Hati-Hati! Pegawai Keseringan Lembur Terancam Sindrom Kronis Ini

Dinar | Senin, 13 Januari 2020 19:15
Hati-Hati! Pegawai Keseringan Lembur Terancam Sindrom Kronis Ini

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Bekerja lembur tak disarankan oleh pakar kesehatan.

Dream - Dunia kerja kini semakin kompetitif. Kondisi tersebut tanpa disadari menyebabkan banyak orang bekerja di luar jam kerja ideal. Bahkan, tak sedikit yang terpaksa lembur dan bekerja hingga dini hari.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit St. Carolus, Laurentius Aswin Pramono, mengatakan jam kerja yang terlalu lama bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti imunitas turun serta gampang terserang penyakit seperti flu dan pneunomia.

“ Ditandai dengan burn out,” kata Aswin dalam peluncuran PRUTotal Critical Protection di Jakarta, Senin 13 Januari 2020.

Dia mengatakan stres secara mental tak diperbolehkan sebab bisa menyebabkan gangguan seperti cemas, depresi , dan psikosomatis. Tanda lain yang kerap dialami adalah sindrom lelah kronis atau chronic fatigue syndrome.

 peluncuran PRUTotal Critical Protection

“ Itu ditandai ketika seseorang sudah istirahat, tapi nggak pulih-pulih tenaganya. Itu psikologis,” kata Aswin.

Jika sudah terkena penyakit tersebut, Aswin menyarankan untuk melakukan penyembuhan mental maupun fisik.

" Perlu dukungan keluarga, mengistirahatkan diri sendiri, nonton bioskop, makan enak bersama teman, yang menyenangkan secara psikologis. Liburan itu perlu," kata dia.

2 dari 7 halaman

Sering Lembur, Pria Ini Meninggal Saat Wawancara Kerja

Dream - Terlalu banyak lembur tak baik juga bagi kesehatan. Selain bisa sakit, lembur yang berlebihan bisa memicu kematian dini, seperti yang terjadi pada seorang pria di Hangzhou, China.

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 3 Desember 2019, pria berusia 36 tahun itu meninggal dunia saat mengikuti wawancara kerja. Dia mengembuskan napas terakhir setelah terus lembur dalam pekerjaan sebelumnya.

 

 Sering Lembur, Pria Ini Meninggal Saat Wawancara Kerja © Dream

 

Pria yang tak disebutkan namanya itu tiba-tiba kolaps saat berbicara dengan pewawancara kerja. Dia langsung dibawa ke rumah sakit saat pupilnya melebar dan dinyatakan meninggal dunia.

Pewawancara mengatakan pria ini selalu lembur dan ini alasannya ingin berganti pekerjaan. Tak hanya itu, kandidat ini juga punya darah tinggi.

3 dari 7 halaman

Pasien Jantung Jangan Bekerja Terlalu Keras

Dokter mengatakan, pria itu meninggal karena serangan jantung. Pasien yang mengidap penyakit jantung koroner dan hipertensi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Penyakit serangan jantung ini juga bisa menyerang siapa pun yang sehat.

Dokter yang menangani pria ini sempat merawat pasien lain yang bertahan dari serangan jantung di tempat kerjanya dua minggu sebelumnya.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, kondisi pasien membaik. Namun, pasien ingin keluar dari rumah sakit karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dokter menyarankan siapa pun yang pernah mengalami serangan jantung harus berhati-hati dan menghindari bekerja terlalu keras. Ini bisa menghindarkan diri dari potensi serangan jantung.

4 dari 7 halaman

Sering Lembur? Hati-hati Rambut Bisa Cepat Botak

Dream – Peringatan bagi kamu yang sering bekerja lembur. Kajian menyebutkan ada potensi kebotakan dua kali lebih cepat yang dialami oleh karyawan yang bekerja lebih dari 52 jam per minggu.

Dikutip dari World of Buzz, Kamis 24 Oktober 2019, peneliti dari Sungkyunkwhan University of Medicine di Korea Selatan, menemukan orang-orang yang bekerja lebih dari 52 jam per minggu akan mengalami kebotakan dua kali lebih cepat daripada yang bekerja di bawah 52 jam per minggu.

 Sering Lembur? Hati-hati Rambut Bisa Cepat Botak © Dream

Dalam kajian yang dirilis di “ Annals of Occupational and Environmental Medicine”, pada 2017, peneliti membagi 13.391 responden menjadi tiga kelompok berdasarkan jam kerja, yaitu normal (bekerja 40 jam per minggu), panjang (52 jam per minggu), dan sangat panjang (lebih dari 52 jam per minggu). Para responden ini merupakan pria dan wanita yang berusia 20—59 tahun. Mereka juga didata berdasarkan umur, status pernikahan, pendidikan, dan faktor-faktor lainnya.

Hasil penelitian ini menunjukkan jam kerja tinggi mendorong peningkatan rambut rontok. Kondisi ini bsa memicu terjadinya kebotakan.

5 dari 7 halaman

Stres Picu Kebotakan

Menurut kajian, grup “ normal” memiliki tingkat kebotakan 2 persen, “ panjang” 3 persen, dan “ lebih panjang” 4 persen. Dikatakan juga pria yang memiliki jam kerja lebih panjang, memiliki tingkat kebotakan lebih tinggi daripada yang normal.

Jam kerja yang tinggi menimbulkan stres. Nah, stres ini bisa menghentikan pertumbuhan rambut di kepala. Terlalu lama bekerja juga bisa mengubah level hormon yang bisa berdampak negatif kepada tubuh.

Berdasarkan penelitian, periset meminta legislator untuk mengurangi jam kerja karyawan.

6 dari 7 halaman

Studi: Pekerja Sering Lembur Berisiko Meninggal Lebih Cepat

Dream – Sahabat Dream sering diminta lembur? Sebaiknya diskusikan informasi penting ini dengan atasan?

Seorang kajan baru menunjukan pegawai yang sering begadang karena bekerja sampai larut malam berisiko tinggi meninggal lebih cepat dibandingkan rekannya yang hanya bekerja di siang hari.

Dilansir dari Metro, Jumat 13 April 2018, para ilmuwan menemukan fakta mereka yang bekerja pada malam hari rentan terkena penyakit jantung dan disfungsi metabolisme jika harus bangun pagi.

 

 Studi: Pekerja Sering Lembur Berisiko Meninggal Lebih Cepat © Dream

 

Tak hanya itu, para pekerja malam ini akan terkena risiko kematian 10 persen lebih besar.

Anggota dari Northwestern University di Chicago, Amerika Serikat, Kristen Knutson, mengatakan perusahaan sebaiknya memberikan aturan yang fleksibel bagi karyawan yang lembur.

“ Mereka seharusnya tidak dipaksa untuk bangun jam 08.00,” kata Knutson.

7 dari 7 halaman

Risiko Diabetes dan Gangguan Mental Tinggi

Sumber data temuan itu diperoleh dari informasi medis dan genetik 500 ribu orang Inggris berusia 40 tahun-69 tahun dari Biobank selama enam tahun. Hasil kajian diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International.

Selain penyakit jantung dan disfungsi metabolisme, “ pekerja malam” memiliki risiko diabetes dan gangguan mental yang lebih tinggi.

“ Ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang tidak bisa lagi diabaikan,” kata rekan penulis kajian, Malcolm von Schantz.

(Sah)

 

[crosslink_1]

Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak
Join Dream.co.id