Cerita Haru Perjalanan 14 Tahun Bankir Syariah

Dinar | Selasa, 27 Desember 2016 09:02
Cerita Haru Perjalanan 14 Tahun Bankir Syariah

Reporter : Ahmad Baiquni

14 tahun bergabung dengan Bank Syariah Mandiri semakin menguatkan langkah Suhendar berjuang menjadikan perbankan syariah sebagai sistem mainstream di Indonesia.

Dream - PT Bank Syariah Mandiri didaulat menjadi bank syariah terbesar di Indonesia. Nilai total aset BSM hingga tahun ini telah mencapai Rp75 triliun. Untuk mencapai angka itu, tentu bukan perkara gambang. BSM harus berjalan di atas medan bisnis penuh liku.

Pengalaman pahit dan manis itulah yang dirasakan betul oleh Suhendar. Pria yang menjabat sebagai Head of Accounting Group BSM ini tahu betul rasanya jatuh dan bangkit kembali dalam perjuangan menjalankan bisnis perbankan syariah. Terlebih, sistem perbankan syariah di Indonesia terbangun sendirinya, tanpa merujuk ke negara-negara lainnya.

Pengalaman itu pulalah yang membuat Suhendar bangga menjadi bagian dari keluarga besar BSM. Bagi dia, BSM bukanlah sekadar lahan kerja, melainkan rumah sendiri. Sehingga apa yang dia kerjakan semua dilandasi keikhlasan, seperti membangun rumahnya sendiri.

Pada Kamis, 22 Desember kemarin, Dream sempat berbincang mengenai prospek bank syariah di masa depan. Tidak ketinggalan, Suhendar juga menceritakan pengalaman pribadinya saat berjuang bersama BSM. Berikut wawancara jurnalis Dream, Ahmad Baiquni dengan Suhendar.

Bagaimana rasanya menjadi jawara bank syariah Indonesia?

Saya di BSM sudah ada 14 tahun sejak 2004, tetapi berinteraksi dengan BSM itu sejak 2001. Waktu saya masih jadi konsultan. Saya merasakan betul naik turunnya kondisi BSM. Memang hubungan ekonomi yang sangat kuat antara saya dengan BSM.

Kondisi sekarang menurut saya dengan manajemen yang baru memang menempatkan manajemen perbankan sesuai pada porsinya. Jadi saya memiliki pandangan perbankan dengan keuangan syariah itu sesuatu yang berbeda. Artinya bank punya risiko sendiri, dan keuangan syariah punya tuntutan sendiri. Orang yang punya kemampuan perbankan itu belum tentu bisa menjalankan perbankan syariah. Dan sebaliknya juga orang yang memiliki kemampuan bank syariah, dia tidak bisa menjalankan sistem perbankan.

Sekarang dengan manajemen baru, proses case practice perbankan sudah didudukkan secara baik sehingga Alhamdulillah BSM lebih concern. Hanya saja untuk BSM bisa menjadi lebih besar lagi itu perlu diubah lagi strateginya, bisnis modelnya, bisnis praktisnya. Tapi sekarang ini memberikan waktu bagi kita untuk berkomtemplasi kira-kira srategi yang tepat seperti apa.

Apa sebetulnya kekuatan terbesar Bank Syariah Mandiri? yang membedakan dengan bank syariah lain?

Yang utama, BSM itu diuntungkan dari strategi awal. Artinya sedari awal kita sudah lumayan cukup agresif. Kita punya jaringan yang luas, kita punya jaringan 760 kantor. Kita punya SDM sekitar 16 ribu karyawan. Dan kita juga punya yang nggak mungkin dimiliki bank lain, yaitu pengalaman. Pengalaman naik dan turun dan juga mengenai kompleksitas produk yg kita tangani. Dan juga yang unggul adalah dukungan dari perusahaan induk. Karena memang yg namanya bank itu selalu ngecharge modal. Jadi sampai saat ini cukup positif mensupport dengan penyediaan modal. Dan kita adalah bank syariah pertama masuk Buku III dan punya modal hampir Rp6 triliun.

