Orang Terkaya India Ini Dulunya Pegawai Pabrik di Jatim

Dinar | Selasa, 29 Oktober 2019 14:36
Orang Terkaya India Ini Dulunya Pegawai Pabrik di Jatim

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Dari pabrik baja di Jawa Timur, dia mengembangkan kerajaan bisnis bajanya.

Dream – Seorang miliarder India, Lakhsmi Narayan Mittal, merupakan miliarder tersohor di India. Pria ini tercatat mengantongi kekayaan senilai US$11,2 miliar (Rp157,1 triliun), menurut data Forbes.

Tapi tahukah kamu bahwa Mittal memulai bisnisnya di Indonesia?

Dikutip dari berbagai sumber, Selasa 29 Oktober 2019, pria yang akrab dipanggil dengan Lakhsmi Mittal ini lahir di Sadulpur, Rajasthan, India.

Pada 1960, keluarga Mittal pindah ke Calcutta. Di sana ayahnya membangun pabrik baja. Mittal bekerja di sana sembari kuliah jurusan sains di St. Xavier College.

Setelah lulus pada 1970, dia bekerja di pabrik. Kemudian, Mittal pindah ke Indonesia dan tinggal selama 10 tahun untuk membangun pabrik baja pertamanya, PT Ispat Indo di Waru, Jawa Timur.

2 dari 6 halaman

Bisnis Baja Berkembang

Dari sinilah, bisnis Mittal berkembang. Pemilik bisnis Mittal Steel Company NV ini menjadi pengusaha sukses dengan membeli pabrik-pabrik baja yang merugi. Dengan tangan dinginnya, pabrik-pabrik itu jadi sukses. Mittal juga tercatat memegang aset baja di Afrika Selatan, Polandia, Indonesia, dan Kazakhstan.

Kini, Mittal menjadi orang terkaya dunia ke-91 menurut Forbes.

Orang yang berjulukan King of Steel sempat terlibat skandal politik “ Garbagegate” dengan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Dalam skandal ini, Mittal menyumbang 2 juta poundsterling (Rp36,04 miliar). Sumbangan ini membuat Blair memutuskan kebijakan yang menguntungkannya dalam sebuah transaksi bisnis.

3 dari 6 halaman

Dulu Tukang Sayur, Kini Jadi Miliarder Berharta Belasan Triliun

Dream – Tak pernah terbayang dari benak Masaru Wasami bahwa dia akan menjadi miliarder. Kini, dia menjadi orang kaya-raya di Jepang dengan harta belasan triliun rupiah.

Dikutip dari Bloomberg, Senin 14 Oktober 2019, cerita ini bermula dari Masaru yang menjadi karyawan paruh waktu saat berusia 12 tahun. Dia ingin membantu mencari uang untuk pengobatan sang ibu yang mengidap tuberkulosis (TBC). Tiga tahun kemudian, Masaru berhenti sekolah dan berbisnis full time.

 

 Dulu Tukang Sayur, Kini Jadi Miliarder Berharta Belasan Triliun

 

Pada 1970, Masaru merintis bisnis truk di bawah bendera Maruwa Unya Kikan Co. Bisnisnya bergerak di bidang pengiriman produk. Awalnya, dia hanya punya satu truk. Beberapa tahun kemudian, jumlah truk yang dimilikinya sampai 100 truk.

Semula dia berbisnis pengiriman produk, kini bisnisnya berkembang menjadi pengiriman obat-obatan dan logistik supermarket di seluruh Jepang.

Kini, Masaru menjadi orang kaya-raya di Jepang dan keberhasilannya tak lepas dari peran Amazon Inc.

4 dari 6 halaman

Tak Ada Ide

Saat berkisah pertama kalinya memantapkan hati untuk berbisnis, Masaru mengaku tak ada ide. Saking tak ada pikiran, pria ini tak bisa tidur.

Lalu, pagi harinya, Masaru menemani temannya untuk mengambil paket dari pabrik benang. Tapi, dia tidak mampu menangani pengiriman parsel. Inlah yang menjadi alasan Masaru untuk berbisnis pengiriman paket.

Pemilik 60 persen ini tak keberatan menggandeng Amazon dan Rakuten—online retailer di Jepang—untuk mengembangkan bisnisnya. Masaru menawarkan jasa pengiriman “ same day delivery” kepada dua e-commerce raksasa itu.

Selain kerja sama dengan dua e-commerce, kenaikan harga saham Maruwa turut mengerek kekayaan Masaru. Bloomberg mencatat kekayaan pria berusia 74 tahun ini senilai US$1 miliar (Rp14,14 triliun).

Masaru juga menggandeng perusahaan parsel terbesar, Yamato Holdings Co. Sama dengan Rakuten dan Amazon, dia menawarkan bisnis pengiriman same day delivery.

5 dari 6 halaman

Tak Mau Melebihi Batas

Pada 2017, bisnis parsel Yamato berkembang tiga kali lipat dan mendorong volume pengapalan dari ritel e-commerce. Kenaikan bisnis ini tentu saja berakibat pada bisnis pengiriman.

 Tak Mau Melebihi Batas

Meskipun sedang moncer, Masaru enggan menerima permintaan kelebihan pengiriman. Dia tak mau ngoyo terhadap bisnis pengiriman barang dari perusahaannya dan ogah melebihi kapasitas.

“ Perusahaan kami juga menawarkan gaji yang kompetitif untuk sopir truk,” kata Masaru.

6 dari 6 halaman

Belum Puas

Dia menuturkan, Maruwa bisa menghasilkan uang senilai 7,2 juta yen (Rp939,92 juta) dengan mengirimkan lebih dari 150 paket per hari.

Sekadar informasi, pendapatan Maruwa melesat 15 persen menjadi 85,6 miliar (Rp1,12 triliun) per 31 Maret 2019. Logisitik dan ritel makanan tetap menjadi bisnis terbesar Maruwa. Kini, paket e-commerce juga memberikan sepertiga pendapatan perusahaan Masaru.

Meskipun sudah sukses dan tajir, Masaru tetap tidak puas. Dia mengatakan penjualannya seharusnya beberapa kali lebih besar karena dia menghabiskan waktu hampir 50 tahun untuk berbisnis.

“ Saya belum menghasilkan yang terbaik,” kata dia.

Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone
Join Dream.co.id