Kaget Harga Tiket Pesawat Naik, Jokowi Sebut Pertamina Monopoli

Dinar | Selasa, 12 Februari 2019 13:43
Kaget Harga Tiket Pesawat Naik, Jokowi Sebut Pertamina Monopoli

Reporter : Ahmad Baiquni

Pertamina merupakan pemain tunggal penjualan avtur di bandara.

Dream - Presiden Joko Widodo mengaku kaget mengetahui tingginya harga tiket pesawat. Dalam pandangan Jokowi, hal ini bisa terjadi lantaran harga avtur yang sangat mahal.

" Saya terus terang juga kaget, dan malam hari ini juga (kemarin malam) saya baru tahu tadi dari Pak Chairul Tanjung mengenai avtur. Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta itu dimonopoli oleh Pertamina sendiri," kata Jokowi dalam sambutan Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dikutip dari setkab.go.id, Selasa 12 Februari 2019.

Harga avtur yang dijual Pertamina, kata Jokowi, lebih mahal 30 persen dibandingkan dengan harga internasional. Adanya monopoli membuat harga menjadi tidak kompetitif.

" Bandingkan harga avtur di situ dengan yang di dekat-dekat lain, terpaut kurang lebih 30-an persen," kata Jokowi.

Jokowi menilai kondisi yang terjadi harus segera dibenahi. Ini agar terciptanya daya saing yang sehat sehingga berdampak pada harga tiket pesawat yang kompetitif.

" Kalau ini terus-teruskan (dibiarkan mahal), ya nanti pengaruhnya ke harga tiket pesawat, karena harga avtur itu menyangkut 40 persen dari cost yang ada di tiket pesawat," kata dia.

Selanjutnya, Jokowi bakal memberikan opsi pada Pertamina untuk menyamakan harga avtur nasional dengan harga internasional. Jika tidak bisa, Jokowi bakal memasukkan kompetitor agar harga menjadi kompetitif.

" Semuanya memang harus ada kompetisi. Kalau ada kompetisi itu akan ada sebuah persaingan yang sehat. Kalau ada persaingan sehat, akan ada efisiensi di semua cost yang ada. Arahnya ke situ," kata dia. (ism)

 

Komentar
Beri Komentar
DEBAT CAPRES: Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan, Investasi, serta Industri Sesi 5
Join Dream.co.id
DEBAT CAPRES: Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan, Investasi, serta Industri Sesi 6