Suku Bunga Acuan BI Resmi Naik, Siap-siap Bunga Kredit Mobil dan Rumah Ikut Naik

Dinar | Sabtu, 24 September 2022 17:27

Reporter : Alfi Salima Puteri

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ini tentunya akan memukul sektor riil. Bunga pinjaman yang dikenakan perbankan akan menjadi lebih mahal.

Dream - Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DDR) sebesar 0,50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen.

Bank Sentral juga mengerek suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5 persen.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono menjelaskan, keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0±1 persenpada paruh kedua 2023.

" Selain itu kenaikan suku bunga dapat memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat," tutur Erwin dalam keterangan resminya.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ini tentunya akan memukul sektor riil. Bunga pinjaman yang dikenakan perbankan akan menjadi lebih mahal.

 

Suku Bunga Acuan BI Resmi Naik, Siap-siap Bunga Kredit Mobil dan Rumah Ikut Naik
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto Dan Menteri Perindustrian, Agus Kartasasmita Di Acara Pembukaan GIIAS 2022. Foto: Deki Prayoga
2 dari 3 halaman

Sebagai informasi, sektor riil atau disebut juga real sector, adalah sektor yang sesungguhnya, yaitu sektor yang bersentuhan langsung dengan kegiatan ekonomi di masyarakat yang sangat mempengaruhi atau yang keberadaannya dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan, kenaikan suku bunga acuan BI akan sangat mempengaruhi sektor riil. Sebab, bunga pinjaman yang dikenakan perbankan akan menjadi lebih mahal.

" Dampaknya jelas terhadap sektor riil bisa mengurangi minat pelaku usaha meminjam dari perbankan. Bunga jadi lebih mahal, sementara permintaan konsumen lemah," kata Bhima dikutip dari laman Merdeka,com, Minggu, 25 September 2022.

Bhima mengungkapan untuk kredit konsumsi seperti KPR dan kredit kendaraan bermotor dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki awan cukup gelap.

3 dari 3 halaman

Sehingga, Bank harus bersiap cari cara agar nasabah KPR masih tertarik meminjam.

" Misalnya promo bunga fix rate untuk KPR diperpanjang hingga 5 Tahun," bebernya.

Bhima menerangkan, kenaikan bunga acuan sebesar 50 bps menjadi sinyal kuat BI ingin mengimbangi naiknya suku bunga bank sentral AS.

Sebab, Rupiah tidak akan bisa bertahan apabila BI tidak naikan bunga 50 bps.

" Selain itu ada kekhawatiran inflasi karena naiknya harga BBM cukup berbahaya sehingga respon BI naikan bunga cukup agresif. Perkiraan kedepan BI akan naikan bunga 50 basis poin lagi," pungkasnya.

Join Dream.co.id