Kamu Tak Sendiri! 56% Orang Dewasa Sulit Tidur karena Pikirkan Uang

Dinar | Minggu, 7 Juli 2019 13:01
Kamu Tak Sendiri! 56% Orang Dewasa Sulit Tidur karena Pikirkan Uang

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Mereka tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keuangan.

Dream – Terkadang kamu berbaring dan sulit tidur pada malam hari. Meski sudah membolak-balik badan, mematikan lampu kamar, dan memejamkan mata, tetap saja semua upaya itu  gagal.

Tenang Sahabat Dream, kamu bukan satu-satunya yang mengalami hal itu.  Kita biasanya akan mengalami kesulitas tidur saat otak terus berputar memikirkan sesuatu.

Dikutip dari World of Buzz, Senin 8 Juli 2019, sebuah survei terbaru yang diterbitkan oleh Bankrate, menyebutkan 78 persen orang dewasa mengalami insomnia karena tekanan sehari-hari. Salah satunya adalah masalah keuangan.

Survei terhadap orang-orang Amerika ini menunjukkan lebih dari 56 persen responden berusia 18 tahun ke atas kehilangan rasa ingin tidur karena masalah uang, tabungan pensiun, dan perawatan kesehatan.

Dikatakan juga hampir 1 dari 3 orang atau 32 persen responden menyebut pengeluaran sehari-hari adalah salah satu penyebab stres terbesar.

Masalah sulit tidur juga berpengaruh terhadap orang yang bergaji rendah maupun tinggi. Dikatakan bahwa 63 persen responden berpenghasilan kurang dari US$30 ribu (Rp424,87 juta) per tahun dan 53 persen yang bergaji US$80 ribu (Rp1,13 miliar) per tahun pernah susah tidur karena masalah keuangan.

2 dari 6 halaman

Bagaimana dengan Generasi X?

Meskipun orang dewasa paruh baya merupakan kelompok yang jarang tidur, generasi berusia 39-54 tahun ini juga terpengaruh masalah keuangan. Sebanyak 64 persen responden yang merupakan generasi X ini mengatakan tak bisa tidur karena memikirkan cicilan rumah dan sewa bulanan.

Generasi milenial (23—38 tahun) juga insomnia gara-gara uang. Ada 58 persen generasi Y yang cemas dengan tabungan pensiun. Generasi milenial juga tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan harga rumah yang makin tinggi dan utang kartu kredit.

3 dari 6 halaman

Bagaimana dengan Baby Boomers?

Ada 54 persen generasi baby boomers yang tak bisa tidur karena stres terhadap keuangan. Mayoritas merasa stres karena khawatir dengan pengeluaran sehari-hari, sedangkan 25 persen lainnya karena pensiun, perawatan kesehatan, dan tagihan asuransi.

Sementara itu, generasi Z juga terkena insomnia akibat uang. Dikatakan bahwa 33 persen dari mereka cemas tentang biaya kuliah uang makin naik.

4 dari 6 halaman

Bos, Sebaiknya Izinkan Karyawan untuk Tidur Siang

Dream – Bagi perusahaan, tidur siang acapkali menjadi tindakan yang kurang disiplin, bahkan mencerminkan perilaku malas. Namun, pakar justru menyarankan perusahaan untuk memberikan waktu tidur siang bagi karyawan.

“ Cahaya dari barang elektronik, seperti layar komputer, televisi, dan smartphone bisa merusak rutinitas tidur,” kata psikolog, Nerina Ramlakhan, dikutip dari The Sun, Rabu 4 April 2018.

Ramlakhan menyarankan perusahaan untuk mengizinkan karyawan tidur siang di sela waktu kerja, terutama hari Senin. Wanita yang sekaligus periset untuk manufaktur kasur Silentnight ini mengatakan perubahan waktu santai di akhir pekan dan awal pekan membuat karyawan drop selama empat jam.

Dia juga menekankan kehilangan waktu tidur selama satu jam akan berbahaya bagi kesehatan. “ Bos sebaiknya mengizinkan pegawainya untuk tidur siang di kantor. Ini akan memberikan dampak yang besar,” kata dia.

Terapis tidur ini percaya bahwa tidur siang bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki otot-otot, dan bisa menjadi antipenuaan dini.

“ Hanya dengan 25 menit, tidur siang bisa memberikan perbedaan besar. Tidur bisa meningkatkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Mereka juga menyeimbangkan kembali sistem imunitas. Ini berarti karyawan yang sakit pada hari kerja menjadi lebih sedikit,” kata dia.

Ramlakhan menggarisbawahi waktu tidur siang yang tepat itu berkisar jam 14.00-16.00. Selebihnya, akan berdampak kepada tidur malam.

[crosslink_1]

5 dari 6 halaman

Kurang Tidur, Produktivitas Kerja Menurun

Dream – Mengurangi waktu tidur secara teratur tak berarti kamu bisa mengerjakan semua tugas dengan kelebihan waktu yang dimiliki. Sebuah studi menunjukkan orang-orang yang kurang tidur sebenarnya kurang produktif dalam bekerja.

Dikutip dari studyfinds.org, Jumat 13 Juni 2019, studi ini diterbitkan dalam jurnal “ Sleep”. Kajian ini menunjukkan bahwa orang-orang yang tidur selama 7-8 jam sehari lebih produktif 20 persen daripada yang tidur selama 5-6 jam per malam.

Produktivitas orang-orang yang tidur selama 5-6 jam per malam justru turun 29 persen.

Studi ini dilakukan oleh National Institute of Environmental Health Sciences. Kajian tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah masalah tidur seperti insomnia, mengantuk, dan mendengkur bisa menyebabkan penurunan produktivitas atau tidak.

Para peneliti mengkaji data dari 1.007 peserta yang berusia 22 tahun—60 tahun. Kualitas tidur ribuan peserta ini juga dilihat dari beragam aspek, mulai dari kesehatan, masalah tempat kerja, sampai tekanan keuangan.

6 dari 6 halaman

Insomnia Perparah Produktivitas Kerja

Pimpinan kajian, Robert Yang, mengatakan, insomnia turut memperparah penurunan produktivitas. Robert mengatakan insomnia sedang sampai berat membuat produktivitas anjlok hingga 58 persen.

Kantuk pada siang hari dan mendengkur juga menjadi penyebab produktivitas kerja turun.

“ Ini adalah bukti tidur bukanlah kegiatan yang sia-sia. Ini adalah investasi waktu yang bijak,” kata dia.

Lantas harus bagaimana? Robert menyarankan orang-orang untuk tidak lembur.

“ Cobalah berinvestasi dalam kesehatan pribadi dan keuangan dengan tidur lebih banyak,” kata Robert. (ism)

4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian
Join Dream.co.id