Sah! Tarif Listrik Non-Subsidi Resmi Turun Hari Ini

Dinar | Kamis, 1 Oktober 2020 13:46
Sah! Tarif Listrik Non-Subsidi Resmi Turun Hari Ini

Reporter : Syahid Latif

Penurunan tarfi listrik PLN berlaku untuk perhitungan pemakaian bulan Oktober-Desember 2020.

Dream - Tarif listrik PT PLN (persero) untuk pelanggan non-subsidi golongan rendah resmi turun mulai perhitungan tagihan Oktober sampai Desember 2020. Penurunan tarif ini diharapkan bisa meringankan beban pengeluaran masyarakat yang terdampak pandemik Covid-19.

Dengan kebijakan baru ini, tarif PLN yang berlaku sampai akhir tahun 2020 adalah sebesar Rp1.444,7 per KWh, atau turun Rp 22,5 per KWh dari sebelumnya Rp 1.467 per KWh.

" Mulai triwulan 4, melalui pemerintah kita diminta menurunkan tarif Tenaga listrik," kata General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B. Pangaribuan, di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2020.

Menurut Doddy, penurunan tarif listrik untuk pelanggan golongan rendah memang terbilang kecil. Namun, Hal tersebut merupakan upaya PLN dalam membantu meringankan beban masyarakat di tengah pandemi virus Corona baru (Covid-19).

" Mungkin saat Pandemi ini kecil, tapi diharapkan mengurangi tekanan masyarakat saat pandemi," tuturnya.

 

2 dari 5 halaman

Ini Daftar Tarif Listrik yang Turun

Berikut daftar pelanggan yang mendapatkan penurunan tarif listrik:

1. R-1 TR 1300VA
2. R-1 TR 2200 VA
3. R-2 TR 3500 VA -5500 VA
4. R-3 TR 6600 VA
5. B-2 TR 6600 VA - 200 kVA

Sementara untuk pelanggan rumah tangga daya 450 VA mendapatkan diskon 100 persen (digratiskan), dan pelanggan rumah tangga daya 900 VA bersubsidi mendapatkan diskon 50 persen yang sudah dimulai sejak April 2020.

Selain itu, keringanan juga diberikan bagi pelanggan bisnis kecil daya listrik 450 VA dan industri kecil daya 450 VA dengan diskon 100 persen.

(sah, Sumber: Liputan6.com)

3 dari 5 halaman

Tarif Pelanggan Menengah dan Tinggi Tetap Sama

Dream - Para pelanggan PLN golongan tarif rendah bakal bisa berhemat mulai bulan depan. Pemerintah memutuskan untuk menurunkan tarif listrik untuk 7 golongan pelanggan non-subsidi untuk tagihan periode Oktober-Desember 2020.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada direktur utama PLN pada 31 Agustus 2020 terkait penurunan tarif adjustment listrik untuk pelanggan golongan rendah.

Dengan keputusan tersebut, tarif listrik per kWh untuk pelanggan golongan rendah ini turun 22,5 per kWh menjadi Rp1.444,70 dari sebelumnya Rp1.467 per kWh.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menegaskan pelanggan tegangan menengah dan tegangan tinggi tarifnya tetap, sama dengan perhitungan besaran tarif tenaga listrik periode Juli-September 2020.

" Sedangkan khusus untuk pelanggan rumah tangga 900 VA-RTM, tarifnya tidak naik atau tetap sebesar Rp 1.352 per kWh," kata Agung di Jakarta, Selasa, 1 September 2020.

Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 28 Tahun 2016 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan oleh PT PLN (Persero), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2020, apabila terjadi perubahan terhadap realisasi indikator makro ekonomi (kurs, Indonesian Crude Price/ICP, inflasi, dan Harga Patokan Batuara/HPB), yang dihitung secara tiga bulanan (untuk periode Triwulan IV menggunakan realisasi Mei s.d. Juli 2020), maka akan dilakukan penyesuaian terhadap tarif tenaga listrik.

Diketahui selama periode Mei-Juli 2020 terdapat perubahan parameter ekonomi makro rata-rata per tiga bulan, dengan realisasi kurs sebesar Rp 14.561,52 per Dollar AS, harga Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$ 34,33 per barrel, tingkat inflasi sebesar 0,05 persen, dan Harga Patokan Batubara sebesar Rp 666,72/kg.

Merujuk perubahan empat parameter tersebut, tarif tenaga listrik untuk pelanggan nonsubsidi tegangan rendah akan dilakukan penyesuaian (diturunkan). Sedangkan untuk pelanggan non-subsidi tegangan menengah dan tegangan tinggi tetap mengacu tarif periode sebelumnya Juli-September 2020.

 

4 dari 5 halaman

Agung menyatakan, ini dilakukan dengan pertimbangan melihat kondisi saat ini dan untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di masa pandemi Covid-19, serta tetap mendukung daya saing pelanggan bisnis dan industri.

" Penurunan tarif tenaga listrik untuk pelanggan non-subsidi tegangan rendah ini diharapkan dapat membantu menjaga daya beli masyarakat serta mendukung stabilitas ekonomi nasional di masa pandemi ini," ujar dia.

Para pelanggan yang akan menikmati penurunan tarif tenaga listrik yakni pelanggan rumah tangga daya 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 sampai dengan 5.500 VA, 6.600 VA ke atas.

Selain pelanggan rumah tangga, penggulan listrik PLN kelas bisnis dengan daya 6.600-200 kVA, pelanggan pemerintah daya 6.600 hingga 200 kVA dan penerangan jalan umum juga mengalami penurunan tarifnya sebesar Rp 22,58 per kWh menjadi sebesar Rp 1.444,70 per kWh.

Sementara untuk pelanggan rumah tangga 900 VA-RTM, tarifnya tidak naik atau tetap sebesar Rp 1.352 per kWh.

Sedangkan untuk pelanggan Tegangan Menengah (TM) seperti pelanggan bisnis, industri, pemerintah dengan daya lebih dari 200 kVA, besaran tarifnya tetap sebesar Rp 1.114,74/kWh.

Bagi pelanggan Tegangan Tinggi (TT) yang digunakan industri daya 30.000 kVA ke atas, tarif juga tidak mengalami perubahan yakni Rp 996,74 per kWh.

 

5 dari 5 halaman

25 Golongan Pelanggan Listrik Bersubdi Tak Berubah

Di sisi lain, tarif tenaga listrik untuk 25 golongan pelanggan bersubsidi lainnya juga tidak mengalami perubahan. Sebanyak 25 golongan pelanggan ini tetap diberikan subsidi listrik, termasuk di dalamnya pelanggan yang peruntukan listriknya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis kecil, industri kecil, dan kegiatan sosial.

Pemerintah juga memberikan perlindungan sosial atas dampak COVID-19 melalui pemberian diskon tarif tenaga listrik untuk rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, serta pelanggan bisnis kecil 450 VA dan industri kecil 450 VA.

Lebih lanjut, Agung buka kemungkinan, ke depan tarif tenaga listrik dapat kembali mengalami perubahan. Hal ini melihat perkembangan ICP, kurs, inflasi, dan HPB. Selain itu, efisiensi yang dilakukan PLN juga dapat menjadi pemicu turunnya tarif tenaga listrik.

" Kementerian ESDM berharap PLN dapat terus meningkatkan efisiensi operasional, sehingga biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik per kWh dapat diupayakan turun atau minimal tetap dari tahun sebelumnya," pungkas Agung.

(Sah)

Join Dream.co.id