Saat ini, produk BSM apa yang sedang booming?

Terkait produk, kita di BSM itu melakukan evaluasi dan menyeleksi kira-kira apa yang sesuai dengan core kompetensi BSM. Jadi ke depan kita hanya akan memilih produk-produk yang memang sesuai dengan kompetensi kita dan juga yang terkait dengan keunikan dari syariah. Makanya ke depan produk yang kita unggulkan, dari sisi tabungan semisal tabungan umroh, karena umroh itu luar biasa banget di Indonesia.

Terus dari sisi finance, yang tidak bisa dimiliki bank konvensional adalah gadai, cicil emas. Juga produk yg sifatnya memenuhi kebutuhan masyarakat seperti griya dan mikro. Kita ingin membangun kompetensi di situ.

Bagaimana bayangan Anda dengan BSM 10 atau 20 tahun mendatang akan seperti apa?

BSM itu sebagai bank syariah dengan market share saat ini 22-25 persen. Dia akan menjadi market shareter. Satu hal yang harus BSM bantu untuk meleading industri. Jadi saya melihat adalah bagaimana BSM bisa meng-encourage selain industri perbankan syariah dan juga industri di luar perbankan syariah. Karena perkembangan industri perbankan syariah dampaknya luar biasa sekali. Dia berdampak ke asuransi. Dia juga berdampak multi finance, dan juga berdampak ke penyediaan SDM, akademik-akademik itu. Karena pertumbuhan perbankan syariah, itu akan mengikuti. Dan juga terkait dengan capital market.

Nah, ke depan BSM harus tidak melulu terkait traditional banking, yaitu mengumpulkan dan menyalurkan uang saja. Tetapi juga harus mengembangkan produk-produk yang menghubungkan capital market dengan perbankan syariah. Di Indonesia, sukuk itu sangat lemah sekali, terutama terkait sukuk korporat.

Sekarang memang pemerintah sudah mendorong, sukuk Indonesia jadi tiga terbesar di dunia. Tapi untuk sukuk korporasi masih sangat lemah. Kenapa? Karena kita memang tidak ada marketnya. Jadi misalnya BSM beli, butuh modal, mau jual nggak laku. Nah, itu yang harus kita encourage, jadi produknya tidak melulu berkaitan dengan traditional banking. Hanya dengan seperti itulah BSM akan semakin besar dan modern. Di Malaysia, pola-pola seperti itu sudah berlaku dengan sangat baik.

Kita punya bank syariah 13 dengan Bank Aceh, tetapi tidak terhubung dengan baik. Artinya masih bergerak masing-masing. Karena tidak ada produk sekunder yang kita kembangkan.

Dan juga, karena BSM sudah masuk Buku III, kita seharusnya sudah bisa melakukan ekspansi ke luar. Mau melakukan transaksi yang sifatnya internasional. Nah transaksi-transaksi internasional itu harus masuk, seperti bank guarantee, LC. Untuk masuk kategori bank internasional, kita harus masuk transaksi seperti itu. jadi tidak melulu menghimpun dan menyalurkan dana. Dan itu kompetensi BSM sangat luar biasa besar sekali.  

Apa yang belum tercapai dari BSM?

Visi bank syariah itu kan berubah. Kemarin untuk mencapai peradaban ekonomi yang mulia. Sekarang menjadi bank syariah modern. Memang modernitas ini, tantangan terbesar dari IT. Kita butuh dukungan. Karena untuk perbankan syariah itu ITnya tidak gampang, meski kita sudah punya pengalaman 17 tahun, kita masih punya adjustment dengan IT. Bahkan untuk yg sifatnya basic, apalagi ke depan terkait dengan pengembangan digital banking dan juga vintech. Ke depan IT itu harus menjadi fokus.

Kedua, terkait dengan kompetensi. Ini berbicara mau di wilayah mana kita bermain. Kalau kita sudah tahu kompetensi kita di mana, itu semuanya meliputi infrastruktur, teknologi, training, bisnis proses semua ke situ. Sekarang kita masih palugada. Semua kita layani, belum fokus.

