CIMB Niaga Syariah Yakin Spin Off Asal Kondisi Ini Terpenuhi

Dinar | Senin, 25 November 2019 15:24
CIMB Niaga Syariah Yakin Spin Off Asal Kondisi Ini Terpenuhi

Reporter : Arie Dwi Budiawati

CIMB Niaga Syariah yakin tak membutuhkan tambahan modal dari induk.

Dream - Pemerintah memberikan tenggat waktu bagi Unit Usaha Syariah untuk lepas dari induknya mulai tahun 2023. Langkah besar berupa spin off itu juga terus dipersiapkan Unit usaha syariah PT Bank CIMB Niaga (CIMB Niaga Syariah).

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, menegaskan langkah spin off akan dilakukan jika perusahaan sudah benar-benar siap dan mapan. Salah satu syarat kemapanan tersebut adalah aset yang minimal mencapai Rp80 triliunan.

Untuk diketahui per September 2019, aset UUS CIMB Niaga baru mencapai Rp36,98 triliun.

“ CIMB Niaga Syariah ingin spin off kalau sudah BUKU III, minimal asetnya Rp80 triliun-Rp90 triliun,” kata Pandji dalam acara “ Media Training and Gathering tentang Perbankan Syariah" di Sentul, Bogor, baru-baru ini.

Dia mengatakan perusahaan akan melepaskan diri dari induk setelah punya layanan yang sama dengan induknya. Pandji tak mau pengalaman nasabah akan berkurang setelah UUS berubah menjadi BUS.

Selain itu, dia optimistis target spin off  2023 bisa dilakukan tanpa suntikan modal dari induk. Dikatakan bahwa pihaknya mendapatkan tambahan modal induk sebesar Rp1,25 triliun pada 2018.

Untuk tahun depan, CIMB Niaga Syariah optimistis takkan meminta tambahan modal. Ini terlihat dari capaian laba yang melampaui perkiraan.

CIMB Niaga Syariah melaporkan laba perusahaan per September 2019 mencapai Rp848,85 miliar. Pandji membidik UUS CIMB Niaga bisa mengantongi laba sebesar Rp1,2 triliun pada akhir tahun 2019.

2 dari 6 halaman

CIMB Niaga Syariah Berharap Aturan Spin Off UUS Ditunda

Dream - Kalangan perbankan syariah mengusulkan penundaan kebijakan pemisahan bisnis unit usaha syariah (UUS) dari induknya mulai tahun 2023. Untuk saat ini, fokus pengembangan bank syariah seharusnya diarahkan pada pengembang size dari industri keuangan berbasis syariah. 

Untuk diketahui ketentuan spinoff UUS ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Salah satu ketentuan beleid itu menyebutkan tentang kewajiban UUS untuk melepaskan diri dari induk dan berdiri sendiri (spin off). 

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara mengaku ragu target spin off UUS bisa mendorong pangsa pasar perbankan syariah sebesar 20 persen.

" Saya pesimistis bisa jadi 20 persen," kata Pandji dalam Media Training and Gathering tentang Perbankan Syariah di Bogor, Jawa Barat, Jumat 22 November 2019.

 

 CIMB Niaga Syariah Berharap Aturan Spin Off UUS Ditunda © Dream

 

Menurut Pandji, Indonesia saat ini memiliki 20 UUS yang sebagian besar dimiliki Bank Pembangunan Daerah (BPD). Rata-rata nilai aset dari perusahaan induk ini berada di bawah Rp5 triliun.

" Bagaimana (caranya) 'ibu' yang punya aset Rp2 triliun, Rp3 triliun, dan Rp500 miliar harus membesarkan UUS. Belum lagi nambah modal?" kata Pandji.

3 dari 6 halaman

Masalah yang Dihadapi Bank Syariah

Selain soal aset, Pandji juga menilai keberpihakan pemerintah terhadap industri perbankan syariah masih kecil. Salah satunya adalah bisnis pembiayaan yang sulit dimasuki kalangan perbankan syariah.

Meski sudah banyak proyek bernilai belasan triliun rupiah, saat ini perusahaan pada umumnya tidak melirik bank syariah yang hanya memiliki modal sekitar Rp2 triliun-Rp5 triliun.

Persoalan instrumen pembiayaan syariah yang masih terbatas turut membuat industri baru ini masih sulit berkembang. Bank konvensional selama ini bisa mendapatkan pendanaan di pasar uang. Tapi, bank syariah hanya bisa bermain di sukuk dan tak bisa menempatkan di sembarang instrumen.

