Tiga Faktor Ini Bisa Picu Pertumbuhan Industri Syariah

Dinar | Senin, 23 September 2019 17:36
Tiga Faktor Ini Bisa Picu Pertumbuhan Industri Syariah

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Salah satunya adalah fintek.

Dream - Industri keuangan syariah diprediksi akan tumbuh melambat. Tapi, jika ada koordinasi antarpemangku kepentingan, tiga akselerator ini bisa mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah.

Menurut lembaga pemeringkat saham dan obligasi Standard and Poor's atau S&P, ketiga pendorongnya adalah standaridasi yang inklusif, fintek, dan kesempatan ESG (environment, social, and government).

“ Kalau melihat tingkat pertumbuhan pada 2018 yang sebesar dua persen, kami berpikir tumbuh lima persen pada 2019—2020 akan menjadi asumsi yang tepat,” kata Direktur Senior dan Kepala Keuangan Syariah Global di S&P, Mohamed Damek, dikutip dari Zawya, Senin 23 September 2019.

Pendorong pertama adalah aturan standardisasi yang inklusif. Aturan ini mengenai interpretasi dan hukum syariah. Untuk emiten, standardisasi ini bisa jadi lebih rumit dan waktu yang diperlukan bisa lebih lama.

Proses standardisasi aturan harus setara jika melihat perspektif waktu, upaya, dan harga untuk menerbitkan obligasi konvensional.

Untuk investor, standardisasi ini berarti kemampuan memahami risiko yang berkaitan dengan instrumen dan menghindari situasi di mana mereka kehilangan uang. Atau, pemangku kepentingan menafsirkan ketentuan hukum kontrak sukuk dengan cara tertentu.

Bagi ulama, standardisasi ini berarti mempertimbangkan persyaratan pasar dan memberikan ruang inovasi.

2 dari 6 halaman

Bagaimana dengan Fintek?

Pendorong yang ke dua adalah fintek. Damek mengatakan, fintek bisa membantu industri keuangan syariah dengan empat cara, yaitu mempermudah dan mempercepat transaksi keuangan syariah, mengurangi risiko keamanan transaksi dan pencurian identitas, bisa menjangkau pasar yang lebih luas, serta teknologi yang bisa memperkuat industri keuangan syariah.

Pendorong yang ketiga adalah peluang ESG. Keuangan syariah dengan pertimbangan ESG bisa membuat keuangan yang berkelanjutan.

“ Regulator dan pembuat kebijakan di seluruh dunia berusaha membangun sistem keuangan yang berkelanjutan. Mereka akan melihat keuangan syariah dan keuangan berkelanjutan berjalan selaras,” kata dia.

3 dari 6 halaman

Keunikan Wakaf yang Tak Ada di Instrumen Keuangan Syariah Lain

Dream - Dalam ekonomi syariah, ada satu instrumen yang khas, yaitu wakaf. Instrumen yang satu ini punya satu hal yang tak ada di produk keuangan syariah lainnya yaitu aset.

Corporate Director Karim Consulting Indonesia, Muhammad Yusuf Helmy, menjelaskan bahwa wakaf tidak boleh menggunakan aset yang habis sekali pakai. Aset yang digunakan itu bersifat berkelanjutan.

" Zakat bisa diberikan dengan beras. Beras habis sekali pakai. Tapi, wakaf bisa pakai beras? Tidak bisa," kata Yusuf dalam " Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Menara Prudential, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2019.

Menurut Yusuf, aset untuk wakaf saat ini juga mengalmai perkembangan pesat. Dahulu, masyarakat menilai benda yang bisa diwakafkan adalah aset tak bergerak seperti tanah. Tak heran muncul pandangan jika orang yang bisa berwakaf adalah orang kaya yang punya tanah.

 

 Keunikan Wakaf yang Tak Ada di Instrumen Keuangan Syariah Lain

 

Kini, harta yang bisa diwakafkan adalah aset bergerak, seperti logam mulia, kendaraan, dan uang. Semua orang pun juga tak perlu menunggu kaya untuk berwakaf. 

Untuk wakaf uang, pengelola wakaf (nazir) " mengkonversi" aset bergerak menjadi sesuatu yang bermanfaat.

" Kini, orang tak harus menunggu kaya. Hari ini bisa saweran bangun rumah sakit, jalan tol," kata dia.

4 dari 6 halaman

Dua Jenis Wakaf

Yusuf mengatakan, untuk tujuan, wakaf terbagi menjadi dua, yaitu wakaf ahli dan wakaf khairi. Wakaf ahli ini bersifat terbatas. Misalnya, lahan wakaf untuk kuburan keluarga.

Wakaf yang satu ini kini menjadi minoritas karena penggunannya yang terbatas.

Yang satu lagi adalah wakaf khairi alias wakaf yang bisa ditujukan bagi pengembangan agama dan masyarakat umum. Semua orang bisa menggunakan aset yang diwakafkan.

" Misalnya, wakaf untuk pembangunan infrastruktur," kata dia.(Sah)

5 dari 6 halaman

Dua Industri Ini Diharapkan Kerek Literasi Keuangan Syariah

Dream – Tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Keberadaan industri 4.0 dan industri halal diprediksi bisa mengerek angka literasi keuangan syariah.

Dikutip dari keterangan tertulis BNI Syariah, Kamis 28 Maret 2019, berdasarkan data Otositas Jasa Keuangan (OJK), angka literasi keuangan syariah hanya 8 persen. Angkanya lebih rendah daripada literasi keuangan konvensional yang sebesar 30 persen.

Sementara itu, untuk inklusi keuangan syariah baru sebesar 11 persen. Angkanya lebih rendah daripada angka inklusi nasional yang sebesar 30 persen. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk Muslim-nya terbanyak di dunia.

 Dua Industri Ini Diharapkan Kerek Literasi Keuangan Syariah

Direktur Utama PT BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengatakan, keberadaan industri halal dan industri 4.0 bisa meningkatkan literasi keuangan syariah.

" Dengan adanya industri 4.0 dan potensi industri halal yang masih belum banyak berkembang diharapkan bisa meningkatkan literasi dan inklusi industri keuangan syariah," kata Firman dalam pidatonya di kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Surabaya, Jawa Timur.

6 dari 6 halaman

Beri Fasilitas Pembiayaan Syariah untuk Universitas Muhammadiyah Surabaya

Selain kuliah umum di UM Surabaya, BNI Syariah juga menggandeng kampus tentang produk dan jasa layanan perbankan, yaitu bisnis pembiayaan.

Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh Pemimpin BNI Syariah Wilayah Timur, Imam Hidayat Sunarto ,dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sukadiono, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

 BNI Syariah bekerja sama dengan UM Surabaya untuk pembiayaan syariah.

Imam mengatakan perjanjian kerja sama ini terkait dengan fasilitas pembiayaan BNI Flexi iB Hasanah untuk karyawan dan dosen Universitas Muhamaddiyah Surabaya,

Potensi bisnis pembiyaaan di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini cukup besar. Sampai saat ini, jumlah karyawan dan dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya masing-masing sebanyak 143 dan 294 orang.

Per 2018, BNI Syariah tercatat telah menyalurkan pembiayaan produktif ke Universitas Muhammadiyah Surabaya sebesar Rp25 miliar.

Terkait
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id