Cerita Pedih Samsung `Bunuh` Galaxy Note 7

Dinar | Kamis, 13 Oktober 2016 12:14
Cerita Pedih Samsung `Bunuh` Galaxy Note 7

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Samsung memutuskan untuk menghentikan produksi gawai canggih tersebut.

Dream – Keputusan drastis diambil Samsung. Nasib Ponsel Cerdas keluaran terbarunya, Galaxy Note 7, harus berakhir lebih cepat. Raksasa perusahaan telekomunikasi Korea Selatan itu memutuskan menghentikan produk Note7. 

Gawai ini memang menjadi perbincangan publik akhir-akhir ini. Setelah muncul kasus kebakaran akibat baterai gawai yang kepanasan, piranti teknologi ini menjadi buah bibir.

Sorotan publik ini dimulai dari kasus meledaknya baterai lithium ion ketika ponsel tersebut tengah di­-charge di dalam mobil jeep mobil milik Nathan Dornacher—mobil tersebut dalam keadaan AC menyala.

Dilansir dari Gizmodo, Ledakan ini berujung pada hangusnya mobil Dornacher. Kejadian itu baru diketahuinya ketika pulang dari pasar dan berlangsung pada awal bulan lalu di Florida, Amerika Serikat

“ Saat balik ke mobil untuk mengambil ponsel, dari dalam mobil terlihat api dan beginilah hasilnya,” kata Dornacher di dalam akun Facebooknya.

Hampir berbarengan, ada juga kasus meledaknya Samsung Galaxy Note 7 di sebuah kamar hotel mewah di Australia. Kerusakan yang diakibatkan ledakan tersebut mencapai 1800 dolar Australia atau Rp17,7 juta.

Dua insiden ini memperparah riwayat Galaxy Note 7. Samsung menyebut ada 35 kasus serupa dan masalahnya terletak pada baterai lithium ion yang digunakan untuk gawai tersebut.

Insiden-insiden tersebut membuat sejumlah pihak mengambil langkah antisipatif. Dikutip dari Business Insider, Senin 12 September 2016, Federal Aviation Administration (FAA), menyarankan penumpang untuk tidak mengaktifkan gawai tersebut dan menyimpannya di bagasi penumpang. Imbauan ini pun diikuti oleh sejumlah maskapai, seperti Singapore Airlines, Qantas Airways, dan Delta Airlines.

“ Dilarang mengaktifkan dan mengisi daya baterai Galaxy Note 7 di semua penerbangan kami,” tulis Singapore Airlines.

Maskapai nasional pun tak ketinggalan mengikuti imbauan FAA. Garuda Airlines dan Lion Group melarang penumpang untuk mengaktifkan dan mengoperasikan gadget ini selama penerbangan.

Rentetan kejadian dan imbauan FAA membuat Samsung mengambil langkah serius.

2 dari 4 halaman

Samsung Tarik Galaxy Note 7 dari Pasar

Kejadian-kejadian kebakaran Galaxy Note 7 ini turut membuat Samsung “ kebakaran jenggot”. Samsung pun memutuskan untuk menarik kembali Samsung Galaxy Note yang telah beredar di pasar. Setelah ada imbauan FAA dan maskapai kepada konsumen untuk tidak mengaktifkan Galaxy Note 7 ini, raksasa teknologi dari Korea Selatan ini menarik semua gawai tersebut dari pasar.

Samsung menarik 1 juta unit produk tersebut dari pasar Amerika Serikat. Produsen ini pun menyediakan ponsel pengganti Galaxy Note 7 yang bermasalah itu.

“ Kami menyarankan semua konsumen menonaktfikan Galaxy Note 7. Kami sangat menyarankan semua konsume untuk menukarkan produk ini karena keselamatan Anda adalah prioritas kami,” kata Samsung dikutip dari www.samsung.com.

3 dari 4 halaman

Samsung `Bunuh` Galaxy Note 7

Samsung pun memutuskan untuk berhenti memproduksi dan menjual Galaxy Note 7 pada Selasa 11 Oktober 2016. Langkah tersebut dilakukan pasca terjadinya banyak kasus kebakaran baterai.

“ Untuk keamanan konsumen, kami menghentikan penjualan dan penggantian Galaxy Note 7 dan memutuskan menghentikan produksi,” ujar Samsung dalam keterangan tertulis, dilansir dari CNBC.

Keputusan Samsung ini pun membuat sahamnya turun lebih dari 8 persen. Tak hanya itu, nilai market capitalization perusahaan asal Negeri Gingseng ini merosot sebanyak US$18 miliar (Rp235,14 triliun).

4 dari 4 halaman

Merugi, Samsung Potong Proyeksi Laba

Dilansir CNBC, Kamis 13 Oktober 2016, insiden kebakaran baterai Galaxy Note 7 ini membuat kantong Samsung “ kebakaran”. Analis dari perusahaan keuangan, Nomura, memprediksi kerugian Samsung sebesar US$9,5 miliar (Rp121,1 miliar) dari 16 juta unit gawai yang dipasarkan ke luar negeri.

Karena rugi, Samsung merevisi target laba. Produsen ini memangkas 75 persen laba dari 7,8 triliun won (Rp90 triliun) menjadi 5,2 triliun won (Rp60 triliun) usai menghentikan produksi Samsung Galaxy Note 7 untuk selamanya setelah kasus kebakaran baterai ponsel. Pendapatannya pun direvisi turun dari 49 triliun won (Rp565,82 triliun) menjadi 47 triliun won (Rp542,73 triliun).(Sah)

Ria Irawan Larang Rano Karno Jenguk Dirinya, Kenapa?
Join Dream.co.id