Bos Tukang Mengatur Bikin Pegawai Nyeri Punggung, Kok Bisa?

Dinar | Selasa, 4 Februari 2020 10:24
Bos Tukang Mengatur Bikin Pegawai Nyeri Punggung, Kok Bisa?

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Penyakit yang sama tak ditemukan pada pegawai yang diberi kebebasan saat bekerja.

Dream - Beberapa pegawai menganggap atasan meraka adalah sosok yang menyeramkan sekaligus menyebalkan. Apalagi jika bos itu bertipe pengatur. Pekerjaan sedetail apapun akan mereka awasi langsung.

Kebiasaan bos yang tergolong micromanaging itu ternyata tak sepenuhnya baik di dunia kerja. Para ahli bahkan ada yang mengaitkan tipe bos ini sebagai pemicu para anak buahnya mengalami sakit punggung bawah kronis.

Mengutip laporan studyfinds.org, Selasa 4 Februari 2020, para peneliti di Technise Universitat Dresden menyimpulkan adanya kaitan antara faktor psikososial di tempat kerja, seperti beban kerja, tingkat otonomi, dan dukungan sosial bisa berkontribusi pada nyeri punggung bawah kronis pada pegawai.

Diketahui sebanyak 23 persen dari populasi dunia mengeluhkan nyeri punggung bawah kronis. Untuk pekerja kantoran, sakit punggung bawah acapkali dikaitkan dengan kebiasaan duduk yang tidak sehat atau tak wajar, membungkuk, atau sekadar duduk normal selama berjam-jam.

Selain faktor cara duduk yang salah, tim peneliti menganalisis 19 ribu set data dari 18 studi untuk mengungkapkan hubungan antara psikososial dengan nyeri punggung. Hasilnya ternyata menunjukan adanya kaitan erat antara nyeri tersebut dengan sikap bos di kantor.

“ Orang dengan beban kerja tinggi lebih sering menderita sakit punggung bawah kronis,” kata psikolog sosial, Anne Tomaschek.

Anne mengatakan masalah yang sama tak banyak dialami pegawai yang diberi kebebasan saat menjalankan pekerjaannya.

Dari hasil penelitian tersebut, para ahli menyimpulkan jika risiko sakit punggung lebih rendah terjadi kepada orang yang selalu mendapat dukungan dari tempat kerja atau atasan dan rekan kerja.

Peneliti Denise Dorfel menilai data ini bisa memberikan dasar penting untuk pengembangan program pencegahan.

“ Dukungan sosial dan kolega lebih banyak feedback serta mendapatkan pengakuan dari atasan bisa membantu (menekan risiko nyeri punggung bawah),” kata Denise.

Sekadar informasi, studi ini diterbitkan dalam jurnal BMC Musculoskeletal Disorders.

2 dari 5 halaman

Mau Ganti Karier Tahun Depan, Lakukan Dulu 3 Hal Ini

Dream - Tahun 2020 tinggal hitungan minggu. Tak sedikit yang sudah berencana untuk mencari karier baru. Kalau kamu salah satunya, ada beberapa hal yang harus diketahui sebelumnya.

Dikutip dari Karir.com, Senin 16 Desember 2019, yang pertama dilakukan adalah memperbarui curriculum vitae (CV). Sebelum mencari lowongan kerja baru di tahun 2020, pastikan kamu sudah memperbarui CV yang akan digunakan untuk melamar kerja.

Cobalah review kembali pencapaian apa saja yang sudah berhasil diraih selama tahun 2019 untuk ditambahkan ke CV yang dimiliki. Apabila memang tidak ada prestasi yang menonjol, kamu bisa mulai dengan merubah desain cv yang dimiliki agar lebih segar dan sesuai dengan kondisi saat ini.

 

 Mau Ganti Karier Tahun Depan, Lakukan Dulu 3 Hal Ini© Dream



Ke dua, cek gaji terbaru. Ada baiknya sebelum melamar ke sebuah pekerjaan baru, kami melakukan sedikit survei tentang gaji untuk lowongan yang diinginkan. Standar gaji di Indonesia tentunya selalu berubah mengikuti kebijakan pemerintah tentang upah minimum regional.

