Ekonomi RI Diambang Resesi, Ini yang Akan Dihadapi Masyarakat

Dinar | Kamis, 24 September 2020 14:35
Ekonomi RI Diambang Resesi, Ini yang Akan Dihadapi Masyarakat

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

apa dampak langsung yang akan dirasakan masyarakat?

Dream - Resesi teknikal ekonomi kemungkinan akan dihadapi Indonesia imbas dari perlambatan perekonomian global akibat akibat pandemi Corona. Sinyal pertumbuhan negatif pada kuartal III-2020 sudah disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. 

Pada kuartal III-2020, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di zona negatif. Bila terjadi, artinya Indonesia sudah dua kuartal berturut-turut mencatat kontraksi ekonomi dan dipastikan resmi mengalami resesi teknikal.

Menkeu menyampaikan proyeksi pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 berada di rentang minus 2,8% hingga minus 1%. Dus ekonomi sepanjang tahun 2020 diprediksi ambles minus 0,6% bahkan bisa hingga kontraksi 1,7%.

Negative teritory akan terjadi di kuartal III dan mungkin masih berlangsung di kuartal IV yang kita upayakan akan tetap dekat dengan 0% di level positif. Semua forecast ini bagaimana perkembangan kasus Covid-19 dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi,” kata Menkeu Sri Mulyani dikutip dari Liputan6.com, Kamis 24 September 2020.

Kepastian resesi ekonomi saat ini masih menunggu data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang akan diumumkan bulan depan. Jika benar terjadi resesi, apa dampak langsung yang akan dirasakan masyarakat?

2 dari 6 halaman

Merosotnya Daya Beli Masyarakat

Ekonom Institute Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyatakan, dampak nyata resesi ekonomi adalah penurunan daya beli masyarakat.

Terlebih dia menilai, kondisi tersebut sudah mulai terasa ketika pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi hingga minus 5,32 persen pada kuartal II lalu.

" Kalau dampak paling besar atas potensi resesi yakni merosotnya daya beli, karena pendapatan masyarakat hilang atau terpangkas sehingga masyarakat tidak bisa konsumsi normal. Kan mulai ini terasa di kuartal II kemarin," ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Rabu 9 September 2020 lalu.

Menurutnya, penurunan daya beli ini tercermin dari sejumlah indikator, khususnya Indeks Penjualan Riil (IPR) yang berada dalam tren negatif. Di mana pada Juni lalu, IPR mengalami minus 17,1 persen. Kendati membaik dari minus 20,6 persen pada Mei.

" Artinya selama kebijakan pelonggaran PSBB dilakukan, aktivitas ekonomi yang ada tidak seperti diharapkan oleh pemerintah. Imbasnya masyarakat secara umum daya belinya secara masih rendah," paparnya.

 

 

3 dari 6 halaman

Angka Pengangguran dan Kemiskinan Bertambah

Pandemi Covid-19 membuat ekonomi Indonesia terancam masuk resesi. Di masa resesi ada sejumlah dampak yang ditimbulkan. Lapangan pekerjaan akan semakin sempit dan angka pengangguran makin meningkat.

" Kondisi ini berimplikasi pada angka kemiskinan yang bertambah," kata Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, dalam diskusi bertajuk Mempercepat Geliat Sektor Riil dalam mendukung Pemulihan Ekonomi: Peranan BUMN dalam mendukung pemulihan Ekonomi, Jakarta, Selasa 28 Juli 2020.

Kehidupan sosial keluarga juga akan terganggu. Mulai dari gaya hidup dan pendidikan karena tidak sedikit orang yang kehilangan pendapatan dan pekerjaan. Rencana investasi juga akan terganggu karena dana yang ada dialokasikan untuk mempertahankan kebutuhan hidup.

Nilai perumahan juga akan turun. Hal ini disebabkan banyak rumah tangga yang menurunkan niatnya untuk menyewa atau membeli properti. Namun, di sisi lain, pinjaman dan utang akan semakin meningkat.

" Pinjaman dan utang akan semakin meningkat karena keluarga akan mencari sumber pinjaman baru," kata dia.

 

 

4 dari 6 halaman

Ekonomi Tak Lantas Berhenti Seketika

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, M. Sarmuji menyebut bahwa Indonesia secara tehnikal berkemungkinan besar masuk dalam kategori resesi. Sebab, per definisi jika suatu negara mengalami pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut negara tersebut masuk kategori resesi.

" Pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal kedua tumbuh minus 5,3 persen dan jika pada kuartal ketiga pertumbuhan masih negatif maka secara teknis dikategorikan resesi," kata Sarmuji di Jakarta, Selasa 23 September 2020.

Namun Sarmuji mengingatkan bahwa resesi ekonomi itu bukan berarti ada guncangan besar ekonomi.

" jangan bayangkan jika secara teknis masuk resesi seolah-olah ekonomi berhenti seketika."

 

 

 

5 dari 6 halaman

Ilustrasi Resesi© Shutterstock

Sarmuji memberi keyakinan bahwa fase krisis yang sebenarnya sudah di lalui. Di mana Indonesia mengalami kontraksi paling dalam secara ekonomi sudah dilalui yaitu pada kuartal kedua kemarin. Kuartal ketiga nanti diperkirakan kontraksi sudah tidak akan besar lagi.

" Kuartal ketiga sebenarnya ekonomi sudah mulai melakukan pembalikan arah ke arah positif tetapi karena kuartal kedua minus 5,3 persen agak berat untuk sampai ke level di atas 0 persen. Kuartal ketiga kemungkinan masih minus tapi sudah tidak terlalu besar," katanya.

 

 

6 dari 6 halaman

Namun demikian, Sarmuji menyarankan beberapa rekomendasi. Pertama, pemerintah harus memanfaatkan ekonomi global yang sudah mulai menunjukkan tanda perbaikan dengan mencermati pasar luar negeri dan komoditas apa yang bisa di suplay dari Indonesia.

" kedua agar pemerintah segera memacu pengeluaran," katanya.

Ketiga mempercepat pencairan berbagai program sosial untuk meningkatkan daya beli.

" Jika ekspor meningkat dan konsumsi dan pengeluaran pemerintah bisa dipercepat otomatis akan menjadi daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi," katanya.

Sumber: merdeka.com

Terkait
Join Dream.co.id