Dari skala 1-10 dari kurang puas sampai puas, dimana bpk menempatkan posisi BSM?

Saya sangat mensyukuri BSM back on track. Artinya kita punya kesempatan untuk mengkontemplasi dan memikirkan langkah-langkah ke depan. Dengan kondisi seperti ini, secara pribadi, capaian BSM 8. Yang perlu dibenahi itu fokus, IT, SDM, bisnis model, dan bisnis proses.

Bagaimana BSM menilai wacana megabank syariah?

Untuk pangsa pasar Indonesia, saya sependapat. Size market kita sangat besar. Mustahil biasa diatasi dengan yang sudah ada. Jadi menurut saya, ke depan bank-bank dengan modal yang sangat besar dan kuat, itu yang akan menguasai pasar Indonesia. Kalau bank-bank dengan modal kecil misalkan Rp1 triliun, dia akan susah mencapai skala efisiensi. Dia baru mencairkan sedikit sudah mentok, harus tambah lagi.

Jadi memang megabank syariah itu perlu, apalagi dengan modal yang besar. Cuma bank syariah dengan modal besar saja yang akan bisa menguasai market.

Jika Bank Mandiri ingin go internasional, adakah mimpi itu terselip di benak BSM? Apa modalnya?

Sebenarnya kita sedang melakukan assessment. Artinya setelah internal kita memang belum melakukan evaluasi ke arah mana. Tetapi ada dua hal yang menjadi concern. Pertama masalah permodalan, BSM untuk bisa besar butuh modal sangat besar. Itu bisa terpenuhi atau tidak.

Kedua terkait dengan strategi partnership. Kita butuh strategi partner yg bisa membawa pengetahuan. Modal saja tidak cukup buat BSM besar. Kita butuh strategi partner yang kira2 dia bawa pengetahuan dan bisa membuat industri ini menjadi lebih kompetens, lebih kuat untuk bisa mengelola pasar lebih baik.

Jika diberi kesempatan ekspansi, negara mana yang pertama kali akan dibidik? Mengapa?

Saya beberapa kali menghadiri konferensi internasional, memang potensi keuangan syariah itu pusatnya di Asia Pasifik. Karena pertimbangan demografi, ternyata pasar terbesar di dunia itu Indonesia, Cina, Bangladesh, Pakistan, Malaysia. Jadi, bank-bank di Malaysia, internasional itu, pikirannya sudah Asia Pasifik, sudah tidak lokal lagi. Prospek ekonomi juga di situ. Menurut penelitian PWC, fix largers economid itu di Cina, India, USA, berikutnya Indonesia. Di situlah jumlah populasi Muslim terbesar.

2 dari 3 halaman

Peluang dan Tantangan Perbankan Syariah

Bisnis keuangan syariah Indonesia sedang jadi favorit, bagamana Anda melihatnya? 

Menurut saya, pemicu signifikan ada tiga. Pertama itu demografi, yaitu populasi Muslim dan kesadaran beragama. Kedua kondisi ekonomi yang semakin membaik, itu menjadi peluang yang baik untuk perbankan syariah. Beli rumah, beli mobil. Kalau kayak Bangladesh itu susah, ekonominya nggak bagus.

Yang ketiga, ini yang sangat penting, regulasi dari pemerintah. Sebagaimana pemerintah memberikan fasilitas yang mendukung ini. Walaupun agak terlambat, digagas 1992, baru muncul UU tahun 2008. Tapi kan sejak 2008 muncul, kemudian pertumbuhannya bagus, meroket. Itu tiga poin penting pemicu naiknya perbankan syariah.

Di mana sebetulnya kekuatan bisnis perbankan syariah Indonesia? Apa bedanya dengan Malaysia?

Populasi Muslim. Saya kemarin jadi narasumber di Kuala Lumpur Islamic Finance. Saya bilang memang pangsa pasar bank syariah Malaysia itu 20 persen, Indonesia baru 5 persen. Tapi untuk pendapatan total kita sama. Soalnya kita punya populasi Muslim besar. Kalau Malaysia sudah terbatas. Sudah segitu saja. Tapi Ind

Bisakah bisnis bank syariah melampaui konvensional?

