Menkeu Sri Mulyani: `Kita Belum Resesi... Kita All Out`

Dinar | Jumat, 7 Agustus 2020 08:44
Menkeu Sri Mulyani: `Kita Belum Resesi... Kita All Out`

Reporter : Syahid Latif

Menkeu Sri Mulyani menjelaskan negara dinyatakan resesi teknikal jika pertumbuhan ekonomi mencatat negatif secara year on year dalam dua quartal berturut-turut.

Dream - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan perekonomian Indonesia belum memasuki resesi. Penyataan ini terkait Laporan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 yang mencatat negatif 5,32 persen.

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi negatif belum tentu menandakan Indonesia sudah memasuki resesi. Secara teknikal, Indonesia baru dianggap resesi jika mencatat pertumbuhan negatif secara year on year selama dua kuartal berturut-turut.

" Sebetulnya kalau secara year on year belum (resesi). Kita belum resesi," kata Sri Mulyani dari keterangan pers virtual baru-baru ini.

Kontraksi ekonomi pada kuartal II lalu, lanjut Sri Mulyani, merupakan pertama kalinya perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan negatif.

Ke depan pemerintah secara terus-menerus akan melakukan sejumlah cara dan kebijakan agar ekonomi bangkit di kuartal III dan IV sehingga tak resesi.

" Ini kuartal pertama RI kontraksi dan ini pemicu kita agar kuartal III dan kuartal IV jangan sampai negatif atau dihindarkan. Ini yang kita lakukan dan kita all out," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut meminta dunia usaha turut serta membantu pemerintah membangkitkan ekonomi sehingga Indonesia tak jatuh ke jurang resesi.

" Kita harap dunia usaha dan stake holder sama-sama pulihkan ekonomi akibat pandemi Covid," tandasnya.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

2 dari 4 halaman

Resesi Intai Negara Asia, Filipina Masuk Daftar Terbaru

Dream - Satu lagi negara di Asia mengalami resesi teknikal usai menunjukan pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Negara itu adalah Filipina yang melaporkan kontraksi ekonomi sebesar 16,5 persen pada kuartal II-2020.

Pada periode Januari-Maret 2020, atau kuartal I, pertumbuhan ekonomi Filipina mengalami kontraksi atau minus 0,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada April-Juli 2020 yang dialami Filipina menunjukan aktivitas ekonomi yang terdampak pandemik Covid-19. Di periode tersebut, Filipina untuk pertama kalinya menerapkan lockdown.

Laporan pertumbuhan ekonomi tersebut lebih buruk dari perkiraan para ekonom dalam polling Reuters. Ekonom sebelumnya memprediksi ekonomi Filipina hanya mencatat kontraksi 9 persen.

Mengutip laman asia.nikkei.com, harapan akan adanya pemulihan ekonomi di kuartal III-2020 juga dipertanyakan setelah Metro Manila kembali melakukan lockdown.

Dengan laporan terbaru tersebut, tim ekonomi pemerintah Filipina merevisi target pertumbuhan ekonomi turun menjadi 5,5 persen sepanjang tahun ini.

Socioeconomic Planning Acting Secretary Filipinan, Karl Chua dalam konferensi pers virtual mengatakan kontraksi bulan Mei meleset dari proyeksi 2 persen mejadi 3,4 persen.

" Tak diragukan lagi pandemi dan dampak buruknya tengah menguji ekonomi dan tak pernah terjadi sebelumnya," kata Chua. " Tetapi tidak seperti krisis masa lalu, Filipina sekarang berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk mengatasi krisis [saat ini]."

3 dari 4 halaman

Jika Indonesia Resesi, Jangan Panik!

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 sebesar -5,32 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi merupakan kontraksi terdalam sejak kuartal I-1999 yang tercatat sebesar -6,13 persen.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, mengatakan, wabah pandemi Covid-19 membatasi aliran manusia, barang, juga uang, dampaknya sangat luar biasa.

Dengan keterbatasan aktivitas sosial ekonomi, maka kegiatan konsumsi, investasi dan juga ekspor impor di semua negara mengalami penurunan yang sangat tajam.

" Semua negara diyakini tinggal menunggu waktunya saja untuk menyatakan secara resmi sudah mengalami resesi. Proses resesinya sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun ketika wabah Covid mulai melanda China dan menyebar ke berbagai negara," ujar Piter, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 6 Juli 2020.

4 dari 4 halaman

Resesi Berpotensi Dialami Semua Negara

Indonesia, sebagaimana negara lain, diperkirakan juga akan mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II negatif 5,32 persen.

Hal yang sama juga diprediksi akan terjadi pada kuartal III dan IV. Apabila perkiraan ini benar-benar terjadi, maka Indonesia pada bulan Oktober nanti akan secara resmi dinyatakan resesi.

" Meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, masyarakat tidak perlu panik. Sekali lagi resesi sudah menjadi sebuah kenormalan baru di tengah wabah. Hampir semua negara mengalami resesi. Yang lebih penting adalah bagaimana dunia usaha bisa bertahan di tengah resesi," paparnya.

Ilustrasi Resesi© Shutterstock

Jika dunia usaha terus ditopang dan bisa bertahan, tidak mengalami kebangkrutan, maka Indonesia akan bisa bangkit Kembali dengan cepat ketika wabah sudah berlalu.

" Kita optimis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan recovery pada tahun 2021," kata Piter.

Join Dream.co.id