Alasan Indonesia Belum Keluarkan Travel Warning ke China

Dinar | Selasa, 28 Januari 2020 15:36
Alasan Indonesia Belum Keluarkan Travel Warning ke China

Reporter : Ahmad Baiquni

Saat ini WNI masih dibolehkan bepergian ke China meski virus corona masih mewabah.

Dream - Wabah virus corona generasi baru, 2019-NCoV, tengah menjangkiti sejumlah negara. Bahkan negara terdekat Indonesia yaitu Singapura dan Malaysia melaporkan ada empat kasus pasien positif terjangkit.

Di kala sejumlah negara tetangga mengeluarkan travel warning untuk warganya yang hendak bepergian ke China, pemerintah Indonesia sampai saat ini belum menerbitkan peringatan yang sama.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan sudah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata terkait pergerakan ke China. Dalam rapat koordinasi, Menkes Terawan Agus Putranto berpandangan baru Wuhan yang teridentifikasi daerah harus dihindari dan sudah mengisolasi diri.

Pandangan tersebut, kata Budi, menjadi dasar pemerintah belum nenetapkan travel warnaing. Ditambah, tidak ada pergerakan langsung menuju dan dari Wuhan.

" Karena itu kita tidak ke Wuhan dan dari Wuhan tidak ke kita," kata dia.

 

2 dari 6 halaman

Tunggu Rekomendasi WHO

Selanjutnya, Budi mengatakan sampai saat ini pemerintah menunggu rekomendasi World Health Organization (WHO) terkait perkembangan virus corona. Sehingga, travel warning belum dikeluarkan.

" Nanti kalau WHO sudah merekomendasikan sesuatu, baru kami bersama Menkes dan Menlu akan membahas tentang kemungkinan-kemungkinan lain," kata Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan sebagai langkah pencegahan virus corona masuk ke Indonesia masih mengandalkan pemindai panas tubuh. Selain itu, petugas bandara dan pelabuhan diwajibkan menggunakan masker.

" Tapi, ya, lakukan as usual saja, kita sebagai tuan rumah harus kooperatif," terang Budi.

(Sumber: /Ahda Bayhaqi)

3 dari 6 halaman

Belum Ada Vaksin, China Sembuhkan Pengidap Virus Corona Pakai Obat HIV

Dream - Mungkinkah ini setitik harapan yang semua orang cari terkait wabah virus corona baru yang mematikan?

Wabah virus corona atau virus Wuhan ini telah tumbuh semakin mengkhawatirkan karena jumlah kematian yang dikonfirmasi naik menjadi 80, dengan lebih dari 2.300 kasus yang dilaporkan hingga saat ini.

Dengan penyebaran epidemi ini yang begitu cepat, kebutuhan untuk menyembuhkan penyakit mematikan ini sangat mendesak. Dan sepertinya China mungkin baru saja menemukan solusinya.

Komisi Kesehatan Kota Shanghai mengklaim telah menyembuhkan pasien pertama mereka yang terinfeksi virus Wuhan sejak awal wabah merebak.

Menurut laman The Star Malaysia, seorang wanita berusia 56 tahun yang diidentifikasi sebagai Chen, dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat terpapar virus yang juga disebut 2019-nCoV oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) ini.

Disebutkan para dokter China bahwa Chen sembuh setelah menjalani percobaan penyembuhan menggunakan obat untuk penderita HIV. Obat tersebut diklaim bisa menghentikan penyebaran penyakit ke sel-sel tubuh.

Chen menunjukkan proses pemulihan yang signifikan dalam sistem pernapasannya setelah menjalani pemindaian CT Scan pada paru dan dua tes darah independen. Artinya dia dinyatakan sembuh dari virus corona baru, seperti yang dilaporkan pada Minggu, 26 Januari 2020 oleh koran Beijing Daily, milik pemerintah.

Chen diketahui sebagai salah satu penduduk Wuhan - kota tempat virus corona berasal. Dia awalnya dirawat di rumah sakit pada 12 Januari setelah merasakan gejala seperti flu pada 10 Januari.

Kasus lainnya juga telah dilaporkan ketika seorang pria berusia 46 tahun menjadi orang pertama di Provinsi Zhejiang yang sembuh dari penyakit serupa. Warga Wuhan, yang diidentifikasi sebagai Yang itu, meninggalkan rumah sakit setelah menjalani perawatan selama seminggu.