Saya secara pribadi, ekonomi syariah di Indonesia itu belong to us (tergantung kita). Hanya saja, seperti kata Drucker (Peter Drucker) bilang peluang itu akan datang pada yang siap. Jadi menuntut kesiapan bank syariah. Bank syariah siap besar apa besar atau tidak.

Tapi kalau kita memberikan layanan, misalnya mobile banking masih byar pet, kemudian jaringan yang tidak luas, servis yang masih lambat, ya nggak bakal bisa besar. Jadi ini, menurut saya, ke depan tergantung dari kesiapan bank syariah itu sendiri. Dan kostumer itu akan datang sendiri. Indonesia itu belong to us. Kita itu populasi Muslim terbesar dunia.

Apa kendala terbesar di bisnis bank syariah?

Beberapa hari lalu, itu ulang tahun BRI yang ke 121 tahun. Bank pertama di Indonesia itu dibawa oleh VOC. Itu 200 tahun lalu. Jadi, sejarah bank konvensional sudah 200 tahun di Indonesia. Mereka sudah bangun kompetensi IT, SDM, bisnis model, bisnis proses. Sementara bank syariah itu baru tahun 1992. Baru 24 tahun.

Pengalaman saya selama di bank syariah itu kita bongkar pasang, bisnis model, bisnis proses, IT, triger HR. Itulah kenapa kita masih 5 persen sampai saat ini. Tapi dari itu kita belajar, learning by process, karena memang tidak ada yang mengajari. Indonesia itu bank syariahnya tidak ada yang mengajari. Kita bergaya dengan Malaysia.

Tapi pada satu titik tertentu, kita sudah mencari bisnis model bisnis proses yang pas. Bagaimana kita mentriger SDM yang baik, punya IT yang mendukung. Insya Allah, mungkin pertumbuhannya bisa eksponensial. Saya yakin itu.

Semua Negara berharap menjadi pusat keuangan syariah dunia. Bisakah Indonesia mencapainya? Apa modalnya?

Sekarang, terus terang, memang kalau di AsiaPasifik itu perbankan syariah Malaysia yang meleading. Malaysia itu market sharenya 20 persen. Kemudian Bangladesh itu 20 persen juga market share bank syariahnya. Kalau Malaysia, kendalanya adalah dia sangat tidak mungkin berhadapan dengan Malaysia itu sendiri. Karena jumlah Muslim populasi yang terbatas. Makanya mereka pindah ke Indonesia. Jadi Indonesia jadi market share mereka, seperti MayBank, BII diakuisisi. Jadi di Indonesia kita sudah melakukan perebutan pangsa pasar itu dengan bank asing. Makanya kecepatan sangat menentukan.

Permasalahannya Malaysia sudah punya pengalaman lebih dulu. Malaysia itu sudah punya sekitar 1993-an mengembangkan perbankan syariah dan sekarang ke Indonesia. Artinya mereka juga punya pengalaman mengembangkan di Indonesia.

3 dari 3 halaman

Pengalaman Batin

Mengapa memilih berkarir di bank syariah padahal bisnis ini relatif masih baru? Apa yang memotivasi Anda?

Itu memang mungkin menarik. Waktu itu saya kerja di fourth largest registered public accountance in the world. Jadi kantor akuntan publik empat terbesar di dunia saat itu. Pada saat itu aset BSM masih Rp5 triliun. Jadi, sebetulnya istri saya tidak mendukung. Karena dinilai bank kecil.

Tetapi saya punya pengalaman personal. Saya di kampus itu aktif di forum studi Islam. SMA aktif di remaja masjid. Maupun di karang taruna saya juga aktif, juga ikut pendidikan pesantren. Panggilan jiwa lah, kira-kira seperti itu. Jadi, ketika ada perbankan syariah, saya merasa berkewajiban membesarkan perbankan syariah. Itu sebagai tanggung jawab personal. Bahkan saya merasakan bank syariah itu seperti rumah saya sendiri. Saya tidak pernah berpikir apakah saya digaji atau tidak. Yang jelas, saya berusaha semaksimal mungkin memberikan kontribusi yang terbaik bagi bank syariah.

