Hati-Hati! 105 Fintek Bodong Mengintai di Tengah Pandemik

Dinar | Jumat, 3 Juli 2020 19:45
Hati-Hati! 105 Fintek Bodong Mengintai di Tengah Pandemik

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Fintek ini memanfaatkan pandemi corona untuk meminjamkan uang dengan bunga tinggi kepada masyarakat.

Dream – Satuan Tugas Waspada Investasi menemukan 105 fintek peer to peer ilegal. Ratusan fintek ini menawarkan pinjaman ke masyarakat melalui aplikasi dan pesan singkat di telepon genggam.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing, mengatakan 105 fintek ini tak terdaftar dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan. Maraknya fintek P2P lending ilegal sengaja memanfaatkan kondisi melemahnya perekonomian masyarakat akibat pandemi Covid-19.

“ Mereka mengincar masyarakat yang saat ini kesulitan ekonomi dan membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif,” kata Tongam di Jakarta, dalam keterangan tertulis, Jumat 3 Juli 2020.

Padahal, kata dia, pinjaman fintek ilegal merugikan masyarakat. Selain bunganya yang tinggi, pinjaman ini berjangka pendek dan meminta akses semua data kontak di ponsel.

“ Ini sangat berbahaya karena data ini bisa disebarkan dan digunakan untuk mengintimidasi saat penagihan,” kata Tongam.

Sekadar informasi, total fintek P2P lending yang telah ditangani oleh Satgas Waspada Investasi dari 2018 sampai Juni 2020 mencapai 2.591 entitas. Untuk mempercepat penindakan terhadap laporan investasi ilegal, Satgas Waspada Investasi bekerja sama dengan Polri.

“ Penindakan yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah para pelaku investasi ilegal dan fintech ilegal beroperasi kembali yang bisa merugikan masyarakat,” kata dia.

2 dari 7 halaman

99 Kegiatan Usaha Tanpa Izin

Selain kegiatan fintech peer to peer lending ilegal, Satgas Waspada Investasi juga menghentikan 99 kegiatan usaha yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Tongam mengatakan penawaran usaha ilegal ini sangatlah mengkhawatirkan dan berbahaya bagi masyarakat karena memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat untuk menipu dengan cara iming-iming pemberian imbal hasil yang sangat tinggi dan tidak wajar. Selain itu banyak juga kegiatan yang menduplikasi website entitas yang memiliki izin sehingga seolah-olah website tersebut resmi milik entitas yang memiliki izin.

Rincian 99 kegiatan tanpa izin itu adalah 87 perdagangan berjangka/forex ilegal, 2 penjualan langsung ilegal, 3 investasi cryptocurrency ilegal, 3 investasi uang, dan empat lainnya.

3 dari 7 halaman

Masih Gentayangan, OJK Temukan Lagi 120 Fintek Bodong

Dream - Satuan Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menemukan 120 fintek ilegal dan 28 entitas penawaran tanpa izin. Ratusan usaha ini masih beredar dan berpotensi merugikan masyarakat.

" Masyarakat selalu kami minta waspada agar memanfaatkan daftar fintech peer to peer lending yang terdaftar di OJK,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 31 Januari 2020. 

Dari pantauan OJK sampai saat ini masih banyak aktivitas fintech peer to peer lending ilegal beredar di website, aplikasi atau penawaran melalui SMS yang beredar. 

 

 Masih Gentayangan, OJK Temukan Lagi 120 Fintek Bodong© MEN



Tongan mengimbau masyarakat terus berhati-hati dalam memanfaatkan penawaran peminjaman uang dari perusahaan fintech peer to peer lending. Hal ini mengingat tanggung jawab dalam pengembalian dana yang dipinjam.

“ Bahayanya, jika meminjam di fintech peer to peer lending ilegal, masyarakat bisa menjadi korban ancaman dan intimidasi jika menunggak pinjaman,” kata dia.

Selain fintek pinjaman, Tongam juga menemukan ada 28 kegiatan penawaran ilegal. Rinciannya, 13 perdagangan forex tanpa izin, 3 penawaran pelunasan utang, 2 investasi money game, 2 equity crowdfunding ilegal, 2 multi level marketing tanpa izin, 1 investasi sapi perah, 1 investasi properti , 1 pergadaian tanpa izin, 1 platform iklan digital, 1 investasi cryptocurrency tanpa izin, dan 1 koperasi tanpa izin.