Tapi benarkah obat untuk penderita HIV bisa menyembuhkan pasien yang terserang virus corona?

4 dari 6 halaman

Awal Penggunaan Obat HIV Atasi Virus Sejenis Corona

Dikenal sebagai 2019-nCoV, virus corona di Wuhan ini merupakan strain baru dari virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang menewaskan hampir 800 orang di awal tahun 2002.

Strain baru ini setidaknya 70 persen serupa dalam urutan genom dengan virus SARS. Virus berkode SARS-CoV ini adalah virus hewan yang diyakini berasal dari kelelawar yang pertama kali menginfeksi manusia di Provinsi Guangdong pada tahun 2002.

Dua tahun setelah wabah SARS itu, sebagian besar penelitian menyepakati bahwa protease inhibitor, sebuah kelas obat antivirus yang digunakan untuk mengobati HIV, dapat digunakan untuk mengatasi SARS.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa salah satu obat yang dikenal sebagai Nelfinavir dapat 'menghambat perkembangan virus corona SARS' yang mengarah pada penurunan racun dalam sel yang sudah terinfeksi. Disimpulkan bahwa 'nelfinavir dapat mengurangi produksi virus dari sel'.

Pada tahun 2006, panel ahli WHO tentang pengobatan SARS meminta tinjauan sistematis dan ringkasan komprehensif dari penggunaan protease inhibitor untuk pasien yang terinfeksi SARS agar bisa digunakan sebagai panduan pengobatan di masa depan dan mengidentifikasi prioritas untuk penelitian.

Pada tahun yang sama, para ilmuwan menemukan kesuksesan dalam menggunakan protease inhibitor lain termasuk lopinavir, ritonavir dan ribavirin pada 41 pasien yang terinfeksi SARS - jenis penyakit yang sama yang ditemukan dalam virus corona baru di Wuhan.

Penelitian itu mengungkapkan lopinavir dan ritonavir menunjukkan hasil yang lebih baik dalam mengatasi virus SARS.

Sementara ahli mikrobiologi Yuen Kwok-yung dari Universitas Hong Kong meminta warga di China untuk tidak khawatir. Dia mengonfirmasi penggunaan protease inhibitor (obat untuk HIV) akan digunakan untuk memerangi infeksi virus corona.

(Sumbe: Star Online MalaysiaExpress.co.uk)

5 dari 6 halaman

Virus Corona Diduga Berasal dari Laboratorium di Wuhan

Dream - Menyebarnya virus Corona jenis baru (2019-nCoV) diduga berasal dari pasar grosir Huanan Seafood di Wuhan, China. Tapi ada spekulasi lain, yang menyebut virus itu berasal dari laboratorium di Wuhan.

Nature, sebuah laman penerbitan akademik Springer Nature, yang memperbarui jurnal ilmiah, telah menulis tentang laboratorium yang baru dibangun di Wuhan pada 2017. Laman tersebut menulis mengenai pembangunan lima hingga tujuh fasilitas biosafety level-4 (BSL-4) di seluruh daratan China.

Laboratorium biosafety level-4 merupakan laboratorium biosafety level tertinggi yang digunakan untuk diagnosis patogen berbahaya seperti virus Ebola dan patogen berbahaya lainnya.

6 dari 6 halaman

Laboratorium Bocor

Laboratorium yang memenuhi syarat sebagai BSL-4 harus memenuhi kriteria penyaringan udara, pengolahan air, limbah sebelum meninggalkan tempat. Para peneliti juga diharuskan berganti pakaian dan mandi sebelum dan sesudah menggunakan fasilitas lab.

Singkatnya, laboratorium BSL-4 memenuhi syarat untuk menangani patogen yang paling berbahaya.

Sementara ahli mikrobiologi China merayakan tonggak sejarah mereka yang luar biasa, beberapa ilmuwan di luar China khawatir tentang pelarian patogen. Sebab, laboratorium baru di Wuhan akan menguji Ebola, SARS, serta virus Lassa Afrika Barat.

Richard Ebright, seorang ahli biologi molekuler Amerika Serikat, mengemukakan keprihatinannya ketika virus SARS lolos dari fasilitas tingkat tinggi di Beijing beberapa kali sebelum pembukaan laboratorium Wuhan.

Salah satu alasan mengapa lab khusus ini menjadi viral di internet karena hanya berjarak 32 kilometer dari Pasar Huanan yang terkenal.

Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair
Join Dream.co.id