Mau Beli Rumah? Ajukan 7 Pertanyaan Ini ke Pengembang

Dinar | Rabu, 26 Juni 2019 09:36
Mau Beli Rumah? Ajukan 7 Pertanyaan Ini ke Pengembang

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Kamu perlu memastikan kualitas rumah yang akan dibeli, jangan sampai keropos sebelum waktunya.

Dream – Secara tak kasat mata, sebuah rumah baru, tampak terlihat baik-baik saja. Tapi, kamu membutuhkan perhatian pada detail untuk memastikan kualitas sebenarnya.

Ini penting ketika kamu akan membeli rumah, baik yang baru atau yang bekas.

Dikutip dari Rumah.com, Rabu 26 Juni 2019, faktor kenyamanan dan keamanan adalah hal yang perlu diperhatikan untuk sebuah hunian, termasuk dari sisi estetika. Jangan sampai kamu mengeluarkan uang untuk renovasi, padahal hunian itu baru saja dibeli.

Sebab, ada saja oknum kontraktor yang suka menurunkan spesifikasi atau irit bahan bangunan. Alhasil, kualitas bangunannya rendah dan tak sesuai seperti yang dijanjikan.

Kualitas bangunan memang bergantung pada spesifikasi bahan bangunan dan cara membangunnya. Untuk rumah baru, spesifikasi bahan bangunan biasanya dicantumkan pada brosur rumah.

Tapi, jangan mudah percaya pada spesifikasi yang tertera di brosur. Brosur bisa saja diubah sewaktu-waktu oleh para pengembang.

Jangan pula mudah tergiur oleh mulut manis staf pemasaran perumahan, apalagi jika rumahnya bukan ready stock alias inden.

Berikut ini adalah cara mengecek tipe kualitas bangunannya.

2 dari 7 halaman

Begini Cara Cek Tipe Kualitas Bangunan

Kalau rumahnya bukan siap huni, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengembang untuk mengecek kualitas bangunannya. Kalau tak paham istilah teknis atau seputar material bahan bangunan, kamu bisa mengajak orang yang paham, misalnya tukang bangunan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu diajukan, agar kamu dapat mengetahui kondisi rumah yang sebenarnya sejak dini. Jangan sampai cicilan KPR belum lunas, tapi rumah sudah harus direnovasi.

1. Apa bahan-bahan yang digunakan untuk pondasi, dinding, lantai, genteng, dan plafon?

2. Bahan jenis apa saja yang digunakan untuk kusen dan rangka atapnya?

3. Berapa ukuran besi cor yang digunakan?
(Catatan: rumah yang kuat minimal menggunakan besi berukuran diameter 8 mm).

4. Apa jenis kabel listrik yang digunakan?

5. Berapa daya listrik yang disediakan?

6. Berapa tinggi plafon rumah?

(Catatan: plafon yang rendah akan membuat rumah menjadi panas.)

7. Bagaimana sistem sirkulasi udara dan sanitasinya?

3 dari 7 halaman

Gaji Rp5 Juta Bisa Beli Rumah? Ini Strateginya

Dream – Rencana membeli rumah sebisa mungkin harus dilakukan ketika muda dan produktif. Ketika belum berkeluarga, kamu lebih mudah membayar angsuran tanpa dibebani dengan keperluan bulanan yang menguras penghasilan.

Jika pendapatanmu di kisaran Rp5 juta, tak perlu khawatir dan sulit memiliki rumah idaman. Kamu bisa memilih rumah Rp200 juta yang bisa menjadi incaran.

Dikutip dari Rumah.com, ada dua langkah yang perlu kamu lakukan agar bisa membeli rumah dengan gaji Rp5 juta.

Pertama, menghitung pengeluaran bulanan. Metode membeli rumah melalui pembiayaan bank bisa menjadi pilihan. Kalau dapat pembiayaan dari bank, usahakan angsurannya maksimal sepertiga dari penghasilan rutin.

Misalnya, gajimu Rp5 juta per bulan. Maka, kemampuan bayar cicilan per bulan maksimal adalah Rp1,5 juta.

Atau, kamu bisa mencari beberapa bank yang mengizinkanmu mengangsur maksimal Rp2 juta per bulan.

Dengan angka itu, kamu harus bisa menghitung dengan cermat besar pengeluaran rutin setiap bulan. Jangan sampai melebihi angka Rp2,5 juta per bulan. Tujunnya agar ke depannya tak merasa berat ketika membayar angsuran.

4 dari 7 halaman

Siapkan Uang Muka

Kedua, menyiapkan uang muka. Bank Indonesia telah menetapkan besaran uang muka sekitar 15 persen dari harga rumah. Namun ada juga beberapa pengembang yang menetapkan besaran uang muka hanya 5 persen sebagai harga promosi.

Agar aman, siapkan uang muka kira-kira Rp30 juta sebelum mengajukan permohonan KPR. Meskipun demikian, tetapkan target tabungan yang lebih tinggi, sekitar Rp50 juta untuk menutup biaya ekstra yang diperlukan ketika KPR disetujui.

Perlu diingat, semakin besar uang muka, beban cicilan akan semakin ringan. Kamu bisa mencicil Rp50 juta jika mengumpulkan Rp2 juta per bulan.

