Penjelasan Unilever Soal Sengketa Merek Pasta Gigi

Dinar | Jumat, 15 Januari 2021 08:13
Penjelasan Unilever Soal Sengketa Merek Pasta Gigi

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Perusahaan ini digugat karena brand pasta gigi.

Dream – Beberapa waktu yang lalu, beredar kabar bahwa PT Unilever Indonesia Tbk digugat karena merek pasta gigi. Perusahaan ini angkat bicara tentang masalah tersebut.

Dikutip dari keterbukaan informasi, Kamis 14 Januari 2021, Sekretaris Perusahaan Unilever, Reski Damayanti, mengatakan perkara itu masih dalam proses hukum kasasi. Hingga saat ini, proses hukumnya masih berjalan.

“ Saat ini, perkara tersebut sedang dalam proses hukum kasasi atas putusan sebelumnya yang dijatuhkan pada bulan November 2002 lalu. Proses hukum kasasi saat ini masih berjalan,” kata Reski di Jakarta.

Sekadar informasi, Unilever digugat oleh Hardwood Privated Limited (di Indonesia dikenal sebagai perusahaan Orang Tua).

Dalam sengketa merek pasta gigi yang dilayangkan di Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Unilever ditetapkan untuk membayar ganti rugi kepada Hardwood sebesar Rp30 miliar. Atas putusan ini, Unilever mengajukan kasasi kepada Mahkaha Agung.

Terkait sengketa merek pasta gigi, perusahaan consumer goods ini menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Unilever juga berharap hasilnya lancar dan membawa hasil yang adil dan baik.

“ Selain kasus ini belum berkekuatan hukum tetap, kami berpandangan bahwa perkara ini tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, keuangan, harga saham, dan atau kelangsungan usaha perseroan,” kata Reski. 

2 dari 4 halaman

Pesantren Sehat Unilever Jangkau 10 Juta Anak

Dream - PT Unilever Indonesia Tbk, melalui Unilever Indonesia Foundation menghadirkan Program Sekolah dan Pesantren Sehat.

Digagas sebagai program terintegrasi dari beberapa pembiasaan sejak 2016, tahun ini telah mencapai misi untuk menjangkau 10 juta anak di 41.847 sekolah dan pesantren di berbagai wilayah Indonesia.

 

 Pesantren Sehat Unilever Jangkau 10 Juta Anak© Dream

 

Beragam program pelatihan bagi guru dan murid, serta fasilitas diberikan untuk terus menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak-anak sejak dini di lingkungan pendidikan, yang urgensinya kian terasa di tengah pandemi Covid-19.

" Program Sekolah dan Pesantren Sehat berusaha meningkatkan kesehatan dan kebersihan 1,3 miliar orang di seluruh dunia. Di masa pandemi program ini makin relevan sebagai upaya melindungi kesehatan anak, mempersiapkan mereka menghadapi era adaptasi kebiasaan baru, sekaligus menekan penularan Covid-19," jelas Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, dalam acara virtual konferensi pers, Kamis 24 September 2020.

3 dari 4 halaman

Penanaman PHBS sangat diperlukan karena anak merupakan salah satu golongan usia yang rentan terjangkit penyakit, termasuk Covid-19.

Bahkan tercatat bahwa jumlah kematian anak (0-18 tahun) akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik, angkanya 1,1% lebih tinggi dari Tiongkok, Italia dan Amerika.

Data lain menunjukkan Indonesia menduduki peringkat pertama terkait proporsi angka kejadian Covid-19 pada anak, yaitu sebesar 9,1%.

4 dari 4 halaman

Sebagai bentuk kepedulian Uniliver Indonesia Foundation terhadap anak dan lingkungan pendidikan, turut menyumbangkan wastafel permanen untuk cuci tangan dan sikat gigi, serta mendistribusikan produk-produk kebersihan dan kesehatan di area sekolah dan pesantren.

Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah lingkungan pendidikan menjadi klaster penyebaran Covid-19.

" Masyarakat perlu memahami bahwa meski seringkali tidak menunjukkan gejala, anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 memiliki jumlah virus dalam darah atau viral load yang tinggi di saluran napas sehingga kemungkinan mereka menularkan individu lainnya sangat besar. Maka untuk meminimalkan risiko ini, biasakan anak melakukan PHBS dengan benar, dan pastikan mereka mendapatkan gizi seimbang sehingga imunitasnya tetap terjaga," jelas dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A.

 

Terkait
Join Dream.co.id