Sampai Mana Perkembangan Spin Off Asuransi Syariah?

Dinar | Selasa, 8 Juni 2021 06:13

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Proses spin off paling lambat dilakukan tiga tahun lagi.

Dream – Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian mewajibkan perusahaan asuransi melepas unit usaha syariah (UUS). Spin off ini dilakukan paling lambat tahun 2024.

Lalu, sudah sampai mana perkembangannya? Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nurhidayat, mengatakan, ada sejumlah perusahaan asuransi yang siap untuk melakukan spin off.

“ Kami juga sudah mendengar ada perusahaan yang akan konversi, ada yang segera spin off,” kata Tatang dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Industri dan Analisa Asuransi Syariah Indonesia Triwulan I (Jan-Mar) 2021”, Senin 7 Juni 2021.

Dia juga mengatakan, ada investor yang tertarik masuk ke industri asuransi syariah, baik untuk akuisisi, menambah modal, atau masuk ke dalam industri. Latar belakang investor ini berasal dari swasta, luar neger, atau BUMN.

Namun, Tatang belum bisa menjelaskan lebih lanjut tentang spin off. “ Kami melihat ketertarikan investor cukup baik,” kata dia.

Sampai Mana Perkembangan Spin Off Asuransi Syariah?
Asuransi Diminta Untuk Melepas Unit Usaha Syariahnya Untuk Menjadi Perusahaan Yang Berdiri Sendiri. (Foto: Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Kuartal I 2021, Kontribusi Asuransi Syariah Melesat 45,2 Persen

Dream – Di tengah pandemi COVID-19, industri asuransi syariah tumbuh baik pada kuartal I 2021. Hal ini terlihat dari pertumbuhan aset dan kontribusi premi yang naik.

“ Alhamdulillah, asuransi syariah dapat meningkat dari berbagai aspek,” kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Nurhidayat, dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Industri dan Analisa Asuransi Syariah Indonesia Triwulan I (Jan-Mar) 2021”, Senin 7 Juni 2021.

 

 Kuartal I 2021, Kontribusi Asuransi Syariah Melesat 45,2 Persen© Dream

 

Aset asuransi syariah meningkat 7,32 persen dari Rp41,12 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp44,14 triliun pada Maret 2021. Rinciannya, aset asuransi jiwa syariah senilai Rp35,92 triliun, asuransi umum Rp6,14triliun, dan reasuransi syariah Rp2,08 triliun.

Aset asuransi jiwa syariah dan asuransi umum syariah naik, kecuali reasuransi syariah yang turun 1,8 persen.

3 dari 5 halaman

Kontribusi Asuransi Syariah Naik Double Digit

Sementara itu, kontribusi bruto melesat 45,2 persen dari Rp4,01 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp5,83 triliun pada 2021. Rinciannya, kontribusi asuransi jiwa syariah senilai Rp5,17 triliun, asuransi umum syariah Rp510 miliar, dan reasuransi syariah Rp221 miliar.

“ Artinya, (pertumbuhan kontribusi) hampir setengahnya dari kuartal I 2020 ke kuartal I 2021,” kata Tatang.

Dia juga menambahkan bahwa pembayaran klaim asuransi syariah meningkat 88,17 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp2,28 triliun pada Maret 2021. Investasi asuransi syariah pun juga ikut naik 3,20 persen menjadi Rp36,28 triliun pada Maret 2021.

“ Tentu ini menjadi hal yang patut disyukuri bersama dan juga menjadi modal perasuransian syariah untuk terus tumbuh lebih baik lagi,” kata Tatang.  

4 dari 5 halaman

Kewajiban Spin Off Dorong Pelaku Usaha Asuransi Syariah Kerja Keras

Dream – Industri asuransi mengakui kewajiban spin off unit usaha syariah (UUS) pada 2024 akan bersinggungan dengan cost dan persiapan yang matang bagi perusahaan. Namun, kewajiban ini akan mendorong para pelaku usaha untuk lebih fokus dan bekerja keras untuk mengembangkan industri asuransi syariah.

“ Kalau melihat dari perusahaan-perusahaan yang sudah terdahulu melakukan spin off, memang ada perubahan paradigma serta strategi yang diterapkan dalam berbisnis,” kata Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia, Tatang Nurhidayat, “ Smart Syariah Radio Smart FM: Prospek Asuransi Syariah Pasca Spin Off” dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 24 Februari 2021.

 

 Kewajiban Spin Off Dorong Pelaku Usaha Asuransi Syariah Kerja Keras© Dream

 

Dia mengatakan fase spin off ini memang akan terasa sulit. Dari sekian banyak unit asuransi syariah yang ada saat ini, tidak semua bisa melewati fase ini.

“ Namun bagi yang lolos dalam fase ini, akan menjadi perusahaan asuransi syariah yang kuat, mandiri, fokus, serta memiliki ciri khas tersendiri,” kata Tatang.

Tatang juga mengatakan, penetrasi pasar akan terus meningkat dan produk-produk asuransi syariah berkembang. Bagi pemegang saham, tentunya ini menjadi spektrum sebagai growth engine baru dalam menggarap pasar industri asuransi syariah ini.

5 dari 5 halaman

Peran Pemerintah Besar dalam Industri Asuransi Syariah Pasca Spin Off

Peran pemerintah, kata dia, juga besar dalam pertumbuhan industri asuransi syariah setelah spin off. Misalnya, dalam pembentukan konsorsium asuransi barang milik negara, lanjutnya, jika perusahaan asuransi syariah dapat diikutsertakan dalam konsorsium.

“ Tentu ini menjadi value tersendiri bagi industri asuransi syariah. Memang dalam hal ini, pemerintah menjadi peserta asuransi dan sebagai pihak tertentu,” kata dia.

AASI selalu siap untuk menjadi mediator bagi pelaku usaha asuransi syariah dengan pemerintah dan regulator. Termasuk dalam memastikan proses spin off ini berjalan dengan lancar, mengoptimalkan potensi, serta memperkecil efek samping yang muncul dengan kewajiban pemisahaan ini.

“ Sejauh ini AASi juga telah berusaha mengoptimalkan potensi industri asuransi syariah, di antaranya dengan mengusulkan agar industri asuransi syariah mendapatkan porsi bisnis yang layak dari berbagai pihak,” kata dia.

Join Dream.co.id