Semoga bermanfaat!

(Ism)

5 dari 7 halaman

4 Kesalahan Anak Milenial Saat Membeli Rumah, Hindari!

Dream – Sebuah survei menunjukkan fakta mengejutkan tentang generasi milenial yang membeli rumah. Sebagian besar generasi Y mengaku menyesal setelah membeli rumah.

Dikutip dari CNBC, Minggu 21 Juli 2018, Bank of West merilis survei tentang generasi milenial. Hasilnya, sebanyak 4 dari 10 generasi milenial yang disurvei mengaku telah memiliki rumah sendiri.

Namun ada kabar buruknya. Sebanyak 68 persen dari responden mengaku menyesal setelah membeli hunian tersebut.

“ Generasi milenial begitu bersemangat untuk memiliki rumah,” kata Kepala Bisnis Ritel Bank of West, Ryan Bailey.

Menurut Bailey, semangat para anak muda itu sayangnya dilakukan dengan meninggalkan banyak kesalahan.

Dalam pandangannya, ada empat kesalahan yang dilakukan oleh generasi milienial ini dalam membeli rumah. Yang pertama, masalah uang muka. Survei ini menemukan 1 dari 3 orang generasi Y menggunakan dana pensiun untuk membayar uang muka.

“ Meminjam sebagian uang dari masa pensiun mungkin masuk akal dalam keadaan khusus, tetapi itu jela tidak direkomendasikan,” kata dia.

Kesalahan yang kedua, menyepelekan biaya-biaya tambahan. Pengeluaran tidak berhenti begitu saja setelah membeli rumah. Generasi ini harus memahami biaya dasar, seperti tagihan listrik. Makanya, Bailey merekomendasikan untuk mempertimbangkan berapa banyak waktu dan uang yang diperlukan untuk memotong rumput, membersihkan rumah, atau menghadapi keran yang bocor.

Ketiga, membeli rumah yang tak beres. Survei menemukan 1 dari 5 orang generasi Y frustrasi dengan kerusakan yang mereka temukan setelah pindah dan juga mengatakan mereka menemukan rumah itu tidak " bekerja dengan baik" untuk keluarga mereka.

Untuk menghindari biaya tak terduga, para ahli merekomendasikan untuk mendapatkan calon rumah sebelum menyelesaikan penjualan.

" Jika pembeli pertama atau pemilik rumah baru, kamu mungkin bahkan tidak tahu apa yang harus dicari. Jadi, kamu menginginkan ada pihak yang ahli di sampingmu," kata Kepala Ekonomi Realtor.com, Danielle Hale.

(Sah, Laporan: Rahma Yultus)

[crosslink_1]

6 dari 7 halaman

Ternyata, Pembeli Rumah Subsidi Dapat Asuransi

Dream – Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), terus menyalurkan rumah subsidi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Penyaluran ini dilakukan melalui Program Sejuta Rumah.

Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 24 Agustus 2018, MBR yang akan membeli rumah subsidi, akan mendapatkan tanggungan asuransi. Misalnya, asuransi jika terjadi kebakaran, asuransi jiwa, sampai default kreditnya.

“ Mereka diberhentikan kerja dan tidak bisa membayar. Itu ter-cover,” kata Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti, di Jakarta.

Tapi, asuransi kalau terjadi bencana alam masih digodok pemerintah. “ Itu belum disebutkan asuransinya. Ini yang sedang kami bahas bagaimana kalau terjadi sebuah bencana,” kata dia.

Lana mengatakan, Kementerian PUPR belajar dari dampak gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “ Kami tak menutup kemungkinan bahwa bisa terjadi bencana di lokasi-lokasi lain karena Indonesia juga terletak di ring of fire. Jadi, mungkin saja di lokasi lain juga bisa terkena,” kata dia.

7 dari 7 halaman

Salurkan 582 Ribu Rumah Subsidi

Menurut Lana, per 20 Agustus 2018, pemerintah telah menyalurkan 582.638 unit rumah subsidi. Program rumah ini tak hanya untuk MBR, tetapi juga masyarakat non-MBR. Namun, porsi rumah bagi non-MBR hanya sedikit.

“ Yang non-MBR itu kan porsi yang dibangun. Nah, mereka, kan, ambil KPR yang komersial. Yang akan lebih terpengaruh dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Kalau rumah subsidi, itu benar-benar rumah yang dibangun pengembang dengan harga yang sesuai dengan harga subsidi,” kata Lana.

Dia menambahkan, rumah subsidi ini masuk ke dalam urusan pemerintah. “ Kalau yang non-MBR tidak diurus, hanya dicatat saja bahwa itu masuk ke dalam Program Sejuta Rumah,” kata Lana.

Menurut data Kementerian PUPR, rumah subsidi bagi MBR sebanyak 68 persen dan non-MBR 32 persen. Selama periode 2015—2017, porsi rumah subsidi untuk non-MBR terus mengecil. Pada 2015, porsi rumah MBR dan non-MBR sebesar 65:32, 2016 71:29, dan 2017 75:25.

Sumber: Liputan.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana

Join Dream.co.id