Aturan Tarif Ojol Diperluas ke 41 Kota, Cek Lokasinya

Dinar | Jumat, 5 Juli 2019 14:14
Aturan Tarif Ojol Diperluas ke 41 Kota, Cek Lokasinya

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Semula, aturan ini berlaku di 5 kota.

Dream – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperluas pemberlakuan aturan baru tarif ojek online (Ojol). Kini ketentuan tarif ditetapkan berlaku di 41 kota dari sebelumnya hanya 5 kota.

Semula, aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat, baru diberlakukan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.

Dikutip dari Merdeka.com, Jumat 5 Juli 2019, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi mengatakan 41 wilayah ini terbagi menjadi zona I, II, dan III.

" Akhirnya kami dapat satu titik temu kembali dengan dua aplikator mulai 1 Juli kita sudah berlakukan kembali di 41 kota," kata Budi di Jakarta.

Usai tercapai kesepakatan tersebut, Kemenhub memastikan akan melakukan pengawasan secara ketat. Dengan begitu akan terlihat apakah survei terhadap respons pasarnya baik atau tidak dari masyarakat maupun pihak pengemudi.

" Nanti kita lakukan 2 kalau pengawasan dalam 1 bulan. 41 kota sudah kita layangkan suratnya ke aplikator pada 26 Juni 2019," kata Budi.

2 dari 7 halaman

Ini Zona yang Diatur

Budi mengatakan sebagian kota yang diatur untuk zona I antara lain adalah Banda Aceh, Medan, Batam, dan Palembang. Zona II yaitu Jabodetabek dan zona III meliputi Pontianak, Kupan, Gorontalo, dan Jayapura.

“ Sisanya, nanti,” kata dia.

Budi mengatakan pihaknya melakukan bertahap karena mempermudah pemerintah mengawasi ojek online. “ Kami berharap tidak sekaligus supaya nanti tidak ada persoalan-persoalan yang membuat kami tidak konsisten, agar regulasi itu bisa dijalankan dengan baik,” kata dia.

Seperti diketahui, ketentuan tarif yang diberlakukan nett untuk pengemudi dengan pemberlakuan biaya jasa minimal di bawah 4 kilometer (km). untuk zona I, tarif batas bawah Rp1.850 per km dengan tarif batas atas Rp2.300 per km. Biaya jasa minimal yang dikenakan Rp7 ribu—Rp10 ribu.

Sementara itu, pemberlakuan tarif batas bawah untuk zona II yaitu Rp2 ribu per km dengan ketentuan tarif batas atas Rp2.500 per km. Biaya jasa minimal yang dikenakan Rp8 ribu—Rp10 ribu. Pemberlakuan tarif ojek online batas bawah untuk zona III Rp2.100 per km dan tarif batas atas Rp2.600 per km. Biaya pemberlakuan tarif batas bawah untuk zona III Rp7 ribu—Rp10 ribu.

3 dari 7 halaman

Resmi, Tarif Batas Bawah Ojol Rp1.850 Per KM

Dream – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Ditjen Kemenhub) resmi menetapkan tarif batas atas dan batas bawah ojol. Pemerintah juga membagi tarif ojek online berdasarkan tiga zona.

Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiyadi, mengatakan, zona pertama meliputi, Sumatera, Jawa dan Bali; zona dua yakni Jabodetabek dan zona tiga Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku dan Papua.

" Masing -masing ini dibedakan besaran tarif," kata Budi di Gedung Kemenhub, Jakarta, Senin 25 Maret 2019.

Untuk tarif bawah-atas zona satu sebesar Rp1.850-Rp2.300, zona dua Rp2.000-Rp2.500 dan zona tiga sebesar Rp2.100-Rp2.600. Selain itu, biaya jasa per empat kilometer yang diterima pengemudi untuk zona satu Rp7 ribu-Rp10 ribu, zona dua Rp8 ribu-Rp10 ribu dan zona tiga Rp7 ribu sampai Rp10 ribu.

Biaya jasa minimal ini merupakan biaya jasa yang dibayarkan penumpang untuk jarak tempuh paling jauh empat kilometer.

Dalam aturan itu, pihak aplikator diberi hak untuk menambahkan tarif maksimal 20 persen. “ Kalau yang tarif batas bawah, batas atas itu net untuk pengemudi,” kata dia.

4 dari 7 halaman

Berlaku Dua Bulan Lagi

Budi menjelaskan, penentuan tarif ini sudah melalui berbagai diskusi dan riset. Dalam riset yang ada, kebanyakan penumpang di wilayah Jabodetabek menghendaki kebaikan tarif dari Rp200-Rp2.000.

“ Mengapa Jabodebek beda? Karena ojek online sudah kebutuhan primer artinya ada aspek ojek online menjadi kebutuhan saat ke feeder transportasi lain sehingga harus spesifik,” kata dia.

