Mengenal Pendiri Kalbe Farma, Berawal dari Garasi di Tanjung Priok Kini Jadi Pabrik Obat Terbesar Asia Tenggara

Dinar | Jumat, 19 Agustus 2022 19:13

Reporter : Alfi Salima Puteri

Dibantu lima saudaranya yang rata-rata juga berprofesi sebagai dokter, dokter Boen, panggilan Boenjamin Setiawan, nekat mendirikan sebuah perusahaan farmasi.

Dream - Sahabat Dream pasti sudah familiar dengan iklan obat panu Kalpanax atau pariwara obat maag, Promag, saat bulan puasa.

Produk-produk buatan PT Kalbe Farma tersebut memang melekat kuat di benak masyarakat lantaran kerap mengisi tayangan iklan di berbagai media, terutama televisi.

Didirikan pada tahun 1966, PT Kalbe Farma berasal dari sebuah garasi bengkel di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kini PT Kalbe Farma menjelma menjadi perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara.

Dengan total pendapatan Rp17 triliun setiap tahun, kini PT Kalbe Farma memiliki 17 ribu karyawan, serta 66 kantor cabang atau pabrik di seluruh Indonesia.

Siapa orang yang berjasa di balik pendirian Kalbe Farma? Dialah dokter Boenjamin Setiawan, dokter lulusan Universitas Indonesia yang juga mendapatkan PhD dari University of California, Amerika Serikat.

Dibantu lima saudaranya yang rata-rata juga berprofesi sebagai dokter, dokter Boen, panggilan Boenjamin Setiawan, nekat mendirikan sebuah perusahaan farmasi.

Mengenal Pendiri Kalbe Farma, Berawal dari Garasi di Tanjung Priok Kini Jadi Pabrik Obat Terbesar Asia Tenggara
Foto: Merdeka.com
2 dari 6 halaman

" Waktu itu saya belum punya uang banyak, ada uang tapi enggak banyak. Kakak saya Dr Koh Leng Sun juga buka praktik dokter, dia punya uang. Jadi intinya kita ramai-ramai bersaudara bikin industri farmasi di bekas bengkel Jalan Simpang Satu nomor satu," ujar dokter Boen dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Agustus 2022.

Membuat produk-produk farmasi yang laris manis di pasaran, dokter Boen bagi-bagi resep. Di awal Kalbe Farma berdiri, obat yang dibikin adalah obat-obat yang banyak dibutuhkan masyarakat kala itu, seperti obat cacing.

Siapa sangka obat Kalpanax yang dia bikin, ternyata juga terilhami saat orang tua dokter Boen dulu yang juga menderita panuan. Tapi karena belum ada obatnya, dulu penyakit panu cukup diobati dengan parutan lengkuas dan dioleskan pada kulit yang terkena panu.

" Waktu itu juga banyak orang yang kena panu. Ayah saya juga kena panu. Waktu itu obatinnya pakai lengkuas. Dulu waktu saya kecil juga pakainya itu, diparut lalu digosokin. Kita bikin Kalpanax laku keras itu," cerita pria kelahiran 23 September 1933 di Tegal, Jawa Tengah tersebut (83 tahun).

Dokter Boen pun membagikan kisah awal mula Kalbe Farma berdiri. Ia yang sebelumnya tinggal dan melakukan penelitian di Swedia, memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

" Saya kepengin melanjutkan penelitian tapi saat itu tahun 1961 saya kembali, dananya enggak ada, peralatan sedikit sekali, dan waktu itu memang sumber dayanya sedikit. Akhirnya saya melakukan penelitian sederhana saja. Mencari jamu-jamu antihipertensi menurunkan tekanan darah sama obat kencing manis," ujarnya.

3 dari 6 halaman

Lalu ia bersama Dr Kui, bagian farmakologi, mencari dana dari Daya Upaya Para Apoteker (DUPA).

" Dulu tempatnya di jalan deket jalan Kamboja. " Pak Bin, saya mau minta dana" . Tanya saya. Dia pun menjawab, " butuh dana berapa?" Waktu itu Rp25 juta. Itu gampang sekali, ambil cek langsung kasih. Itu yang men-trigger saya bahwa kalau saya ingin melakukan penelitian, maka saya harus bikin industri farmasi. Inilah mulainya," jelasnya.

Akhirnya ia pun membuat pabrik yang diberi nama PT Farmendo. Terdapat 4 dokter muda dari bagian biologi, dokter Boen dari Farmakologi dan kemudian ada satu dokter lagi yang berasal dari Kimia Farma.