" Sukuk saja nggak bisa gede. Fee base income susah. Terima uang lebih nggak bisa lempar ke mana-mana. Paling deposito lempar ke BI," kata dia.

Dengan berbagai pekerjaan rumah yang masih dihadapi industri perbankan syariah, Pandji menilai kebijakan spin off sebaiknya ditunda. Dia mengusulkan pemerintah mendorong perbankan syariah untuk memperbesar size baru melepas unit syariahnya.

Menurut Pandji, untuk saat ini peluang untuk menunda kebijakan spin off tersebut muncul di lembaga legislator. Alasannya, DPR rencananya akan kembali menggodok UU Perbankan yang baru. 

" Mudah-mudahan aturan ini bisa ditunda," kata dia.

4 dari 6 halaman

CIMB Niaga Syariah Getol Dekati Pebisnis Halal

Dream - CIMB Niaga Syariah membidik potensi bisnis industri halal melalui penetrasi ke berbagai segmen nasabah berbasis komunitas. Berbagai komunitas yang dijajaki adalah halal tour and travel, sekolah Islam, halal lifestyle, rumah sakit Islam, sampai filantropi.

" Kami melihat potensi pasar industri halal di Indonesia sangat besar, namun perbankan Syariah belum menggarapnya dengan maksimal," kata Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, dalam acara Media Training and Gathering tentang Perbankan Syariah di Bogor, Jawa Barat, Kamis 21 November 2019.

Untuk mencapai target tersebut, kata Pandji, ada sejumlah langkah yang dijalankan. Seperti menjalin kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) pada beberapa bulan yang lalu.

Lewat kerja sama tersebut, CIMB Niaga Syariah siap terlibat dalam sosialisasi sertifikat halal dari BPJPH.

" Selain memenuhi ketentuan regulasi dari pemerintah, sertifikat halal juga dapat meningkatkan nilai tambah produk dan kepercayaan masyarakat," kata dia.

 

 CIMB Niaga Syariah Getol Dekati Pebisnis Halal © Dream

 

Selain itu, lanjut Pandji, pihaknya juga mengembangkan digital banking. Cara ini dijalankan agar bisa menggaet nasabah dari industri halal.

Fitur yang tersedia tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. Ini agar nasabah bisa juga menikmati fasilitas yang ditawarkan di bank syariah.

" Jangan sampai nasabah yang biasa mendapatkan SLA (service level agreement) bagus, di syariah malah nggak kebagian," kata dia.(Sah)

5 dari 6 halaman

Kaji Green Sukuk, CIMB Niaga Syariah Ingin Jadi Green Islamic Bank Pertama RI

Dream - CIMB Niaga Syariah berencana menerbitkan sukuk hijau tahun depan. Unit usaha syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk ini menargetkan menjadi " bank syariah hijau" pertama di Tanah Air.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan perusahaan tahun akan menerbitkan sukuk penawaran umum berkelanjutan (PUB) 3 senilai Rp1 triliun. Selain itu, unit syariah ini akan menerbitkan sukuk hijau.

Sekadar infromasi, green sukuk digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

" Tahun 2020 rencananya kami akan menerbitkan sukuk lagi. Kami maunya green sukuk," kata Pandji dalam acara Media Training and Gathering tentang Perbankan Syariah di Bogor, Jawa Barat, Kamis 21 November 2019.

Jika sudah lepas dari induk dan berdiri sebagai bank utuh (spin off), Pandji ingin CIMB Niaga Syariah menjadi bank syariah hijau (green Islamic bank) pertama di Indonesia.

Untuk itulah pihaknya pelan-pelan memperkenalkan masyarakat tentang " bank hijau" melalui green sukuk. " Misalnya, memperkenalkan pembiayaan yang bersifat 'green'," kata dia.

6 dari 6 halaman

Masih Dimatangkan

Pandji mengatakan green sukuk ini masih dalam proses pembahasan dengan lembaga keuangan internasional. Dia juga belum bisa mengungkap nilai sukuk hijau yang akan dirilis tahun depan.

 

 Masih Dimatangkan © Dream

 

Selain itu, sukuk hijau ini juga masih diproses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pandji mengatakan rencananya sukuk hijau ini dijual kepada investor dalam negeri.

" Kalau terima jawaban cepat (dari OJK), bisa (diterbitkan) kuartal II atau III. Sementara untuk dalam negeri," kata dia.

Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak
Join Dream.co.id