak 3.000 di antaranya adalah puskesmas, dan sisanya adalah rumah sakit.

" Pemerintah sebisa mungkin menyediakan kebutuhan masing-masing orang. Di Thailand pengobatan ini dibuat skema ada yang berbayar dan beli. Malaysia juga begitu. Kita (Indonesia) salah satu yang menyediakan full," ungkap Endang.

Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup
Join Dream.co.id