Setahun Pandemi Covid-19, Pramugari Diputus Kontrak dan Berjualan Tahu

Dinar | Rabu, 3 Maret 2021 17:12
Setahun Pandemi Covid-19, Pramugari Diputus Kontrak dan Berjualan Tahu

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

"Jangan pernah menyerah. Itu harga mati."

Dream - Indonesia tak terasa telah melalui satu tahan pandemi Covid-19. Berbagai pelaku usaha mencoba bertahan melalui badai yang tak disangka-sangka sebelumnya. Virus Sars-CoV-2 memang melumpuhkan hampir sebagian besar sektor usaha masyarakat. 

Salah satu yang cukup terpukul adalah industri penerbangan komersial. Jumlah penumpang rata-rata turun separuhnya dibandingkan tahun sebelumnya. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi salah satu langkah yang ditempuh sebagian besar maskapai.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia mengatakan pemulihan industri transportasi ini tak bisa diprediksi, tergantung dari penanganan pemerintah terhadap penyebaran Covid-19.

Sementara, pengamat penerbangan masih melihat peluang percepatan pemulihan industri penerbangan dengan promosi wisata yang mengetatkan protokol kesehatan.

2 dari 6 halaman

Awal Mula Kisah Pahit

Pada Jumat 27 Maret 2020, lebih dari 20 pramugari dan pramugara dikumpulkan di sebuah ruang rapat di salah satu ruang Garuda Operation Center (GOC), Banten. Semua berpakaian formal bebas, sebagian menggunakan stelan berwarna hitam.

Sebelum rapat dimulai, ruangan sempat diisi tawa dan canda saat sejumlah orang di antara mereka merekam video dari ponsel untuk diunggah di media sosial. Suasana ruangan mendadak hening ketika manajer tiba.

Sang manajer mengumumkan, para pelayan penumpang pesawat di ruangan tersebut diputus kontrak. Alasannya jumlah penerbangan menurun karena pandemi global.

" Ketika bapak itu keluar, kita nggak ada yang bisa ngomong apa-apa. Setelah bapak itu keluar, kita baru nangis, shock," kata Martha Putri mengingat kejadian setahun lalu.

Sesuai kontrak kerja, ia semestinya bisa diangkat menjadi karyawan tetap pada bulan berikutnya.

Beberapa hari sebelum pengumuman pemutusan kontrak kerja, Martha masih rutin mengirim surat elektronik kepada atasannya terkait dengan penilaian kinerjanya sebagai " nilai tambah untuk diangkat pegawai di bulan April" .

" Saya kirim semua penilaian saya, nggak ada artinya. Karena chief saya sudah tahu kita semua nggak mungkin ada di Garuda lagi. Jadi buat apa kirim itu lagi?," kata Martha.

3 dari 6 halaman

Profesi Impian Kandas Diterjang Pandemi

Momen terakhir berstatus sebagai pramugari Garuda Indonesia ini sempat diabadikan Josephine Wulandari, teman satu angkatan Martha Putri. Ia mengunggah kembali salah satu Instagram Story temannya yang menunjukkan foto kru satu angkatan yang tersenyum.

Dia melabeli foto itu, " smile fake as usual" .

" Cuma dikasih surat yang menyatakan kalau kontrak kita tidak diperpanjang. Dari situ kita heart brokenbanget," kata Jojo, sapaan akrab Josephine.

Jojo juga bercerita begitu sulit untuk mencapai karier sebagai pramugari--profesi impian sejak kecil. Ia sudah dua kali melamar tapi gagal. Sampai akhirnya ia diterima saat lamaran ketiga pada akhir 2017 lalu, namun jenjang kariernya kandas karena pandemi.

Selama dua tahun bekerja, Jojo mengutarakan pengalamannya saat menjadi pramugari.

" Banyak, tapi lebih ketemu orang, belajar banyak hal, ketemu teman-teman baru, bisa ke destinasi baru yang aku belum pernah jalanin."

4 dari 6 halaman

Jatuh dan Kembali Bangkit

Jojo sempat jatuh sakit setelah menerima pengumuman dari perusahaannya itu karena terlalu banyak pikiran. Selama berbulan-bulan, ia hanya " Bengong, nangis, makan, tidur."

