Kisah Haru Penjual Nasi di Tengah Corona, Memohon ke Pembeli Datang Kembali

Dinar | Selasa, 31 Maret 2020 09:48
Kisah Haru Penjual Nasi di Tengah Corona, Memohon ke Pembeli Datang Kembali

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Saat pandemi corona, penjualannya pun sepi, bahkan harus berjualan hingga belasan jam untuk penghasilan senilai ratusan ribu rupiah.

Dream – Imbauan jaga jarak (social distancing) membuat banyak pegawai kantoran memilih bekerja dari rumah dengan nyaman. Namun di luar sana masih banyak orang yang dengan sangat terpaksa tetap mencari uang di luar rumah saat pandemi virus corona.

Perjuangan mereka tak berhenti sampai di situ saja. Untuk mendapatkan uang ratusan ribu, mereka harus membuka toko lebih dari 12 jam.

Dikutip dari World of Buzz, Selasa 31 Maret 2020, seorang warganet Malaysia bernama Gary Chong berbagi kisah saat berjumpa dengan penjaja warung makanan. Kala itu, Gary hendak keluar rumah untuk membeli barang di toko kelontong.

“ Saat mengemudi, saya melewati salah satu kedai kopi jajanan lokal favorit. Saya kebetulan melihat ada tiga kios jajanan terbuka,” kata dia.

Gary memesan tiga paket nasi ayam. Saat membeli dagangan, Gary bercerita sang penjual mengeluh harus buka warung dari jam 07.00 sampai 23.00. Selama jam buka warung, penjual hanya mengantongi uang 100 ringgit-180 ringgit (Rp377.780-Rp680.004).

“ Penjual melanjutkan akan berhenti jika bisnisnya berjalan seperti ini selama dua minggu lagi,” kata Gary.

Malah, kata dia, sang penjual memohon kepada Gary untuk membeli makanannya lagi pada malam hari. Dikatakan bahwa sang penjual akan memberikan ekstra daging di paket-paket yang dibelinya.

2 dari 2 halaman

Sadari Hal Ini

Ini membuat Gary tersadar. Masalahnya tak hanya berakar kepada kurangnya pembeli akibat masa karantina yang ditetapkan oleh pemerintah Malaysia, tetapi juga ketidaktahuan terhadap perkembangan teknologi. Penjual makanan ini juga cemas jika konsumen keberatan dengan harga makanan yang bisa melonjak saat didaftarkan di platform pesan antar.

Saat ditawari bantuan secara finansial, penjual makanan itu menolaknya. Dikatakan bahwa uang dari pembeli masih cukup baginya.

Gary pun datang lagi pada malam hari. Dia membeli nasi dengan setengah ayam. Diselipkan uang dalam nominal besar di nampan. Itu pun tak disadari oleh penjual.

Pria ini menyadarkan masyarakat bahwa tak semua penjual melek teknologi. Dia meminta masyarakat untuk lebih sering membeli makanan di kios-kios di sekitar lingkungan. Kalau perlu, ajaklah berkomunikasi agar interaksi sosial semakin akrab.  

Join Dream.co.id