Makanya saya juga aktif di beberapa organisasi profesi seperti MES, IAEI, sekarang di Cisper, dan Dewan Akuntansi Syariah. Ada satu keinginan, perbankan syariah dan industri keuangan syariah non-bank, saya bisa memberikan kontribusi.

Banyak bankir yang memilih syariah karena takut dosa dengan uang riba, apakah Anda merasakan hal yang sama? Apakah ketenangan batin Anda rasakan?

Itulah cerita tentang keIslaman di Indonesia. Kita sudah belajar agama sejak kecil. Kadang ada khotbah Jumat tiap minggu. Belum lagi majelis taklim. Jadi sebetulnya orang-orang sudah paham. Sehingga ketika ada bank syariah itu rasanya, kalau dimungkinkan orang-orang akan terpanggil untuk pindah ke bank syariah.

Saya merasa secara pribadi ketiga bergabung dengan perbankan saya katakan inilah Islam memberikan kontribusi dalam perekonomian modern.

Buat saya itu luar biasa. Dulu saya kenal kontribusi Islam itu memberikan dakwah, tabligh, kontribusi kecil-kecil ke pesantren-pesantren. Tapi sekarang kita masuk ke gedung-gedung tinggi, teknologi yang canggih, pakaian yang bagus. Jadi perbankan syariah itu memang menjadi penyebaran Islam dalam konteks yang lebih modern. Semua orang bahkan terima, bukan hanya yang Muslim. Orang lebih welcome.

Sejumlah CEO bank syariah merasa tak ada bedanya bisnis ini dengan konvensional? Mengapa?

Dalam praktik, kelihatannya sama. Tetapi secara lebih detail transaksi-transaksi di syariah itu dikonstruksi sedemikian rupa supaya sesuai dengan sistem syariah. Misalnya orang beli mobil pakai bank syariah. Itu bisa, kasih uang terus bayar seterusnya. Di bank syariah bisa nggak beli mobil tapi comply dengan syariah. Resultnya saya, tetapi konstruksinya dibangun berbeda.

Pengalaman batin apa yang paling membekas selama berkarir di bank syariah?

Pengalaman batin saya pada saat ulang tahun BSM 1 November kemarin. Saat saya masuk, aset BSM masih Rp5 triliun. Sekarang sudah Rp75 triliun. Terus terang, saya pada saat itu saya takjub dan mungkin menangis juga, setelah terhempas, naik turun, dan akhirnya kita sampai pada titik angka Rp75 triliun. Jadi naiknya 12 kali lipat sejak saya masuk pada 2004. Saya bersyukur, saya bilang, “ Ya Allah, BSM akhirnya sampai juga pada titik 17 tahun dan asetnya Rp75 triliun dan sampai saat ini kondisinya tetap baik dan tetap on progres.” Begitu perasaan saya, seperti naik gunung. Saya merasa takjub banget. Kok bisa sampai saat ini, di saat perbankan syariah naik lalu turun lagi.

Perubahan terbesar apa yang Anda alami setelah berkarir di bank syariah?

Terus terang, saya merasa pikiran, hati, dan fisik saya sudah habis untuk BSM. Saya bisa stay di kantor selama tiga hari tiga malam tanpa pulang ke rumah untuk mengcover di BSM. Rasanya BSM dan saya itu sudah menyatu.

Sempat terbersit pikiran untuk pindah?

Saya ingin mengembangkan perbankan syariah yang lain. Tapi memang kalau Allah memberikan kesempatan, saya ingin tumbuh dan besar bersama BSM. Tetapi jika Allah berkehendak lain, artinya saya harus mengembangkan bank syariah lainnya, itu bagian dari keikhlasan. Intinya saya tetap ingin mengembangkan perbankan syariah di Indonesia bukan sebagai alternatif lagi tetapi sebagai mainstream.

Join Dream.co.id