Selain itu, pengalaman dan juga kemampuan kalian tentunya sudah meningkat. Dengan begitu, tidak ada salahnya untuk melakukan penyesuaian gaji untuk kamu saat ini.

3 dari 5 halaman

Tingkatkan Keterampilan Kerja

Agar bisa diterima dengan lancar, kamu harus bisa menunjukkan kemampuan terbaik dalam bekerja. Naikkan skill dan pengetahuan dalam pekerjaan agar pemberi kerja makin tertarik dengan kemampuan yang dimiliki.

Tidak ada salahnya untuk mulai belajar beberapa macam skill yang bisa meningkatkan kemampuan kamu dalam bekerja. Jika memang waktu yang kamu miliki memang sedikit, cobalah untuk mengambil kursus singkat atau belajar online.

Dengan menggunakan metode ini kamu bisa tetap beraktivitas normal dan meningkatkan skill secara mudah.

4 dari 5 halaman

4 Keuntungan Jadi Aktivis di Kampus, Berguna untuk Karier

Dream – Menjadi seorang aktivitis di kampus memang bukan pilihan yang mudah dan nyaman bagi banyak orang. Tapi, tak bisa dipungkiri menjadi seorang aktivis bisa membawa banyak pengaruh dalam karier kamu.

Lantas apa saja keuntungan yang bisa didapatkan seorang aktivis dalam berkarier?

Dikutip dari Karir.com, Senin 30 September 2019, pertama, pengalaman organisasi. Menjadi seorang aktivis berkaitan erat dengan kegiatan organisasi kampus dan juga UKM.

Pengalaman berorganisasi nantinya akan berguna saat berkarier di perusahaan yang biasanya mengharuskan pegawai untuk lebih luwes bekerja antar divisi.

 

 4 Keuntungan Jadi Aktivis di Kampus, Berguna untuk Karier© Dream

 

Fondasi yang sudah terbentuk sebagai seorang aktivis di kampus akan memudahkan kamu masuk dalam berbagai kondisi di dalam perusahaan.

Kedua, terbiasa berpikir kritis. Seorang aktivitis yang sudah terbiasa untuk berpikir kritis tentang kondisi yang ada. Ini merupakan sebuah nilai plus yang harus dimiliki oleh seorang fresh graduate.

Karena pada akhirnya perusahaan akan membutuhkan ide-ide segar dan baru untuk mencapai visi yang sudah ditentukan. Tak menutup kemungkinan perusahaan akan membutuhkan banyak kontribusi berupa ide untuk membantu bisnis perusahaan lebih baik.

5 dari 5 halaman

Jaringan Profesional yang Luas

Ketiga, jaringan professional yang luas. Sebagai seorang aktivis, mau tak mau pada akhirnya kamu akan bertemu dan berinteraksi dengan berbagai pihak. Mulai dari rekan kampus yang berbeda sampai kalangan pejabat.

Dengan dikenal lebih banyak orang, tentunya akan memudahkan kamu untuk mendapatkan kesempatan bekerja atau membangun perusahaan sendiri.

 Jaringan Profesional yang Luas© MEN

Keempat, terbisa dengan tekanan. Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang mewajibkan seorang pelamar memiliki kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan. Tentunya ini bukan hal yang asing bagi seorang aktivis.

Karena saat menjadi seorang aktivis memang memiliki tekanan yang cukup besar dari berbagai pihak untuk memperjuangkan idealismenya.

Keempat hal diatas tadi tentunya hanya sebuah gambaran singkat yang mengenai kualitas positif dari seorang aktivis. Tetapi secara lebih luas, menjadi seorang aktivis memang tidak mudah untuk memperjuangkan idealisme di tengah perubahan yang terus terjadi. (ism)

Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair
Join Dream.co.id