" Waktu itu kita kerjanya di laboratorium biologi FK UI bikin Yaseril dan bioplacenton injeksi sama bioplacenton salep. Kita rame-rame bikin dan anak muda masih semangat tapi karena anak muda enggak punya pengalaman, umur perusahaan hanya tiga bulan saja," ungkapnya.

Setelah pabrik pertamanya gagal, ia memulai kembali pada tahun 1963 bersama dokter dari Apotik Husada. Namun sayang, setelah empat bulan berdiri, bisnisnya kembali gagal.

4 dari 6 halaman

" Nah, setelah gagal ini, kebetulan ditawarkan kerja di perusahaan Belanda namanya Ensifarm. Pada tahun 1966 sebenarnya saya sudah mau pergi, kebetulan kakak saya datang," ujarnya.

Kakak perempuannya yang berprofesi sebagai dokter gigi menawarkannya untuk membangun industri farmasi bersama.

" Jadi intinya kita ramai-ramai bersaudara bikin industri farmasi di bekas bengkel Jalan Simpang Satu nomor satu," jelasnya.

Obat-obat pertema yang mereka buat yakni obat sirup, untuk cacing, yang diberi nama Calekson. Lalu ada juga obat cacing dari Bayer yang bernama Upikson.

" Itu obat laku keras. Karena apa, pada waktu itu rata-rata anak-anak pada kena cacingan. Karena hidupnya enggak sehat, makanannya kotor, dan berak di mana-mana. 90 persen orang kena cacingan semua. Bikinnya sederhana pakai panci besar terus mengisinya pakai botol, pakai manual semua," katanya.

Perusahaan farmasinya juga membuat Kalpanax yang kita kenal hingga kini.

" Soalnya waktu itu juga banyak orang yang kena panu. Ayah saya juga kena panu. Waktu itu obatinnya pakai lengkuas. Kita bikin Kalpanax laku keras itu. Jadi waktu itu kita bikin Kalpanax, Calekson, sama buat obat panas," tambahnya.

5 dari 6 halaman

Menurutnya, keberhasilan keenam bersaudara itu tak lepas dari peran si bungsu yang membantu mengurusi penjualan, pemasaran, pembelian, dan keuangan.

" Dia atau Arianto yang urus semuanya. Dia dulu ekonomi. Ini salah satu keberhasilan. Saya kira kami bisa berhasil karena bersatu. Selain itu, kita berhasil karena satu produknya cocok, kedua harganya cocok, ketiga promosinya bagus meniru luar negeri, keempat penempatan atau distribusinya cocok dan yang kelima sumber dayanya benar-benar diperhatikan," bebernya.

Barulah pada tahun 1991, Kalbe Farma memutuskan menjadi perusahaan terbuka atau go public.

" Awalnya saya enggak setuju. Tapi setelah dijelaskan oleh Pak Arianto adik saya, akhirnya saya setuju. Saya kira dengan go public benar. Karena dengan go public nilai perusahaan itu ada harganya. Ya jadinya ada nilainya karena sudah go public," ujarnya.

Menurutnya perkembangan industri farmasi di dunia sangat baik. Hal ini juga diikuti dengan GDP dunia yang berkisar US$ 70 triliun.

" Industri farmasi dari GDP itu antara 2 persen. Jadi kira-kira sekitar US$ 1,4 triliun. Jadi cukup besar. Tapi di Indonesia itu masih kecil. Kira-kira US$ 1 triliun tahun 2014. Kalbe Farma farmasinya sudah mencapai Rp 4-5 triliun," terangnya.

 

6 dari 6 halaman

Bahkan ketika krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998, dokter Boen mengungkapkan perusahaannya hampir kolaps.

" Karena utang kita banyak sekali. Soalnya juga saat itu utang gampang. Seluruh utang dalam bentuk dolar, saat itu dolar kan interest-nya (bunga) rendah. Dolar saat itu kan naiknya bukan main. Kita enggak bisa bayar dengan utang-utang kita. Akhirnya pembayaran utang kita, kita minta reschedule. Akhirnya kita bisa survive lah," jelasnya.

Kini Kalbe Farma telah berkembang dan memiliki lima lini usaha.

" Kita sudah ada 5 usaha, yaitu farmasi, konsumer, nutrisi, logistik, dan yang ke lima, pokoknya ada lima lah. Jadi, Total sales kita Rp 17 triliun rupiah. Dan kita relatif masih kecil kalau dibandingkan dengan industri farmasi dunia," tuturnya.

Dokter Boen mengakui Kalbe Farma menjadi Public company terbesar di ASEAN, jika digabungkan dengan lima usaha yang telah disebutkan sebelumnya.

" Iya kita terbesar. Public company terbesar. Tapi kalau digabungkan dengan lima usaha itu tadi. Bukan farmasinya. Itulah kita," pungkasnya.

Join Dream.co.id