4 dari 7 halaman

Terbongkar Investasi Bodong MeMiles, Banyak Figur Publik Terjerat

Dream - Ditreskrimsus Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) membongkar kasus investasi bodong, MeMiles, yang beromzet Rp750 miliar. Polda Jatim memanggil beberapa figur publik yang terlibat dalam promosi hingga pembelian saham investasi bodong PT Kam and Kam berbasis aplikasi pada pekan depan.

“ Kami sudah memanggil saksi beberapa nama papan atas, figur publik, atau artis inisial ED, MT, AN, dan J pada minggu depan. Masing-masing berbeda tanggalnya,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko di Surabaya, Jawa Timur, dikutip dari Liputan6.com, Jumat 10 Januari 2020.

Publik figur inisial J telah konfirmasi akan hadir pada 22 Januari, karena masih ada kesibukan.

 

 Terbongkar Investasi Bodong MeMiles, Banyak Figur Publik Terjerat© Dream

 

" Untuk konfirmasi sejauh ini, ada beberapa seperti J sudah mengonfirmasi terkait ketidakhadirannya pada penyidik untuk menunggu dari tim manajer karena ada kegiatan di Jakarta," kata Trunoyudo.

Disinggung alasan keterlibatan para figur publik ini, Truyonodo masih belum bisa menjelaskan. Alasannya proses pemeriksaan masih akan berlangsung menunggu kehadiran publik figur tersebut.

" Minimal proses keterlibatannya yaitu adanya bagian dari member, kemudian ada juga ada kegiatan yang kemungkinan bisa dikembangkan oleh penyidik, seperti apakah ada keterkaitan dengan sistem operasional PT Kam and Kam dalam akun MeMiles ini," kata dia.

5 dari 7 halaman

Kasus investasi ilegal MeMiles ini terbongkar ketika Polda Jatim mendapatkan investasi MeMiles yang belum berizin. Investasi ilegal ini menggunakan PT Kam and Kam yang berdiri delapan bulan lalu tanpa mengantongi izin.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa pemasangan iklan yang menggunakan sistem penjualan langsung melalui jaringan member dengan cara bergabung di aplikasi MeMiles. Peminatnya pun cukup besar.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menuturkan, sudah ada 264 ribu member selama delapan bulan dengan omzet Rp750 miliar.

Polda Jatim pun menangkap dua tersangka terkait kasus tersebut. Tersangka itu berinisial KTM (47) dan FS (52). “ Tersangka pernah terlibat kasus sama tahun 2015 di Polda Metro Jaya," ujar Luki.

6 dari 7 halaman

Begini Mekanismenya

Modus investasi bodong ini berjalan dengan memberikan komisi atau bonus untuk setiap anggota yang berhasil merekrut anggota baru. Jika ingin memasang iklan, anggota harus memasang top up dengan dana dimasukkan ke rekening PT Kam and Kam.

Dengan top up itu, anggota memperoleh bonus atau reward bernilai fantastik. " Dana masuk antara Rp50 ribu sampai Rp200 juta," ujar Luki.

Sistem yang dijalankan ini terbukti sukses membuat banyak masyarakat tergiur. Luki mencontohkan, hanya dengan menyetor Rp50 juta, anggota bisa memperoleh mobil seharga di atas Rp 100 juta.

“ Dalam mengusut kasus ini kami bekerja sama dengan pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” kata Luki.

Liputan6.com pun menelusuri website memiles tersebut pada Jumat, 10 Januari 2020. Dalam website dengan memiles.co, disebutkan kalau MeMiles program aplikasi yang memadukan bisnis traveling, advertising, dan market place dalam satu aplikasi. Disebutkan untuk pendaftaran dengan unggah aplikasi dan buka aplikasi.

 

7 dari 7 halaman

OJK Blokir Situs

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L.Tobing menuturkan, pihaknya sudah memblokir situs dan aplikasi MeMile melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Akan tetapi, ia menilai pelaku dapat saja membuat situs baru dan mengubah nama.

Oleh karena itu, pihaknya sudah mengumumkan ke masyarakat sejak Agustus kalau kegiatan ini ilegal sehingga masyarakat tidak ikut. Adapun pada 2019, ada sebanyak 444 entitas investasi ilegal yang dihentikan. Pada 2018 ada 108 dan 2017 ada 80 entitas. 

" Hal yang perlu adalah peran serta masyarakat agar tidak ikut MeMiles," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

(Sumber: Liputan6.com/Agustina Melani)

Terkait
Join Dream.co.id