Dulunya Hidup Serba Susah, Miliarder Ini Wariskan 90 Persen Kekayaannya untuk Orang Miskin

Dinar | Senin, 6 Desember 2021 07:47

Reporter : Alfi Salima Puteri

"Sampai dewasa, saya terus-menerus khawatir tentang memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan".

Dream - Seorang miliarder dari Utah, Amerika Serikat, telah berjanji untuk memberikan hampir semua uangnya untuk membantu orang. Ialah pria bernama Jeff T. Green, yang merupakan CEO dari dunia teknologi periklanan.

Dilansir dari Newsweek, pada Selasa 16 November 2021, Jeff T. Green telah menandatangani The Giving Pledge, yakni janji donasi sebagian besar kekayaan selama hidup. The Giving Pledge yang diciptakan Warren Buffet, serta Bill dan Melinda Gates telah ditandatangani ratusan miliarder.

Green adalah lulusan Universitas Brigham yang saat ini tinggal di Thousand Oaks, California.

“ Saya akan memberikan sebagian besar kekayaan saya melalui filantropi berbasis data sebelum atau pada kematian saya. Target saya lebih dari 90 persen kekayaan saya. Tetapi saya juga akan memberikan waktu saya, komoditas saya yang paling berharga, untuk mengalokasikan dana itu dengan sengaja, dan untuk terlibat secara pribadi,” tulis Green di laman The Giving Pledge.

Dulunya Hidup Serba Susah, Miliarder Ini Wariskan 90 Persen Kekayaannya untuk Orang Miskin
Ilustrasi/Shutterstock
2 dari 6 halaman

Takut akan uang?

Menurut Forbes, Green diperkiraan memiliki kekayaan USD6 miliar atau sekitar Rp85,7 triliun dan saat ini adalah orang terkaya ke-253 di dunia. Ia adalah CEO, ketua dan pendiri The Trade Desk.

Green menceritakan masa kecilnya tumbuh di keluarga yang penuh kekhawatiran akan uang. Bahkan sampai dewasa pun ia terus ketakutan akan uang.

“ Seperti banyak orang, saya dibesarkan dengan kekhawatiran tentang uang. Di usia muda saya ingat mengantri di pinggir jalan dengan ibu saya untuk mengambil distribusi makanan pemerintah. Sampai dewasa, saya terus-menerus khawatir tentang memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan,” ungkapnya.

Pria berusia 44 tahun itu menambahkan meskipun uang tidak dapat membeli kebahagiaan, uang itu dapat memberdayakan kita untuk mengubah hampir semua hal jika digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat.

3 dari 6 halaman

Kunci keberhasilannya adalah..

Green menjelaskan bahwa ia akan berinvestasi dalam bisnis, komunitas dan individu, melalui bagian amal dari yayasan keluarganya yang disebut Dataaphilanthropy, menggunakan waktu dan uang untuk memungkinkan keberhasilan.

" Filantropi saya bukan tentang politik atau pemberian, ini adalah tentang mendapatkan hasil terbaik untuk semua bakat potensial, yang hanya dapat bermanfaat bagi bangsa kita, dan umat manusia. Ini akan membantu orang-orang melangkah ke peluang, bukan hanya berdiam diri,” tutur Green.

Pengusaha itu juga menguraikan mimpinya untuk membuat pendidikan lebih mudah diakses oleh semua orang.

Menurutnya, pendidikan memberikan semua orang lebih banyak kesempatan, dan warga negara yang berpendidikan sangat penting untuk masyarakat yang berfungsi dan sukses.

“ Dalam beberapa hal, di sebagian besar dunia Barat, saya pikir kita telah melupakan peran mendasar yang dimainkan pendidikan dalam menciptakan peluang, dan meningkatkan peluang, untuk semua orang,” kata Green.

Sumber: Newsweek.com

4 dari 6 halaman

Deretan Miliarder Dunia yang Mendadak Jatuh Miskin, Bahkan Hartanya Raib dalam 2 Hari

Dream - Miliarder sering kali dianggap cukup pintar melindungi kekayaan mereka. jarang bagi mereka yang mencapai status miliader dan kemudian jatuh miskin. Namun, terkadang hal-hal tidak diinginkan bisa saja terjadi.

Ada dari beberapa mereka justru mengalami nasib sial yang kemudian jatuh dalam kebangkrutan. Faktor penyebabnya pun bermacam-macam, termasuk salah dalam mengambil keputusan.

Berikut ini deretan miliader dunia yang sebelumnya kekayaan mereka berlimpah, tapi kemudian jatuh bangkrut dan miskin.

1. Patricia Kluge

Kemerosotan ekonomi sulit bagi semua orang, tetapi bagi miliarder, itu bisa sangat menghancurkan, dan tidak ada yang tahu itu lebih baik daripada Patricia Kluge. Kluge bertemu calon suaminya, John Kluge, di New York City.

Dia berusia 35 tahun lebih muda darinya dan memiliki kekayaan yang diperkirakan mencapai USD5,9 miliar pada tahun 1990. Pasangan itu menikmati kehidupan luar biasa dengan perkebunan Albemarle yang luas yang terletak di pedesaan Virginia.

Pasangan itu memutuskan untuk bercerai pada tahun 1990, dan USD1 miliar dia dapatkan dari perpisahan itu. Itu adalah penyelesaian perceraian terbesar yang pernah ada pada saat itu. Dia juga menerima tanah pedesaan yang mewah.

5 dari 6 halaman

 Patricia Kluge© Merdeka.com

Dengan semua kekayaan itu, ia menginvestasikannya dengan mendirikan Kluge Estate Winery and Vineyard. Kebun anggurnya itu diterima dengan baik dan berhasil.

Lalu Kluge memperluas kebun anggurnya dengan cepat dan mencoba bisnis real estate dengan pinjaman sebesar USD65 juta untuk membangun lebih dari selusin rumah mewah. Tapi beberapa tahun kemudian, pasar perumahan anjlok, dan Kluge memiliki hutang yang banyak.

Untuk menghindari kebangkrutan, dia terpaksa menjual kebun anggur, serta perhiasan dan perabot pribadinya.

Ternyata itu semua belum cukup untuk menutup hutangnya. Akhirnya ia bangkrut pada 2011, dengan total hutang antara USD10 sampai USD50 juta.

6 dari 6 halaman

2. Bill Hwang

Bill Hwang, mengumpulkan kekayaan sekitar 20 miliar dollar AS (Rp291,3 triliun), melalui investasi saham. Namun, hartanya hilang hanya dalam 2 hari.

Investasi awal Hwang dilakukan melalui perusahaan keluarga, Archegos Capital Management, di perusahaan pemesanan perjalanan Expedia, LinkedIn, dan Netflix, dengan mengantongi keuntungan terakhir sebesar 1 miliar dollar AS (Rp14,6 triliun).

 Bill Hwang© Merdeka.com

Kemudian, investasinya melebar ke beberapa media konglomerat, seperti ViacomCBS dan Discovery. Dia juga menanam saham di perusahaan teknologi China, seperti Baidu dan GSX Techedu.

Hingga kuartal terakhir 2020, investasi Hwang membuat sahamnya melejit lebih dari 30 persen. Itu membuatnya tergiur untuk bermain lebih jauh.

Namun, keuntungannya mulai anjlok pada 22 Maret 2021, menyebabkan bank besar yang meminjamkan dana dan memperoses perdagangannya meminta lebih banyak uang jaminan atau margin call. Hanya dalam dua hari, Hwang akhirnya kehilangan USD20 miliar.

Join Dream.co.id