Aturan ini akan ditandatangani hari ini dan berlaku pada 1 Mei 2019 mendatang. Menurut Budi, aturan itu baru berlaku Mei mendatang bertujuan agar masyarakat dan pihak aplikator untuk merubah algoritma.

5 dari 7 halaman

Kemenhub Evaluasi Tarif Ojol 3 Bulan Sekali

Dream – Pemerintah telah menetapkan tarif batas bawah dan tarif batas atas ojek online (ojol). Tarif tersebut akan diberlakukan per 1 Mei 2019. Namun pemerintah akan mengevaluasi kebijakan ini secara rutin.

“ Di dalam surat keputusan itu, bahwa sampai dengan tiga bulan ke depan akan lakukan evaluasi kembali, kemudian tiga bulan evaluasi kembali,” kata Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, di Jakarta, Senin 25 Maret 2019.

Menurut Budi, setelah evaluasi, tarif akan diputuskan kembali apakah tarif batas atas dan batas bawah akan diturunkan atau tidak.

“ Evaluasi akan libatkan tim riset yang independen, hasil risetnya berpengaruh dalam revisi biaya jasa," kata dia.

Budi menerangkan, penetapan aturan tarif batas bawah-atas ini sudah melalui diskusikan dengan semua pihak, baik driver, operator dan juga penumpang.

Dalam penelitian, para penumpang hanya menghendaki adanya kenaikan ojek online sebesar Rp600 sampai Rp2 ribu saja. " Kita tidak bisa menyenangkan semua pihak, kami masih membuka diskusi," kata dia.

6 dari 7 halaman

Riset: 75 Persen Konsumen Tolak Kenaikan Tarif Ojol

Dream – Jajak pendapat yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (Rised) menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen menolak kenaikan tarif ojek online. Naiknya tarif membuat pelanggan mengeluarkan biaya lebih.

Ketua Tim Peneliti Rised, Rumayya Batubara, mengatakan, melibatkan 3.000 konsumen ojek online dalam survei ini. Para responden derasal darii Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Palembang, Malang, dan Makassar.

Hasilnya, 47,6 persen responden menyatakan hanya bersedia mengeluarkan tambahan biaya kenaikan maksimal Rp4 ribu hingga Rp5 ribu. Sementara, 27,4 persen konsumen sama sekali tidak mau ada kenaikan.

" Total persentase kedua kelompok tersebut mencapai 75 persen secara nasional,” kata Rumayya di Jakarta, Senin 6 Mei 2019.

Sejak 1 Mei lalu, Kementerian Perhubungan, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan (Kemenhub) Nomor 348 Tahun 2019 menaikkan tarif ojek online. Kenaikan tarif dibagi menjadi tiga zona.

Ketiga zona itu adalah Zona I Sumatera, Jawa dan Bali kecuali Jabodetabek, Zona II Jabodetabek, dan Zona III untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku. Aturan kenaikan tarif itu telah diumumkan oleh Kemenhub pada awal April 2019 lalu.

Bila diklasifikasikan berdasarkan zona, maka konsumen yang menolak kenaikan tarif ojek online di zona I adalah 67 persen, zona II sebanyak 82 persen, dan zona III sebesar 66 persen.

Selama ini, angka kenaikan tarif yang ditampilkan ke publik seperti zona I Rp 1.850-Rp2.300 per kilometer, zona II Rp2.000-Rp2.500, zona III Rp2.100-Rp3.125, itu tarif yang diterima oleh pengemudi.

Sementara, biaya yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk zona I Rp2.312-Rp2.875, zona II Rp2.500-3.125 dan zona III Rp2.625-Rp3.250 per kilometer.

7 dari 7 halaman

Karena Gaji?

Menurut Rumayya, alasan penolakan kenaikan tarif karena mayoritas pengguna ojol, terutama di wilayah Jabodetabek, Surabaya, dan Bandung, memiliki penghasilan menengah ke bawah.

" (Ada) 75,2 persen konsumen berpendapat (berasal dari) menengah ke bawah. Gajinya Rp2,5 juta," kata dia.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fitra Faisal, mengatakan, kenaikan tarif ojol ini harus dievaluasi karena bisa berdampak pada sektor lain. Sebab, pengeluaran transportasi menyumbang cukup besar untuk pengeluaran per bulan.

" Kenaikan tarif ojol yang cukup tinggi tentunya akan berkontribusi pada semakin tingginya tingkat inflasi. Apalagi hasil survei RISED, biaya pengeluaran transportasi sehari-hari berkontribusi sekitar 20 persen perbulannya,” kata Fithra.

Belajar Jadi Orangtua yang Lebih Baik di Fimelahood #MindfulParenting
Join Dream.co.id