Subhanallah... Sehari Buruh Tani dan Bangunan Dapat Upah Segini

Dinar | Selasa, 18 Februari 2020 09:24
Subhanallah... Sehari Buruh Tani dan Bangunan Dapat Upah Segini

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Lalu, bagaimana dengan upah buruh lainnya?

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat upah buruh tani mengalami kenaikan tipis. Mengawali tahun 2020, para petani buruh memperoleh upah harian senilai Rp55.046 atau naik 0,59 persen dari Rp54.723 di Desember 2019.

“ Namun untuk upah rill buruh tani mengalami penurunan sebesar 0,29 persen,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, ditulis pada Selasa 18 Februari 2020.

Penurunan upah riil buruh tani terjadi karena ada perubahan indeks konsumsi rumah tangga di pedesaan sebesar 0,8 persen.

“ Upah riil buruh atau pekerja kan menggambarkan daya beli dari pendapatan yang diterima oleh buruh atau pekerja,” kata Suhariyanto.

Selain upah buruh tani, BPS juga mencatat adanya kenaikan upah harian para buruh bangunan sebesar 0,34 persen menjadi Rp89.478 pada Januari 2020. Sama seperti petani, upah riil buruh bangunan juga turun 0,05 persen.

Kemudian, pada Januari 2020, upah nominal buruh potong rambut wanita mengalami peningkatan sebesar 0,34 persen dari Rp28.415,00 menjadi Rp28.510,00. Sedangkan upah rillnya turun sebesar 0,05 persen, yaitu dari Rp27.341,00 menjadi Rp27.327,00.

Sementara itu, rata-rata upah nominal asisten rumah tangga juga mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan yaitu 0,01 persen dari Rp419.298 menjadi Rp419.319 Sedangkan upah rillnya menurun 0,38 persen dari Rp403.4430 menjadi Rp401.916.

(Sah, Laporan: Rifani Indrianti)

2 dari 5 halaman

Naik Rp240 Ribu, Pengeluaran Orang Indonesia Setahun Rp11,3 Juta

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia sepanjang tahun 2019 mengalami peningkatan 0,53 poin menjadi 71,92. Dibandingkan tahun sebelumnya, indeks yang merupakan indikator standar kehidupan masyarakat Indonesia itu tumbuh 0,74 persen dibanding 2018. 

IPM merupakan salah satu cara pemerintah melihat bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Indikator IPM Indonesia selama ini dinilai dilihat dari aspek umur harapan hidup (UHH), pendidikan, dan standar hidup layak.

" IPM ini kan merupakan indikator jangka panjang dan saling berkorelasi," ujar Sri Sulistyowati selaku Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Pusat, pada Senin, 17 febaruari 2020.

Menurut Sri, pernikahan dini turut mempengaruhi faktor perkembangan masyarakat di Indonesia. Para ibu muda yang menikah dini, umumnya belum terpenuhi gizi dan bisa berakibat pada kelahiran bayi kurang gizi.

" Tapi tahun 2019 pernikahan dini angkanya berkurang," kata dia.

3 dari 5 halaman

Harapan Hidup dan Pendidikan

Menurut catatan BPS, bayi yang lahir pada 2019, memiliki harapan hidup hingga 71,34 tahun, lebih lama 0,14 tahun dibandingkan dengan sebelumnya.

" Ya mostly pendidikan kita memang masih di level situ aja kan ya, dan untuk meningkatkannya juga ga mudah," ujar dia.

Dia mengatakan, peningkatan angka tersebut melalui proses panjang. Sementara itu, anak-anak yang pada 2019 berusia 7 tahun, memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun.

Sementara untuk penduduk usia 25 tahun ke atas, secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun. Hampir setara dengan penamatan jenjang kelas 9 atau lebih lama 0,17 tahun dibandingkan sebelumnya.

4 dari 5 halaman

Standar Hidup Layak

" Memang yang paling cepat ditingkatkan adalah dari sisi daya beli, dan tentunya kita juga harus menyiapkan untuk ekonomi yang lebih baik, kalau ekonominya lebih baik kan akan memiliki kesempatan bekerja," ucap Sri.

Ekonomi yang lebih baik, memiliki keterkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dan meningkatkan kebutuhan hidupnya.

Pada 2019, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan sebesar Rp11,30 juta per tahun. Pengeluaran per kapita meningkat Rp240 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.

" Tapi relatif okelah sebenernya indonesia sudah ada 22 provinsi yang berstatus pembangunannya tinggi, tetapi memang yang masih menjadi persoalan adalah Papua," ucap Sri.

 

5 dari 5 halaman

Kondisi Papua

Dalam survei ini, Provinsi Papua menduduki angka IPM terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, yaitu 60,84.

" Di Papua tuh kan sering terjadi kerusuhan dan segala macem ya, jadi ya konsentrasi untuk menangani kesehatan, pendidikan, dan daya beli, agak terganggu," ujar Sri.

Dia menegaskan kalau faktor sosial juga berpengaruh terhadap indikator-indikator IPM yang tadi disebutkan di atas.

" Kondisi yang kondusif juga biasanya akan generate ekonomi yang lebih bagus, karena orang akan invest, kalau dengan adanya investasi yang lebih banyak lagi, kesempatan kerja lebih terbuka, sehingga orang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi lagi," kata Sri.

Dia mengatakan, membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, dari mulai pemerintahan dan swasta harus saling bekerjasama untuk berpartisipasi dalam pembangunan manusia. " Dengan kondisi yang selaras, kalau IPM nya lebih tinggi, pendidikannya lebih tinggi, kita juga bisa meng-catch up teknologi," ucap Sri.

(Laporan: Raissa Anjanique Nathania)

Terkait
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna
Join Dream.co.id