Tak Hanya Pesangon, Buruh Juga Dapat `Pemanis` 5 Kali Gaji

Dinar | Kamis, 13 Februari 2020 09:24
Tak Hanya Pesangon, Buruh Juga Dapat `Pemanis` 5 Kali Gaji

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Uang ini tertuang dalam konsep Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Dream - Meski masih dalam pembahasan, Rancangan Undang-undang Omnibus law Cipta Kerja sudah menuai penolakan. Salah satu hal yang dipersoalkan dalam RUU tersebut yaitu mengenai pesangon buruh 

Terkait hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan bocoran isi RUU tersebut. Dia mengatakan para pekerja resmi akan mendapatkan " pemanis" berupa lima kali gaji. 

“ Dengan ditandatanganinya perjanjian Undang-Undang nanti tenaga kerja dapat sweetener. Sweetener itu berlaku untuk semua pekerja yang resmi dan itu perusahaan bukan perusahaan kecil,” kata Airlangga di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com.

Skema ini tak menghapus pemberian pesangon untuk para pekerja. Pesangon tetap diberikan berdasarkan Undang-Undang yang berlaku.

“ Kalau pesangon tetap dengan regulasi yang berlaku. Jadi ini beda on top,” kata dia.

Mantan Menteri Perindustrian ini menambahkan, pada dasarnya RUU Omnibus Law Cipta Kerja disusun pemerintah untuk mendorong orang agar bekerja. Berdasarkan catatan, saat ini ada sekitar tujuh juta orang yang tidak memiliki pekerjaan dan berhak mendapatkan pekerjaan.

" Hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan gaji, itu diatur dengan Omnibus Law, apalagi dunia sekarang sedang mendapatkan banyak gejolak," kata Airlangga.

2 dari 6 halaman

Omnibus Law Digodok, Pesangon Korban PHK Cuma 6 Bulan Gaji?

Dream - Pemerintah masih mematangkan wacana pemberian pesangon untuk para pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maksimal 6 bulan gaji. Ketentuan tersebut semula akan masuk dalam produk hukum omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja. 

Wacana pembatasan besaran pesangon tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Kalangan pekerja menilai besaran pesangon tersebut takkan bisa menutupi kebutuhan hidup para pegawai yang terkena PHK.

Sekretaris Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial (PHI) Kementerian Tenaga Kerja, Adriani, mengatakan pemerintah sampai kini masih mendiskusikan tentang besaran pesangon yang akan diberikan kepada korban PHK.

 

 Omnibus Law Digodok, Pesangon Korban PHK Cuma 6 Bulan Gaji?© Dream

 

“ Ini yang sedang kami diskusikan bagaimana nasib para buruh yang terkena dampak PHK akibat pesangon,” kata Adriana di Jakarta, ditulis Selasa 11 Februari 2020.

Fokus perhatian Kemnaker pada ketentuan pesangon ini adalah cara buruh benar-benar mendapatkan pesangon sesuai dengan regulasi yang ada.

“ Ini yang kami didiskusikan. Selama ini, peraturan ada tapi pekerja buruh pada akhir masa kerjanya tidak dapat,” kata dia.

3 dari 6 halaman

Dari Sisi Perusahaan

Kalangan pengusaha turut mengkritisi sejumlah ketentuan dalam draft Omnibus Law yang masih dalam tahap diskusi tersebut. Salah satunya adalah pengenaan upah minimum yang dianggap terlalu tinggi dan tak sesuai target penciptaan lapangan kerja baru.

Omnibus law seharusnya membuat lapangan pekerja di Indonesia semakin besar. Namun, upah minimum membuat biaya yang dikeluarkan lebih besar dan bisa berujung PHK.

“ Kami menyadari pabrik tidak mau rugi dan dengan membuat pekerja lembur di hari libur dengan biaya yang lebih besar, kami berpikir pada akhirnya mencari solusi dengan cara impor karena kami melihat barang impor lebih murah 10 persen," kata PGA&IR Head Pako Group, Agus Marwo Prianto.

