Masih Kerja Saat Weekend, Tipe Pekerja Keras atau Workaholic?

Dinar | Selasa, 5 Mei 2020 06:33
Masih Kerja Saat Weekend, Tipe Pekerja Keras atau Workaholic?

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Secara sepintas, pekerja keras dan workaholic terlihat sama, padahal...

Dream – Pekerja keras dan workaholic memang sulit dibedakan karena keduanya sama-sama berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Namun, keduanya mempunyai perbedaan dalam menyikapi beban kerja yang menjadi tanggungjawabnya.

Saking kerasnya menjalani tugas, sering kali mereka bekerja di saat weekend. Pertanyaannya, tipe pegawai ini termasuk pekerja keras atau workaholic ya?

Dikutip dari Jobstreet, Selasa 5 Mei 2020, umumnya pekerja keras bisa merealisasikan work-life balance. Mereka tahu kapan harus bekerja dan kapan harus istirahat. Mereka cenderung menggunakan waktu liburannya untuk bersantai.

Berbeda dengan workaholic yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya meski tengah liburan.

Saat bekerja, pekerja keras akan fokus dan sering tidak mau diganggu agar pekerjaannya cepat selesai. Kalau workaholic, mereka akan serius, namun seringkali tidak sadar terbawa oleh suasana kantor atau rekan kerja yang suka ngobrol dan membuat kerjaannya jadi terhambat.

2 dari 8 halaman

Bagaimana Kaitannya dengan Target?

Orang yang merupakan pekerja keras akan berusaha memperbaiki diri jika target belum sesuai. Mereka akan terus belajar untuk mencapai targetnya. Namun jika dilihat dari workaholic, mereka ambisius terhadap pekerjaannya yang akan menyebabkan stress jika target tidak tercapai.

Yang terakhir, jika dilihat dari waktu, waktu pengerjaan pekerja keras lebih efektif. Oleh karena itu, kualitas yang dihasilkan lebih baik.

Namun, itu tidak berarti kualitas dari workaholic tak sebagus pekerja keras. kualitas kerja workaholic tentu tidak kalah dengan si pekerja keras.

3 dari 8 halaman

6 Beda Workaholic dan Pegawai Teladan, Kamu yang Mana?

Dream – Bukan karena kamu yang datang paling awal dan pulang paling akhir bisa disebut sebagain workaholic. Yang ada kebiasaan ini malah membuat performa kerjamu jeblok.

Pertama, bekerja dengan jam kerja yang gila dan kamu memberikan 110 persen waktumu untuk pekerjaan akan membuatmu keteteran. Kedua, ada perbedaan antara workaholic dengan pekerja teladan.

 

 6 Beda Workaholic dan Pegawai Teladan, Kamu yang Mana?© Dream

 

Dikutip dari Business Insider, Sabtu 22 Juni 2019, penulis LinkedIn, Jullien Gordon, menekankan bahwa seorang penggila kerja tak selama bisa disebut workaholic.

Berikut ini adalah lima bedanya workaholic dengan karyawan teladan.

4 dari 8 halaman

Sulit Memprioritaskan Waktu

Seorang penggila kerja sulit membedakan tugas prioritas dan yang bisa dikerjakan lain kali. Dia justru menempatkan semuanya pada sekali waktu.

Sedangkan karyawan teladan paham kapan dan bagaimana dia mengeluarkan tenaganya untuk bekerja secara maksimal.

“ Pekerja teladan bekerja keras merasa senang, bahagia, dan terinspirasi. Seorang penggila kerja justru merasa tidak senang dan keteteran,” kata Gordon.

5 dari 8 halaman

Butuh Validasi

Seorang penggila kerja mencoba mendapatkan validasi dan persetujuan dari atasan dan kolega. Sedangkan karyawan teladan tahu performa dan nilai mereka untuk melanjutkan pekerjaan yang lebih baik.

 

 Butuh Validasi© MEN

 

6 dari 8 halaman

Sibuk Belaka

Karyawan teladan fokus pada hasil atas tugas yang dikerjakan. Karyawan itu akan proaktif terhada pekerjaannya dan mengawal tugas yang penting.

Sedangkan penggila kerja akan mengisi waktunya dengan kesibukan. Mereka tak peduli apa yang dikerjakannya. Gordon mengatakan penggila kerja tidak proaktif, tetapi reaktif terhadap apa pun yang akan timbul nantinya.

7 dari 8 halaman

Tak Pernah Tahu Kapan Merasa Cukup

Karyawan teladan punya definisi kesuksesan dan pekerjaan, sedangkan penggila kerja terlalu fokus dan tak pernah merasa cukup.

Workaholic tak pernah mendefinisikan apa itu kesuksesan.

“ Mereka selalu fokus untuk bagaimana cara untuk memaksimalkan sesuatu. Mereka tak tahu apa arti sukses,” kata Gordon.

8 dari 8 halaman

Tak Pernah Memperhatikan Diri dengan Serius

Gordon mengatakan karyawan teladan menempatkan dirinya pertama kali. Itu caranya agar bisa naik level.

“ Mungkin terlihat egois, tapi tidak. Karyawan teladan ingin memberikan pelayanan kelas atas kepada perusahaannya dan kliennya,” kata dia.

Sedangkan penggila kerja selalu menempatkan kebutuhan di atas. Mereka merasa tidak egois jika melakukannya dan punya perhatian yang bagus.

“ Tapi, mereka justru ‘membakar’ diri sendiri dan ini tidak bagus,” kata dia.(Sah)

Join Dream.co.id