Sesekali ia juga memasukkan lamaran kerja ke sejumlah perusahaan, meski belum ada jawaban yang diharapkan. Sampai akhirnya, ia terbangun.

" Sudah deh terserah dari mana saja, asal selama itu halal, apa pun saya kerjain. Walaupun cuma antar jemput, jadi sopir nggak apa-apa," katanya.

Selama tafakur di masa pandemi, ia pun belajar tentang arti persahabatan.

" Kelihatan mana orang yang mau temanan di saat kamu masih ada uang, mana teman-teman yang benar-benar sama kamu di saat kamu nggak punya apa-apa."

Tiga bulan pertama setelah putus kontrak, menjadi masa-masa sulit Martha Putri.

" Sempat nggak bisa move on. Sempat seperti masih sedih-sedih, masih nggak menyangka, masih berharap dipanggil lagi sama Garuda, itu kurang lebih tiga bulan," katanya.

Bulan-bulan yang dihadapi dengan " lemas dan tak bersemangat" ini akhirnya terpecahkan setelah, salah seorang teman Martha mengajak untuk membuka usaha tahu crispy di kawasan Cibinong, Jawa Barat.

" Finalnya itu teman bulan Juli dibantu untuk buka usaha tapi kecil-kecilan. Ya udah deh, ikut. Itu juga awalnya nggak semangat. Cuma dijalani. Bisa terealisasi."

5 dari 6 halaman

Buka Usaha

Beberapa bulan kemudian, Martha juga diajak adiknya untuk kembali membuka usaha Sate Taichan. Usaha ini sebenarnya pernah dilakoni Martha dan adiknya sebelum ia bekerja sebagai pramugari.

" Ya sudah, aku support semua. Karena sate aku sudah lumayan dikenal orang di daerah Cibinong. Sosmednya dihidupin lagi. Satenya juga akhirnya aku bikin lagi. Sambelnya semua segala macam. Ya kita ibaratnya bangun lagi dari awal," katanya.

Usaha ini masih dijalankannya, sembari itu, Martha juga membuka usaha penjualan pakaian yang rencananya toko online ini akan diluncurkan April mendatang.

Sementara itu, Jojo menemukan titik balik untuk membuka usaha yang pernah ia tekuni semasa SMA: membuat kue brownies.

" Itu juga awalnya setengah hati, kayak cuma iseng-iseng jualin. Ada nggak ya yang beli? Ternyata, lumayan nih. Banyak nih peminatnya," katanya.

Kue buatan Jojo juga dipesan pada acara kantor, termasuk memasok ke sejumlah toko kopi. Akan tetapi, belakangan ini, usahanya sebagian dilimpahkan kepada keluarganya karena Jojo sudah mulai bekerja di sebuah klinik kesehatan sejak Januari lalu.

" Untuk akhir-akhir ini kurang tertangani. Karena aku sudah mulai dapat kerjaan baru, jadi terbagi dua gitu. Jadi aku mesti minta bantuan kakakku dan mamaku, untuk bikin brownies itu," katanya.

Baik Jojo dan Martha, keduanya mengakui penghasilan yang ia dapatkan kini jauh berbeda saat masih bekerja sebagai pramugari. Mereka mengatakan, gaji pramugari rata-rata di atas Rp15 juta/bulan. Sementara pekerjaan yang ditekuni saat ini, tak sampai setengahnya.

 

6 dari 6 halaman

Masih Berharap

Bagaimana pun, Jojo dan Martha berada di antara jutaan pekerja lainnya yang menjadi korban PHK karena pandemi Covid-19. Dari situasi ini, Jojo mendapat pelajaran penting.

" Jangan pernah menyerah. Itu harga mati. Walau pun aku nggak lanjut kerja di tempat yang aku cita-citakan, tapi aku selalu ambil hikmahnya. Kalau aku nggak kena kayak gitu, mungkin brownies aku sudah nggak jalan," katanya.

Martha pun ikut menimpali.

" Bersyukurnya karena pandemi, aku jadi dekat dengan keluarga. Aku ada di rumah. Adik-adikku juga ada di rumah, dan usaha juga bareng sama adikku. Jadi kita bareng-bareng," kata Martha.

Sambil berharap, jika suatu saat ada kesempatan menjadi pramugari lagi, keduanya tetap akan memilih pekerjaan itu.

Sumber: bbc.com

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Join Dream.co.id