Perusahaan yang menjadi penyedia lapangan kerja bagi buruh merasa kebijakan upah dari Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja yang terlalu tinggi menjadi ancaman untuk mempersempit lapangan pekerjaan.

Lama-lama, kata Agus, pabrik yang semula untuk produksi bisa berubah fungsi menjadi gudang karena terlalu sering mengambil barang dari luar negeri.

" Ini sebenarnya ancaman untuk Omnibus Law yang cipta lapangan kerja ini dari sisi upah nggak ada ngerem kami khawatir yang tadinya manufacturing company berubah jadi trading, pabrik yang biasanya berisik jadi hening karena apa dijadikan gudang kalau sudah seperti ini apa kebutuhan lapangan pekerjanya bakal sebanyak saat pabrik masih berfungsi?” kata dia.

 (Laporan: Sania Suha Marwan)

4 dari 6 halaman

Kemnaker: AS dan Malaysia Juga Terapkan Omnibus Law

Dream - Pemerintahan Presiden Joko Widodo sedang merancang perombakan peraturan perundang-undangan yang disebut omnibus law. Nantinya, aturan tersebut akan mengganti beberapa Undang-Undang sekaligus.

“ Kami membentuk satu Undang-Undang baru dengan mencabut peraturan-peraturan yang sudah ada di dalam peraturan-peraturan yang lain,” kata Sekretaris Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial Kementerian Tenaga Kerja, Adriana, dalam “ Insight Talenta: Mengulas Kebijakan Omnibus Law dari Sisi SDM dan Ketenagakerjaan” di Jakarta, Senin 10 Februari 2020.

Menurut Adriana, metode ini dilakukan dengan meringkas peraturan atau jalan keluar untuk masalah benturan kebijakan yang terjadi. Omnibus law ini sudah digunakan oleh beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Konsep ini bisa mencabut beberapa pasal pada peraturan dengan bersamaan dan lebih cepat.

 

 Kemnaker: AS dan Malaysia Juga Terapkan Omnibus Law© Dream


Dia mengatakan, omnibus law yang dirancang ini fokus terhadap beleid cipta lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM. Saat ini, pemerintah sedang memproses pengajuan kebijakan omnibus law untuk merespons perlambatan dan ketidakpastian perekonomian global sampai gejolak ekonomi.

Misalnya, untuk cipta lapangan kerja, pemerintah ingin mempercepat pertumbuhan bisnis dan investasi di Indonesia. Konsep ini unggul dari sisi kepraktisan dalam melakukan perubahan. Akan tetapi, juga punya kelemahan, yaitu penyerapan biaya yang tak sedikit dan substansi yang kompleks.

(Laporan: Shania Suha Marwan)

5 dari 6 halaman

4 Aspek Jaminan Produk Halal Terdampak Omnibus Law

Dream - Ketentuan mengenai sertifikasi halal yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal rupanya masuk dalam cakupan Rancangan UU Omnibus Law. Terdapat sejumlah pasal dalam UU JPH yang terkena dampaknya. 

Dikutip dari laman Kementerian Agama, Rabu 22 Januari 2020, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Mastuki, mengatakan pihaknya turut dilibatkan dalam pembahasan RUU yang dinamai Cipta Lapangan Kerja tersebut. Pembahasan juga melibatkan Kemenko Perekonomian, Kemenkeu dan Kementerian/Lembaga terkait dan sudah berlangsung hingga pertengahan Januari 2020.

Mastuki mengatakan Omnibus Law dalam konteks jaminan produk halal ditekankan pada empat aspek. Aspek pertama, penyederhanaan proses sertifikasi halal.

 

 4 Aspek Jaminan Produk Halal Terdampak Omnibus Law© Dream

 

" RUU Omnibus Law ini semangatnya pada percepatan waktu proses sertifikasi halal, baik di BPJPH, MUI, maupun Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Jadi harus ada kepastian waktu,” kata Mastuki.

