Makna dan Pengertian Wakaf, Ibadah yang Pahalanya Mengalir Terus

Dinar | Minggu, 18 April 2021 05:00
Makna dan Pengertian Wakaf, Ibadah yang Pahalanya Mengalir Terus

Reporter : Dwi Ratih

Menurut jenisnya, wakaf termasuk salah satu jenis sedekah jariyah.

Dream - Dibukanya pintu surga selebar-lebarnya oleh Allah SWT di bulan suci Ramadan membuat banyak umat Islam berlomba-lomba mencari kebaikan dari segala arah. Mulai dari taat berpuasa, salat lima waktu, tadarus, hingga bersedekah.

Bicara sedekah, Islam mengajarkan banyak cara bagi setiap muslim untuk mendonasikan hartanya bagi orang yang berhak. Selain sedekah dan jariyah, kini juga semakin berkembang amal ibadah dalam bentuk wakaf.

Wakaf termasuk salah satu jenis amalan ibadah yang pahalanya tetap akan mengalir meski seorang telah meninggal dunia.

Hal ini sesuai dengan salah satu hadis Rasulullah SAW dalam HR. Muslim, Imam Abu Dawud, dan Nasa’i yang berbunyi:

" Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya."

Lalu, apa sebenarnya wakaf dan kapan harus dilakukan? Simak penjelasannya berikut ini!

2 dari 5 halaman

Pengertian wakaf

Secara bahasa, Wakaf berasal dari istilah bahasa Arab Waqafa yang artinya menahan, berhenti, diam di tempat atau tetap berdiri.

Secara istilah, Wakaf memiliki beberapa pengertian yakni menahan, menahan harta untuk diwakafkan, tidak dipindahmilikkan.

Singkatnya, wakaf adalah tindakan atau perbuatan sang pemberi untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan maksud kepentingannya.

Misalnya, seperti membantu keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum sesuai syariah Islam.

Wakaf termasuk salah satu sedekah jariyah dimana pahalanya akan terus menerus mengalir meski seseorang meninggal dunia. Asalkan wakaf tersebut diperuntukkan dan bermanfaat.

3 dari 5 halaman

Syarat-syarat wakaf

1. Untuk Orang yang Berwakaf (al-Waqif)

Ada empat syarat yang harus dipenuhi oleh al-waqif, yakni:

  • Al-Qaqif harus secara penuh memiliki harta tersebut, maksudnya, dia bebas untuk mewakafkan kepada sesiapa yang ia kehendaki
  • Al-Waqif harus sehat akal dan jasmani, tidak gila, atau sedang mabuk.
    Sudah baligh
  • Al-Waqif harus mampu bertindak secara hukum (rasyid), tidak lemah ingatan

2. Syarat-syarat Harta yang Boleh Diwakafkan (al-Mauquf)

Jika Al-Waqif ingin mewakafkan hartanya, ia harus memenuhi syarat-syarat berikut:

Barang yang diwakafkan haruslah barang yang berharga. Harta yang diwakafkan perlu diketahui kadarnya terlebih dahulu.

Jika tidak, wakah dianggap tidak sah. Harta yang diwakafkan adalah milik Al-Waqif sendiri. Harta harus berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).

4 dari 5 halaman

Barang yang bisa diwakafkan

Berikut adalah beberapa barang atau benda tidak bergerak yang dapat diwakafkan, yakni:

Tanah, dalam hal ini Al-Waqif harus memiliki ha katas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan undang-undang yang berlaku, baik sudah terdaftar atau belum.

Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah. Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5 dari 5 halaman

Keutamaan wakaf dalam Islam

Wakaf dalam Islam termasuk sunnah. Jika dilihat dari keutamaannya, wakaf adalah amal ibadah yang memiliki manfaat luar biasa.

Jika amalan seperti puasa, haji dan zakat pahalanya akan terputus di dunia, wakaf berbeda. Pahala wakaf akan terus mengalir kepada sang pemberi hingga ia meninggal dunia.

Dari segi manfaatnya, wakaf juga sangat berguna untuk memajukan dakwah Islam, mengembangkan potensi dan menyejahterakan umat, memberantas kebodohan, memutus mata rantai kemiskinan, serta memutus kesenjangan sosial.

Join Dream.co.id