Aspek kedua, pembebasan biaya untuk Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang mengurus sertifikasi halal. " Istilah yang muncul dalam pembahasan adalah di-nol rupiahkan. Di UU JPH sebelumnya menggunakan istilah 'fasilitasi bagi UMK',” kata dia.

Aspek ketiga, pengoptimalan peran dan fungsi LPH, auditor halal, dan penyelia halal untuk mendukung kelancaran pelaksanaan sertifikasi halal. Persyaratan, prosedur, dan mekanismenya akan disesuaikan.

Sedangkan aspek keempat, keberadaan alternatif sanksi antara administratif atau pidana. Nantinya, pendekatan akan dilakukan secara persuasif dan edukatif.

" Dalam pembahasannya, kami menghindari sanksi pidana, hanya sanksi administratif,” kata dia.

Lebih lanjut, Mastuki mengaku ada banyak pasal dalam UU JPH akan mengalami penyesuaian. Beberapa di antaranya Pasal 1, 7, 10, 13, 14, 22, 27-33, 42, 44, 48, 55, 56, dan 58.

“ Pasal 4 tentang kewajiban sertifikasi halal bagi produk, tidak jadi pembahasan,” kata dia.

6 dari 6 halaman

Kata Kemenko Perekonomian Soal Draf RUU Omnibus Law Lapangan Kerja Bocor

Dream - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membantah draft Rancangan Undang--Undangan (RUU) Omnibus Law penciptaan lapangan kerja yang beredar di media massa. Kementerian dibawah komando Airlangga Hartanto memastikan belum pernah menyerahkan draft kepada DPR. 

Mengutip keterangan tertulis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu 22 Januari 2020, draf RUU yang beredar berjudul “ Penciptaan Lapangan Kerja”, sedangkan payung hukum yang sedang dalam proses finalisasi berjudul “ Cipta Lapangan Kerja”.

" RUU Cipta Lapangan Kerja masih dalam proses finalisasi oleh Pemerintah," tulis Kemenko Perekonomian dalam keterangan tertulisnya. 

Beredarnya aturan yang ramai disebut sebagai Draft RUU Omnibus Law, lanjut Kemenko Perekonomian dipastikan bukan draft RUU dari pemerintah. Isi dari aturan dari draft tersebut juga tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

" Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga tidak pernah menyebarluaskan draft RUU Penciptaan Lapangan Kerja dalam bentuk apa pun sampai proses pembahasan selesai," tulis keterangan tertulis tersebut. 

Terkait draft RUU Omnibus Law tersebut, pemerintah telah merampungkan substansi RUU Cipta Lapangan Kerja dan telah diusulkan ke Badan Legislasi Nasional DPR RI untuk dicantumkan dalam Program Legislasi Nasional.

Rencananya, DPR RI akan menetapkan Daftar Prolegnas Prioritas Tahun 2020, hari ini.

Selanjutnya, pemerintah akan langsung menyiapkan Surat Presiden (Surpres) yang ditujukan kepada Ketua DPR RI setelah RUU Cipta Lapangan Kerja dipastikan tercantum dalam Daftar Prolegnas Prioritas Tahun 2020.

 

 Kata Kemenko Perekonomian Soal Draf RUU Omnibus Law Lapangan Kerja Bocor© Dream

 

Dalam Surpres tersebut, Presiden akan menyertakan draft Naskah Akademik dan RUU Cipta Lapangan Kerja. " Sampai saat ini Surat Presiden tersebut belum disampaikan."
 
Kemenko Perekonomian juga memastikan ppemerintah akan selalu memperhatikan masukan dan pertimbangan dari masyarakat sampai dengan RUU Cipta Lapangan Kerja tersebut disampaikan kepada Ketua DPR RI.
 
RUU Cipta Lapangan Kerja adalah terobosan regulasi untuk menjaga keseimbangan antara perluasan lapangan kerja dan perlindungan pekerja, untuk menghasilkan investasi baru sehingga dapat menampung 9 juta calon pekerja demi pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk mencapai Indonesia Maju.

Terkait
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id